Tafsir Surah al-Mulk Ayat 3-4: Penglihatan Manusia Sangat Terbatas

3
4976

BincangSyariah.Com –Penglihatan manusia berperan penting dalam mengemban tugas khalifah fil ardh. Dari satu anugerah yang diberikan-Nya saja, beragam ilmu pengetahuan dimunculkan sekaligus keindahan segala ciptaan-Nya panorama gunung dengan hamparannya, bintang dengan keelokan sinarnya, laut dengan kebiruannya, perempuan dengan elok rupawan wajahnya dan sebagainya. Namun, siapa sangka ternyata Allah swt. menghendaki keterbatasan dalam penglihatan manusia sebagaimana yang termaktub dalam firman-Nya Surah al-Mulk ayat 3-4.

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ

ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ

Dialah yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidakkah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat. Kemudian ulangi pandangan (mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih. (Q.S. al-Mulk [67]: 3-4)

Tafsir Surah al-Mulk ayat 3-4

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut bahwa Allah swt menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kata tibaqan dimaknai bertingkat-tingkat. Sedangkan pada redaksi ma tara fi khalqir rahmani min tafawut menegaskan bahwa apa yang diciptakan-Nya sangat rapi, sempurna, tidak tumpang tindih, tidak berbeda, tidak terdapat kekurangan, dan kelemahan apalagi cacat atau retak. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya, farji’il bashara hal tara min futur artinya pandanglah langit dan lihatlah secara cermat, apakah kau temukan padanya suatu celah, cacat atau kekurangan, kelemahan bahkan keretakan?

Ibnu Abbas, Mujahid, al-Dhahhak, al-Tsauri, dan lainnya menafsiri redaksi tersebut dengan syuquq (retak-retak pada langit). Sedangkan al-Suddi menafsirkannya dengan kata khuruq (lubang-lubang). Ibn Abbas dalam suatu riwayat menyebutkan makna futur ialah celah-celah yang menganga.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Mulk [67]: 19-21: Tiga Hal yang Patut Direnungkan Manusia

Pada ayat keempat, Ibn Katsir menafsirkan karratain adalah dua kali, yakni sekali lagi dan lagi dengan cermat dan teliti. Ibn Abbas menghendaki makna redaksi yanqalib ilaikal basharu khasi’an adalah dzalilan (dalam keadaan terhina) dan wahuwa hasir dimaknai dengan kalil (penglihatannya dalam keadaan letih atau lunglai).

Mujahid, Qatadah, dan al-Suddin menafsirkan redaksi yanqalib ilaikal basharu khasi’an dengan kata shagiran (merasa kecil) dan wahuwa hasir dimaknai dengan kata al-munqathi’ min al-i’yai (penglihatannya terputus karena kepayahan). Ibn Katsir menandaskan bahwa makna ayat keempat ini ialah sekiranya engkau ulangi pandanganmu berapa kali pun banyaknya, niscaya pandanganmu dalam keadaan payah karena pasti tidak akan dijumpai kekurangan pada ciptaan-Nya.

Adapun Quraish Shihab dalam tafsirnya al-Misbah mengatakan redaksi khalaqa sab’a samawat artinya bermakna banyak tidak terbatas pada angka tujuh. Sama seperti halnya orang mengatakan 1001 macam yang berarti bermakna sangat banyak. Oleh karenanya, beliau menjelaskan bahwa segala ciptaan-Nya berjalan sesuai garis edarnya.

Dalam artian, serasi, sempurna, tidak berbeda, tidak kontradiksi apalagi saling bertabrakan. Andaikan satu saja benda langit yang bergeser atau menyalahi SOP yang ditetapkan-Nya, maka kesemuanya akan bertabrakan sehingga hancur lebur. Redaksi yanqalib ilaika, beliau menafsirkannya siapapun orangnya, baik orang biasa, cendekiawan, bergelar sarjana, bahkan profesor sekalipun pasti tak akan mampu menemukan celah kekurangan sedikitpun terhadap ciptaan-Nya dikarenakan penglihatannya dikembalikan dalam keadaan lunglai, payah dan letih (wahuwa hasir).

Hikmah Keterbatasan Penglihatan Manusia

Jika kita menyadari penglihatan sebagai anugerah Allah, maka penglihatan haruslah selalu tertuju untuk melihat tanda-tanda kebesaran-Nya. Ke manapun kita memandang, di sana selalu tampak keagungan ciptaan-Nya. Tak ada yang sia-sia pada makhluk ciptaan-Nya. Indera mata merupakan indera terkuat bagi manusia. Tapi, bukan berarti ia tak memiliki keterbatasan.

Baca Juga :  Sejarah Masuknya Islam ke Republik Siprus

Oleh karenanya, hendaknya penglihatan kita tidak digunakan untuk mencari-cari keburukan sesama. Bisa jadi keburukan manusia yang dicarinya menjadi cermin bagi diri sendiri. Marilah keselamatan hidup di dunia dan akhirat kita upayakan dengan kesadaran bahwa Allah swt senantiasa melihat segala perbuatan kita. Dialah pemilik nama al-Bashar, Maha Melihat, betapapun suatu perbuatan disembunyikan. Wallahu A’lam []

3 KOMENTAR

  1. […] Quraish Shihab dalam tafsirnya al-Misbah mengatakan bahwa Allah swt menjadikan langit sebagai sumber percikan api untuk melempar setan. Kata sama’ dalam bahasa Arab berarti segala sesuatu yang berada di atas dan menaungi. Menurut Ibnu Sidih, kata sama’ di sini bermakna angkasa luas yang berisi benda-benda langit dan percikan sinar. (Baca: Tafsir Surah al-Mulk Ayat 3-4: Penglihatan Manusia Sangat Terbatas) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here