Tafsir Surah al-Mulk Ayat 25-26: Azab Allah Itu Pasti   

0
1245

BincangSyariah.Com – Azab Allah dan nikmat-Nya adalah sesuatu yang pasti. Allah swt tidak akan mengingkari keduanya. Begitu pula, azab-Nya adalah ketetapan yang mutlak yang diberikan kepada mereka yang tidak menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Menyambung dari ayat sebelumnya, Allah swt mengatakan bahwa mereka (orang kafir) akan dikumpulkan di hadapan-Nya kelak hari kiamat nanti untuk diazab dan diadili. Kemudian, orang kafir menagih perkataan Allah swt sebagaimana termaktub dalam ayat di bawah ini,

وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هٰذَا الْوَعْدُ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ قُلْ اِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللّٰهِ ۖوَاِنَّمَآ اَنَا۠ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ

Dan mereka berkata, “Kapan (datangnya) ancaman itu jika kamu orang yang benar?” Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya ilmu (tentang hari Kiamat itu) hanya ada pada Allah. Dan aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.” (Q.S. al-Mulk [67]: 25-26) (Baca: Tafsir Surah al-Mulk Ayat 24: Tanpa Allah, Mustahil Manusia Dapat Berkembang Sendiri)

Tafsir Surah al Mulk Ayat 25-26

Kedua ayat ini turun berkenaan dengan pertanyaan orang kafir yang bernada mengejek dan menentang tentang kapan waktunya ditimpakan kepada mereka azab yang mengerikan itu. Kapan pula datangnya hari kiamat di mana seluruh manusia akan diadili dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mereka minta dijelaskan semuanya, jika Nabi saw termasuk utusan Allah swt yang dapat dipercaya perkatannya. Dari beberapa pertanyaan itu dapat dipahami bahwa mereka menentang risalah kebenaran yang dibawa Rasulullah saw, sebab menurutnya ancaman yang dinisbahkan pada mereka mustahil terjadi atau hanya lelucon belaka.

Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menafsirkan ayat ke-25 adalah jika memang terjadi apa yang Rasulullah sawt beritakan kepada kami, akankah Allah swt sanggup menghimpun kami kembali yang sudah bercerai-berai?. Lalu pada ayat selanjutnya dijawab oleh Rasul saw, bahwa tiada seorang pun yang pasti mengetahuinya dengan tepat selain Allah swt semata. Rasul saw. menambahkan, bahwa Ia hanya bertugas sebagai pemberi informasi kepada mereka bahwa hari kiamat dan azab kepada mereka pasti akan terjadi.

Baca Juga :  Hakikat Simbol Salib Menurut Imam Ibnu Arabi

Penafsiran yang lain dipaparkan oleh Ibnu Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir, bahwa kata al-wa’du pada ayat ke-25 merupakan mashdar (kata asli) yang bermakna isim maf’ul (menunjukkan suatu peristiwa/ perbuatan). Maka, kata wa’du dalam konteks ayat ini bermakna ancaman. Ancaman Allah swt kepada orang kafir bahwa mereka kelak pada hari kiamat akan dikumpulkan dan diadili di hadapan-Nya. Sedangkan maksud yang dikehendaki dalam redaksi mata haadzal wa’du (kapan datangnya ancaman itu) adalah merujuk pada ayat sebelumnya (ayat 24) “wa ilaihi tuhsyarun”. Ibnu Asyur menambahkan, secara tersirat ayat ini hendak menunjukkan bahwa Allah menjanjikan kemenangan kaum muslimin (nashril muslimin) terhadap orang-orang kafir.

Selanjutnya pada ayat ke-26, redaksi innamal ‘ilmu ‘indallah ditafsirkan oleh Ibnu Asyur, perintah kepada Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan informasi kepada mereka sebagai respon atas pertanyaan tersebut bahwa pengetahuan tentang hari kiamat hanyalah Allah swt yang mengetahui. Sedangkan redaksi wa innama ana nadzirun mubin, Ibnu Asyur memaknainya sebagai qashr idhafy (tambahan singkat). Artinya, Rasulullah saw tidak lain hanya bertugas sebagai pemberi peringatan kepada mereka.

Berbeda dengan Ibnu Asyur, al-Qurthuby misalnya lebih memaknai ayat ke-25 sebagai istihza’ (ejekan, cemoohan) kepada orang kafir bahwa ketika terjadi hari kebangkitan, Allah swt menjanjikannya adzab yang sangat pedih. Sedangkan pada ayat ke-26, bahwa pengetahuan tentang hari kiamat hanyalah Allah yang pasti mengetahui. Sedangkan Rasulullah saw tidak lain hanya sebagai makhufun (pembuat cemas) bagi kekafiran mereka sekaligus mu’allim (guru) bagi mereka jika mereka sudi untuk bertobat.

Sejalan dengan al-Qurthuby, Muhamamd ‘Ali al-Shabuny dalam Shafwah al-Tafasir menjelaskan bahwa ayat ke-25 sebagai bentuk hasyr (pengusiran) dan jaza’ (pembalasan) terhadap orang-orang kafir dan azab yang telah disediakan untuk mereka. Sedangkan ayat ke-26 sebagai bentuk istihza (ejekan, cemoohan) kepada mereka.

Baca Juga :  Kisah Masyarakat yang Meremehkan Social Distancing pada Masa Ibnu Hajar

Azab Allah itu Pasti

Meskipun konteks kedua ayat di atas ditujukan kepada orang kafir, tetapi tidak ada salahnya dijadikan bahan renungan untuk kita bersama Setiap perbuatan kita pasti ada balasannya baik terpuji maupun tercela. Hal itulah yang mendasari adanya peringatan agar manusia berhati-hati dalam ucapan dan perbuatan sebagaimana peringatan Rasul saw kepada mereka yang mengingkari risalah-Nya. Jika larut dalam perbuatan buruk atau kemaksiatan, maka azab pasti datang. Begitu sebaliknya, jika cepat untuk bertobat dan menyesali dosa-dosanya, maka ampunan dan nikmat Allah swt telah menanti kita. Semoga kita termasuk golongan hamba-Nya yang mengindahkan peringatan Allah swt. Aamiin. Wallahu A’lam []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here