Tafsir Surah al-Mulk Ayat 24: Tanpa Allah, Mustahil Manusia Dapat Berkembang Sendiri

2
1473

BincangSyariah.Com – Dalam kehidupan Allah swt menjadikan manusia berkembang biak sedemikian banyak jumlahnya seperti saat ini. Sehingga menjadi beraneka ragam ras, agama, suku, budaya, warna kulit, dialek dan bahasa. Tanpa, campur tangan Allah swt mustahil manusia dapat mewujudkan dirinya sendiri di muka bumi. Fase kehidupan manusia pun telah digariskan-Nya, yaitu terlahir, hidup, tumbuh-kembang, menua, dan meninggal menghadap ilahi-Nya sebagaimana firman Allah swt yang termaktub dalam Q.S. al-Mulk [67]: 24,

قُلْ هُوَ الَّذِيْ ذَرَاَكُمْ فِى الْاَرْضِ وَاِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ

Katakanlah, “Dialah yang menjadikan kamu berkembang di muka bumi, dan hanya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan.” (Q.S. al-Mulk [67]: 24)

Tafsir Surah al-Mulk Ayat 24

Dalam tafsir kemenag dijelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah kepada Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan informasi kepada orang kafir bahwa Allah lah yang menciptakan mereka semua dalam bentuk yang bermacam-macam, baik warna kulit, suku, ras, maupun  sosial-budaya. Menyediakan tempat tinggal bagi mereka di bumu dan menyebarkan mereka semua se-antero bumi. Allah pulalah yang memudahkan mereka untuk menguasai dan mengelola bumi sebagai bekal kebutuhan hidup mereka. Maka, di akhir ayat itu, Allah swt menutupnya dengan redaksi wa ilaihi tuhsyarun, bermakna bahwa hanya kepada Allah lah mereka kembali dan mempertanggungjawabkan semua amal perbuatannya di hadapan-Nya.

Senada dengan tafsir kemenag, Ibnu Katsir memaknai redaksi dzara’akum fil ardh adalah menyebarkan dan mengembangbiakkan manusia di berbagai penjuru muka bumi dengan beragam bahasa, dialek, warna kulit, penampilan, postur tubuh dan bentuk yang berbeda-beda. Sedangkan wa ilaihi tuhsyarun, dimaknai bahwa setelah manusia itu menyebar, tercerai-berai, dan terpisah-pisah, lalu kemudian Allah himpun manusia, Allah kumpulkan manisia dan Allah swt bangkitkan manusia pada hari kiamat nanti di padang mahsyar untuk dihisab amal perbuatannya.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al Mulk Ayat 23: Inilah Tiga Alat Penalaran Manusia

Al-Thabari menafsirkan kata dzara’a dengan khalaqa bahwa Allah lah yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi termasuk manusia. Sedangkan redaski wa ilaihi tuhsyarun bermakna Pada hari kiamat nanti manusia akan dikumpulkan untuk dihisab dan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya.

Berbeda dengan al-Thabari, Ibnu Asyur dan al-Thanthawi menafsirkan kata dzara’a dengan al-iktsar min al-maujud, artinya mengalami penambahan jumlah dari yang ada. Dalam konteks ini, manusia sejak awal mula penciptaannya, jumlahnya terus meningkat hingga kini populasinya 7 milyar jiwa manusia. Jumlah penduduk Indonesia sendiri mencapai 267 juta jiwa. Adapun redaksi dzara’akum fil ardh termasuk shighat qashr (penonjolan kata). Kata dzara’a (pengembangbiakan) merupakan bentuk derivasi dari kata khalaqa (pencipta). Sedangkan wa ilaihi tuhsyarun dimaknai bahwa tidak ada tempat kembali dan berkumpul selain kepada Allah swt semata. Jadi, setelah Allah swt menciptakan atau mengembangbiakkan manusia di muka bumi, lalu mematikannya, dibangkitkan kembali, manusia lalu dikumpulkan di padang mahsyar untuk diadili sesuai amal perbuatannya.

Sejatinya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua yang terjadi di dunia ini atas izin dan kehendak Allah. Bahkan tidak ada daun yang jatuh, atau debu yang beterbangan tanpa seizin-Nya. Semuanya ada dan dalam genggaman-Nya. Termasuk pengembangbiakkan manusia di muka bumi, tak terlepas dari peran-Nya. Bahkan Allah swt sendiri menegaskan dalam ayat itu bahwa hanya Dia lah yang mengembangbiakkan manusia di muka bumi. Manusia mustahil dapat mewujudkan dirinya sendiri. Semua amal perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapanNya. Dan hanya kepada Allah lah manusia itu kembali. Wallahu A’lam.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here