Tafsir Surah Al-Mulk Ayat 2: Pentingnya Menjaga Kualitas

0
3152

BincangSyariah.Com – Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan dalam memahami makna hidup ini. Pada umumnya, manusia tidak mengetahui banyak hal tentang makna dari hidup ini, yang diketahui hanyalah realitas yang nampak saja. Makna hidup dalam Islam tak sekadar hanya berjuang untuk mempertahankan hidup, akan tetapi hidup yang berkualitas “memberi kemanfaatan dan pencerahan kepada sesama”.

Tafsir Surah al-Mulk ayat 2

Allah swt. menuntut hamba-Nya untuk mengerjakan dan memprioritaskan ibadah serta kegiatan yang berkualitas. Sebagaimana firman-Nya di bawah ini,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Dialah (Tuhan) yang menjadikan kematian dan kehidupan, untuk menguji kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia Mahaperkasa, lagi Maha Pengampun. (Q.S. al-Mulk [67]: 2).

Berkenaan dengan ayat di atas, Tafsir Ibn Katsir menafsirkan kata ‘amalan sebagai amalan yang baik (ahsan) ialah sebaik-baik amla dan bukan sebanyak amal. Artinya, amal yang berkualitas lebih diutamakan ketimbang kuantitas atau banyaknya amalan.

Imam al-Qurthuby dalam tafsirnya menjelaskan makna penggalan ayat liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalan adalah yang paling banyak mengingat kematian, paling baik persiapannya, dan paling takut serta waspada terhadapnya. Lalu Imam al-Qurthuby menambahkan pendapat Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw. ketika membaca ayat pertama surah al-Mulk sampai pada redaksi liyabluwakum, lantas bersabda: “Yang paling menjaga diri dari perkara yang diharamkan oleh Allah swt dan yang paling bersegera dalam melakukan ketaatan kepada Allah swt.”

Sedangkan Imam al-Tustari dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim memaknai redaksi liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalan sebagai amal yang terjaga dari hal-hal yang sifatnya syubhat (tidak jelas) apalagi haram dan amal yang ikhlas.

Selanjutnya al-Alusi dalam Kitab Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-Adzim wa al-Sab’i al-Matsani, memaparkan kata liyabluwakum bermakna bahwa Allah akan melakukan sesuatu untuk menguji kalian sehingga ia tercapai tujuan untuk mengetahui ayyukum ahsanu ‘amalan. Makna ‘amalan di sini ialah perkara yang mencakup amal hati dan anggota badan.

Baca Juga :  Terkubur 31 Tahun, Jasad Kiai NU Masih Tetap Utuh

Pentingnya Menjaga Kualitas

Islam sangat menekankan kualitas dalam setiap hal. Hal ini telah disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Sesungguhnya, Allah itu suci lagi bersih dan Allah tidak akan menerima, kecuali yang suci bersih pula.” (Baca: Doa Setelah Membaca Surah Al-Mulk)

Pada zaman Nabi saw, para sahabat sering kali membawa buah kurma yang baru mereka petik untuk dibawah ke masjid supaya dimakan oleh fakir miskin. Pada suatu hari, salah seorang dari mereka membawa buah kurma dengan kualitas yang rendah ke masjid. Pemberian yang tidak berkualitas ini ditegur oleh Allah melalui firman-Nya dalam Surah al-Baqarah ayat 267, “Wahai mereka yang beriman, nafkahkanlah di jalan Allah sebagian hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Janganlah kamu memilih yang buruk-buruk, lalu kamu nafkahkan sedangkan kamu sendiri enggan mengambilnya kecuali dengan memejamkan mata terhadapnya…” Kisah ini diriwayatkan oleh Imam al-Hakim.

Tatkala berbicara kualitas, saya teringat akan satu bait syair yang terdapat dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim karya Syaikh Muhammad bin Hasan sebagai berikut,

فَإِنَّ فَقِيْهًا وَاحِدًا مُتَوَرِّعًا # أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدِ

Maka sesungguhnya satu ahli faqih (berilmu) lagi wara’ itu lebih berat bagi syaitan daripada seribu orang yang ahli ibadah.

Syair tersebut mempertegas bahwa satu orang yang berilmu atau berkualitas lagi wara’ (menjaga diri dari perkara syubhat atau tidak jelas) itu lebih berat bagi syaitan untuk menggodanya ketimbang seribu orang yang ahli ibadah.

Dengan demikian, seorang muslim dituntut untuk senantiasa meningkatkan kualitas hidupnya sehingga keberadaannya bermakna dan bermanfaat tidak hanya kepada Allah swt, melainkan kepada sesama. Untuk mencapai derajat kebermanfaatan tersebut, maka setiap muslim diwajibkan beribadah, bekerja, berkarya serta berinovasi dalam bingkai amal shalih. Semoga kita semua termasuk golongan hamba-Nya yang ahsanu ‘amalan. Aamiin.

Baca Juga :  Besok Haul yang ke-50, Ini Profil Mama Ajengan Masthuro

Wallahu A’lam []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here