Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 8-10: Hari Ditiupnya Sangkakala yang Kedua

3
120

BincangSyariah.Com – Dalam ayat sebelumnya, terdapat penjelasan bahwa Nabi Muhammad diperintahkan untuk mengagungkan Allah Swt., membersihkan jiwa dari segala perbuatan tercela, menjauhi sesembahan orang musyrik, dan tidak mengharap kembali atas harta yang telah diberikan. Selain itu, Allah juga mengimbau Nabi Muhammad agar senantiasa bersabar dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, serta bersabar atas perilaku buruk orang-orang kafir kepada beliau.

Setelah selesai memberikan tuntunan kepada Nabi–selaku panutan umat–, Allah kemudian menjelaskan janji-Nya bagi orang-orang yang pantas celaka. Yaitu orang-orang yang berlaku buruk terhadap Nabi, serta tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Muddatstsir ayat 8-10;

فَإِذَا نُقِرَ فِی ٱلنَّاقُورِ ۝  فَذَ ٰ⁠لِكَ یَوۡمَىِٕذࣲ یَوۡمٌ عَسِیرٌ ۝  عَلَى ٱلۡكَـٰفِرِینَ غَیۡرُ یَسِیرࣲ ۝

Faidza nuqira fin naqur (8) Fadzalika yaumaidzin yaumun ‘asir (9) ‘Alal kafirina ghairu yasir (10)

Artinya:

“Maka apabila sangkakala ditiup, (8) maka itulah hari yang serba sulit (9) bagi orang-orang kafir tidak mudah (10)” [Q.S. Al-Muddatstsir (74): 8-10]

Menurut Imam Ibnu ‘Asyur, ayat 8-10 ini masih menjadi bagian dari cara-cara yang diajarkan Allah kepada Nabi Muhammad dalam memberikan peringatan kepada kafir Makkah. Sedangkan menurut Imam Az-Zamakhsyari dalam Tafsir Al-Kassyaf, surah Al-Muddatstsir ayat 8-10 ini merupakan penjelasan dari kesabaran Nabi. Yakni bersabar dari perilaku buruk orang-orang kafir terhadap beliau.

Apabila mengikuti penjelasan dalam Tafsir Al-Kassyaf, maka ayat 8-10 ini memiliki hubungan erat dengan surat Al-Muddatstsir ayat 7. Dengan adanya hubungan di antara keduanya, maka dapat dimengerti bahwa pada mulanya Nabi Muhammad diimbau untuk tetap bersabar saja, meski terus mendapat perlakuan buruk dari orang-orang kafir.

Karena di hadapan mereka, kelak akan ada hari yang sangat berat, sebagai balasan perilaku mereka terhadap Nabi Muhammad. Hari yang sangat berat itu ialah hari di mana ditiupkan sangkakala untuk yang kedua kalinya. Penafsiran Az-Zamakhsyari yang mengaitkannya dengan ayat sebelumnya ini juga disebutkan oleh Imam Ibnu ‘Asyur dalam Tafsir At-Tahrir wat Tanwir.

Berkaitan dengan surah Al-Muddatstsir ayat 8, Imam Ibnu Katsir menyebutkan hadis yang bersumber dari Ibnu Abbas. Rasulullah Saw., bersabda:

Baca Juga :  Tafsir Al-Qoriah Ayat 1-5: Gambaran Kondisi Hari Kiamat

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: (فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ) فَقَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ وَحَنَى جَبْهَتَهُ، يَنْتَظِرُ مَتَى يُؤْمَرُ فَيَنْفُخُ؟ ” فَقَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَمَا تَأْمُرُنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: “قُولُوا: حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا”.

Dari Ibnu Abbas, (faidza nuqira fin naqur), Rasulullah bersabda: “Bagaimana aku bisa hidup nikmat? Sedangkan malaikat Israfil telah menggenggam sangkakala dan mengernyitkan dahinya, sembari menunggu kapan ia diperintah untuk meniupnya.” Kemudian para sahabat bertanya: “Apakah yang engkau anjurkan untuk kami lakukan, wahai Rasulullah?” Nabi Muhammad Saw., bersabda: “Ucapkanlah! (Cukuplah Allah sebagai Penolong kami dan sebaik-baik Pelindung. Dan hanya kepada Allah kami berserah diri)”.

Lafal “an-naqur” diartikan Imam Ibnu ‘Asyur sebagai sangkakala yang bentuk tanduk amat besar, dan biasa digunakan untuk memanggil bala tentara supaya berkumpul. Sehingga apabila sangkakala ditiupkan yang kedua kalinya, maka manusia akan dibangkitkan kembali dan dikumpulkan di suatu tempat yang sangat luas.

Sebenarnya masih terdapat perbedaan tentang waktu ditiupnya sangkakala dalam ayat tersebut. Ada yang menyebutkan bahwa maksud ayat ini ialah ditiupnya sangkakala yang pertama, ada juga yang kedua. Akan tetapi secara umum, para ahli tafsir kebanyakan lebih condong dengan pendapat yang mengatakan bahwa ayat ini menjelaskan tentang peniupan sangkakala yang kedua.

Hari ditiupnya sangkakala yang kedua ini merupakan hari yang sangat berat, terutama bagi orang-orang kafir. Menurut Imam Fakhruddin Ar-Razi, hal itu lantaran pada hari tersebut orang-orang kafir akan diuji, dihisab, ditunjukkan catatan amalnya, digelapkan wajahnya, dan tak bisa lagi berdusta karena anggota tubuhnyalah yang akan berbicara dan menjadi saksi perbuatannya.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Rahman Ayat 70-78; Deskripsi Bidadari Surga

Penafsiran bahwa hari tersebut sangat berat bagi orang-orang kafir ini sejalan dengan firman Allah Swt., dalam surah Al-Qamar ayat 7-8

خُشَّعًا أَبۡصَـٰرُهُمۡ یَخۡرُجُونَ مِنَ ٱلۡأَجۡدَاثِ كَأَنَّهُمۡ جَرَادࣱ مُّنتَشِرࣱ ۝  مُّهۡطِعِینَ إِلَى ٱلدَّاعِۖ یَقُولُ ٱلۡكَـٰفِرُونَ هَـٰذَا یَوۡمٌ عَسِرࣱ ۝

“Pandangan mereka tertunduk, ketika mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka belalang yang beterbangan (7) dengan patuh mereka segera datang kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata, “Ini adalah hari yang sulit.” (8)” [Q.S. Al-Qamar (54) 7-8]

Apabila beratnya hari tersebut hanya dikhususkan bagi orang-orang kafir saja, maka dapat dimengerti sebuah isyarat bahwa hari tersebut akan ringan bagi orang-orang beriman. Tetapi juga ada kemungkinan bahwa hari bersebut berat secara keseluruhan, baik mukmin maupun kafir. Kemungkinan ini disebutkan oleh Imam Ar-Razi karena terdapat suatu riwayat yang menjelaskan bahwa para Nabi saja bisa terkaget ketika hari ditiupnya sangkakala.

Diceritakan, bahwa suatu saat, Zuharah ibn Aufa, seorang hakim kota Bashrah, pernah mengimami jamaah shalat subuh dengan membaca surah Al-Muddatstsir. Ketika sampai pada ayat 8-10, ia merintih sedih hingga ia terjungkal dan tak bernyawa lagi.

Wallahu a’lam bis shawab.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here