Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 48-56: Syafaat bagi Para Penghuni Neraka

0
181

BincangSyariah.Com – Sebelumnya telah dijelaskan tentang siapa saja yang disebut Al-Qur’an sebagai golongan kanan (ashabal yamin). Juga telah disebutkan siapa saja orang yang ditempatkan Allah Swt. di neraka Saqar, yang kemudian ditanyai oleh ashabal yamin. Di antara mereka adalah orang-orang yang tidak melaksanakan shalat, orang yang tidak mau mentasarufkan hartanya untuk orang miskin, orang yang berbuat kebatilan bersama dengan golongannya, serta orang yang mendustakan kebenaran hari kiamat.

Perilaku tersebut yang menjerumuskan orang-orang berdosa menjadi penghuni neraka Saqar. Dalam keadaan tersebut, tak bermanfaat lagi bagi mereka, syafaat (pertolongan) dari para pemberi syafaat. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Muddatstsir ayat 48-56;

فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَـٰعَةُ ٱلشَّـٰفِعِینَ ۝  فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِینَ ۝  كَأَنَّهُمۡ حُمُرࣱ مُّسۡتَنفِرَةࣱ ۝  فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ۝  بَلۡ یُرِیدُ كُلُّ ٱمۡرِئࣲ مِّنۡهُمۡ أَن یُؤۡتَىٰ صُحُفࣰا مُّنَشَّرَةࣰ ۝  كَلَّاۖ بَل لَّا یَخَافُونَ ٱلۡـَٔاخِرَةَ ۝  كَلَّاۤ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةࣱ ۝  فَمَن شَاۤءَ ذَكَرَهُۥ ۝  وَمَا یَذۡكُرُونَ إِلَّاۤ أَن یَشَاۤءَ ٱللَّهُۚ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ۝

Fama tanfa’uhum syafa’atusy syafi’in (48) fama lahum ‘anidz tadzkirati mu’ridhin (49) kaannahum humurun mustanfirah (50) farrat min qaswarah (51) bal yuridu kullum riin minhum an yu’ta shuhufan mustanfirah (52) kalla, bal la yakhafunal akhirah (53) kalla, innahu tadzkirah (54) faman syaa dzakarah (55) wa ma yadzkuruna illa an yasyaallah, huwa ahlut taqwa wa ahlul maghfirah (56)

Artinya:

Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat (pertolongan) dari orang-orang yang memberikan syafaat. (48) Lalu mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? (49) seakan-akan mereka keledai liar yang lari terkejut, (50) lari dari singa. (51) Bahkan setiap orang dari mereka ingin agar diberikan kepadanya lembaran-lembaran (kitab) yang terbuka. (52) Tidak! Sebenarnya mereka tidak takut kepada akhirat. (53) Tidak! Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar suatu peringatan. (54) Maka barangsiapa menghendaki, tentu dia mengambil pelajaran darinya. (55) Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya (Al-Qur’an) kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dialah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan yang berhak memberi ampunan. (56) [Q.S. Al-Muddatstsir (74): 48-56]

Baca Juga :  Rutin Baca Zikir Ini Akan Mudah Dapatkan Pertolongan Rasulullah di Hari Kiamat

Tidak memperolehnya syafaat (pertolongan) dari pemberi syafaat, menurut Imam Ibnu Katsir, karena mereka tidak lagi termasuk orang yang berhak memperoleh syafaat. Memahami redaksi “fama tanfa’u syafa’atusy syafiin” yang berada setelah ayat “kullu nafsin bima kasabat rahinah”, Imam Ibnu ‘Asyur memberikan simpulan dalam Tafsir At-Tahrir wat Tanwir, bahwa orang-orang yang tidak memperoleh syafaat itu, maka sama dengan selamanya mereka akan berada di neraka.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwasanya khusus bagi orang yang mati dalam keadaan kafir, maka tempatnya adalah di neraka. Tiada tempat yang lebih pantas bagi mereka kecuali neraka. Semoga Allah senantiasa memberikan perlindungan kepada kita supaya terhindar dari azab tersebut. Amin.

Orang-orang musyrik yang tidak mendapatkan syafaat itu sejatinya sudah berkali-kali diberikan peringatan akan datangnya hari akhir. Tetapi mereka selalu berpaling, menolak peringatan yang disampaikan kepadanya. Hal ini merupakan maksud dari kalimat tanya dalam ayat 49, “fa ma lahum ‘anidz tadzkirati mu’ridhin”. Bahkan berpalingnya mereka dari perkara nyata itu diibaratkan seperti keledai yang lari terbirit-birit dengan sendirinya tatkala bertemu dengan singa yang siap untuk menerkamnya.

Dalam kitab Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul, sebab turunnya surah Al-Muddatstsir ayat 52 disebutkan bahwa, orang-orang kafir Quraisy pernah bertanya, “Jikalau Muhammad memang benar, maka tatkala kita bangun dari tidur di pagi hari, bisakah ia mendatangkan lembaran yang tercantum di dalamnya bahwa kita terbebas dari neraka?” Setelah orang kafir Qurais bertanya demikian, maka turunlah surah Al-Muddatstsir ayat 52, “bal yuridu kullum riin minhum an yu’ta shuhufan mustanfirah”.

Apabila mengikuti pendapat Qatadah, maka maksud dari ayat 52 adalah orang-orang kafir menginginkan untuk dibebaskan dari ancaman neraka. Sedangkan jika mengikuti pendapat Imam Mujahid, sebagaimana disebutkan dalam Hasyiyah Ash-Shawi, orang kafir menginginkan supaya diberikan kepada mereka sebuah kitab, sebagaimana kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Penafsiran ini didasarkan pada firman Allah Swt.;

Baca Juga :  Tiga Kategori Mati Syahid yang Perlu Anda Ketahui

وَإِذَا جَاۤءَتۡهُمۡ ءَایَةࣱ قَالُوا۟ لَن نُّؤۡمِنَ حَتَّىٰ نُؤۡتَىٰ مِثۡلَ مَاۤ أُوتِیَ رُسُلُ ٱللَّهِۘ ٱللَّهُ أَعۡلَمُ حَیۡثُ یَجۡعَلُ رِسَالَتَهُ

“Dan apabila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata, “Kami tidak akan percaya (beriman) sebelum diberikan kepada kami seperti apa yang diberikan kepada rasul-rasul Allah.” Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya.” [Q.S. Al-An’am (6): 124]

Tetapi Allah Swt. dengan tegas menolak keinginan mereka dengan firman-Nya dalam surah Al-Muddatstsir ayat 53-56. Perilaku orang-orang kafir menunjukkan bahwa mereka tidak percaya dengan adanya akhirat. Ketidakpercayaan mereka akan adanya hari akhir inilah yang sesungguhnya merusak mereka sendiri.

Mereka juga sudah diperingatkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi masih saja mereka tak percaya. Padahal Al-Qur’an adalah sebenar-benarnya peringatan. Maka barang siapa yang berkehendak benar, ia pasti akan memikirkan dan mengambil pelajaran darinya.

Tidaklah mereka mampu memikirkan dan mengambil pelajaran darinya kecuali Allah menghendakinya. Sebagaimana dalam firman Allah Swt.;

وَمَا تَشَاۤءُونَ إِلَّاۤ أَن یَشَاۤءَ ٱللَّهُ

“Tetapi kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah.” [Q.S. Al-Insan (76): 30]

Karena hanya Allah Swt., Zat yang berhak ditakuti, dengan cara menyembah-Nya, mengikuti perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Juga yang berhak memberikan ampunan atas dosa-dosa orang yang telah bertobat dan kemudian bertakwa kepada-Nya. Penafsiran ayat terakhir surah Al-Muddatstsir ini senada dengan hadis yang bersumber dari Anas bin Malik. Berkenaan dengan ayat ini, Rasulullah bersabda;

قَالَ رَبُّكُمْ: “أَنَا أَهْلٌ أَنْ أُتَّقَى، فَلَا يُجْعَلْ مَعِي إِلَهٌ، فَمَنِ اتَّقَى أَنْ يَجْعَلَ مَعِي إِلَهًا كَانَ أَهْلًا أَنْ أَغْفِرَ لَهُ”

Tuhan kalian telah berfirman, “Aku adalah Tuhan Yang berhak (kamu) bertakwa kepada-Nya, makajanganlah seseorang menjadikan Tuhan lain bersama-Ku. Maka barang siapa yang bertakwa kepada-Ku, hingga ia tidak menjadikan Tuhan lain bersama-Ku, maka dia adalah orang yang berhak mendapat ampunan (dari-Ku).” [H.R. Ahmad, Tirmizi & Ibnu Majah]

Baca Juga :  Apa Sebenarnya Perbedaan antara Haji dan Umrah ?

Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here