Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 38-47: Siapa yang Termasuk Ashabul Yamin?

0
919

BincangSyariah.Com – Pada hari kiamat kelak, setiap orang tentunya akan diminta pertanggungjawaban atas yang telah dilakukannya selama di dunia. Tak peduli ia yang secara zahir termasuk orang beriman, orang kafir yang jelas durhaka kepada Allah dan kepada manusia, maupun yang sepertinya tidak durhaka kepada manusia. Tak seorang pun dapat luput untuk diminta pertanggungjawaban.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Muddatstsir ayat 38-47;

كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِینَةٌ ۝  إِلَّاۤ أَصۡحَـٰبَ ٱلۡیَمِینِ ۝  فِی جَنَّـٰتࣲ یَتَسَاۤءَلُونَ ۝  عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِینَ ۝  مَا سَلَكَكُمۡ فِی سَقَرَ ۝  قَالُوا۟ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّینَ ۝  وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِینَ ۝  وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَاۤىِٕضِینَ ۝  وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِیَوۡمِ ٱلدِّینِ ۝  حَتَّىٰۤ أَتَىٰنَا ٱلۡیَقِینُ ۝

Kullu nafsin bima kasabat rahinah (38) illa ashabal yamin (39) fi jannatin yatasaalun (40) ‘anil mujrimin (41) ma salakakum fi saqar (42) qalu lam naku minal mushallin (43) walam naku nuth’imul miskin (44) wa kunna nakhudhu ma’al khaidhin (45) wa kunna nukaddzibu bi yaumid din (46) hatta atanal yaqin (47)

Artinya:

Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya, (38) kecuali golongan kanan, (39) berada di dalam surga, mereka saling menanyakan, (40) tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, (41) ”Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam (neraka) Saqar?” (42) Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, (43) dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin, (44) bahkan kami biasa berbincang (untuk tujuan yang batil), bersama orang-orang yang membicarakannya, (45) dan kami mendustakan hari pembalasan, (46) sampai datang kepada kami kematian.” (47) [Q.S. Al-Muddatstsir (74): 38-47]

Lafal “kullu nafsin bima kasabat rahinah”, ditafsirkan oleh Imam Ibnu Katsir bahwa setiap orang pada hari kiamat akan bergantung pada amal perbuatannya sendiri. Karena setiap ketentuan yang bersifat umum biasanya dijumpai sebuah pengecualian (kullu amrin mustatsnayat), maka dalam hal ini yang dikecualikan adalah orang-orang golongan kanan (ashabal yamin).

Baca Juga :  Prof. K.H. Anwar Musaddad: Kyai Kharismatik Asal Garut Pengembang Universitas Islam

Terkait siapa saja yang termasuk golongan “ashabal yamin”, Imam Fakhruddin Ar-Razi menyebutkan beberapa penafsiran ulama terkalit lafal tersebut. Pertama, menurut Ibnu Abbas, yaitu orang-orang mukmin. Kedua, menurut Al-Kalbi, yaitu orang-orang yang berpegang teguh pada janji Nabi Adam a.s. Ketiga, menurut Muqatil, yaitu orang-orang yang taat dengan pesan yang terkandung dalam kitab-kitab yang mereka imani, tanpa menggantungkannya dengan perbuatan dosa. Keempat, menurut Ibnu Abbas lagi, yaitu para malaikat. Kelima, merurut Ibnu Umar dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yaitu anak-anal kecil orang muslim.

Menanggapi pendapat yang kelima, yaitu diartikannya “ashabal yamin” dengan “athfalul muslimin”, Imam Al-Farra’ mengajukan beberapa alasan pendukungnya. Di antaranya ialah karena anak-anak orang muslim yang masih kecil belum dibebani dengan dosa. Karena mereka belum memahami dosa, maka mereka di surga bertanya-tanya kepada penghuni neraka, “apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam neraka Saqar?”, (ma salakakum fi saqar).

Orang-orang golongan kanan itu, ketika melihat para penghuni neraka, dari gedung-gedung di surga mereka saling bertanya-tanya tentang hal yang menjadikan para pendosa itu ditempatkan di neraka Saqar. Mendengar pertanyaan orang-orang golongan kanan, para penghuni neraka pun menjawab dan menjelaskan bahwa ketika di dunia, merka bukan termasuk orang yang melaksanakan shalat.

Ada juga yang menjawabnya, “kami bukanlah orang yang memberi makan miskin”. Maksud tidak memberi makan orang miskin ini diartikan oleh Imam Ahmad bin Muhammad Ash-Shawi sebagai orang-orang yang meninggalkan ibadah wajib, seperti zakat. Karena salah satu orang yang berhak menerima zakat ialah orang-orang miskin.

Kemudian ada yang ketika di dunia senantiasa membicarakan kebatilan dan berbuat kebatilan bersama-sama dengan golongan tukang berbuat kebatilan. Selain itu juga ada yang ketika di dunia mendustakan ancaman tentang adanya hari kiamat. Sebagaimana orang-orang yang dijelaskan dalam bagian awal surah Al-Muddatstsir.

Baca Juga :  Nasehat Imam Ghazali agar Menjaga Mata dari Empat Hal Ini

Kelakuan mereka itu selalu dilakukan hingga ajal menjemputnya. Inilah maksud dari surah Al-Muddatstsir ayat 47, “hatta atanal yaqin”. Lafal “al-yaqin” diartikan dengan kematian, karena termasuk perkara yang meyakinkan ialah kematian. Penafsiran ini sejalan dengan yang dimaksud dalam firman Allah Swt.;

وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ یَأۡتِیَكَ ٱلۡیَقِینُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.” [Q.S. Al-Hijr (15): 99]

Juga sebagaimana makna “al-yaqin” dalam sabda Nabi Muhammad Saw.;

أما هُوَ -يَعْنِي عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ- فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ مِنْ رَبِّهِ

“Adapun dia–yakni Usman ibnu Maz’un–ajal kematian dari Tuhannya telah datang kepadanya.”

Berdasarkan uraian tafsir surah Al-Muddatstsir di atas, dapat dimengerti bahwa terdapat setidaknya empat golongan yang layak untuk mendapat ancaman neraka Saqar. Mereka adalah yang tidak melaksanakan shalat, yang tidak menyerahkan hak orang miskin, hanyut dalam kebatilan bersama orang-orang yang suka berbuat kebatilan, dan yang mendustakan hari kiamat. Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here