Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 32-37: Kehendak Allah dan Kehendak Manusia

0
965

BincangSyariah.Com – Sebelum mempelajari tafsir surah Al-Muddatstsir ayat 32-37, alangkah baiknya apabila berkenan memahami ringkasan tafsir ayat sebelumnya. Supaya dapat memahami persambungan ayat yang akan dijelaskan dengan ayat-ayat sebelumnya.

Allah Swt. telah menjelaskan bahwa orang-orang yang mendustakan Al-Quran–seperti Walid bin Mughirah–kelak layak untuk ditempatkan di neraka Saqar. Di sana, mereka akan berada di bawah pengawasan ketat para algojo, yaitu malaikat Zabaniyah yang keras lagi kasar.

Sebagimana disebutkan dalam surah Al-Muddatstsir ayat 30, malaikat yang ditugaskan Allah untuk menjaga neraka berjumlah sembilan belas. Terdapat tujuan mengapa Allah menyebutkan jumlah malaikat Zabaniah. Baik bagi orang-orang beriman, ahlul kitab (Yahudi), maupun bagi orang-orang kafir.

Kemudian dalam surah Al-Muddatstsir ayat 31, dijelaskan bahwa tujuan disebutkannya jumlah malaikat penjaga neraka bagi orang-orang kafir ialah sebagai ujian atau cobaan (fitnah). Bagi ahlul kitab (Yahudi), yaitu untuk meyakinkan atau menjelaskan kebenaran Al-Qur’an. Bahwa yang disebutkan Al-Qur’an sejalan dengan yang disebutkan dalam kitab samawi yang mereka percaya, serta lebih dahulu diturunkan sebelum Al-Qur’an. Sedangkan bagi orang-orang beriman, yaitu untuk menambah keimanan mereka.

Setelah memahami uraian di atas, kita beranjak memahami tafsir ayat selanjutnya. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Muddatstsir ayat 32-37:

كَلَّا وَٱلۡقَمَرِ ۝  وَٱلَّیۡلِ إِذۡ أَدۡبَرَ ۝  وَٱلصُّبۡحِ إِذَاۤ أَسۡفَرَ ۝  إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ۝  نَذِیرࣰا لِّلۡبَشَرِ ۝  لِمَن شَاۤءَ مِنكُمۡ أَن یَتَقَدَّمَ أَوۡ یَتَأَخَّرَ ۝

Kalla wal qamar (32) wal laili idza adbar (33) wash shubhi idza asfar (34) innaha laihdal kubar (35) nadziran lil basyar (36) liman syaa minkum an yataqaddam au yataakhkhar (37)

Artinya: 

“Tidak! Demi bulan, (32) dan demi malam ketika telah berlalu, (33) dan demi subuh apabila mulai terang, (34) sesunggunya (Saqar itu) adalah salah satu (bencana) yang sangat besar, (35) sebagai peringatan bagi manusia, (36) (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang ingin maju atau mundur. (37)” [Surat Al-Muddatstsir (74): 32-37]

Baca Juga :  Tiga Tingkatan Orang dalam Beragama

Ayat 32 dimulai dengan redaksi penolakan, yakni berupa lafal “kalla”. Dalam Tafsir Al-Kabir, Imam Fakhruddin Ar-Razi menyebutkan bahwa ada ulama yang berpendapat bahwa lafal tersebut merupakan penolakan terhadap orang yang mengingkari bahwa bencana yang amat dahsyat itu merupakan peringatan. Ada juga yang mengartikannya sebagai penolakan terhadap ucapan Abu Jahal dan kawan-kawannya, yang menyangka bahwa mereka akan mampu melawan malaikat Zabaniyah.

Sebelum memberikan informasi tambahan mengenai Saqar, Allah juga mendahuluinya dengan sumpah. Penggunaan sumpah ini menurut ahli tafsir menunjukkan adanya pengagungan terhadap sesuatu yang disumpahi (muqsam ‘alaih) atau sesuatu yang menjadi sebab adanya sumpah (jawab qasam). Yaitu pengagungan terhadap informasi terkait neraka Saqar, atau neraka Saqar itu sendiri.

Melalui surah Al-Muddatstsir ayat 35, Allah mengabarkan bahwasanya neraka Saqar merupakan salah satu dari bencana-bencana yang amat sangat dahsyat. Hal ini dapat dimengerti dari penafsiran Imam Jalaluddin Al-Mahalli dalam Tafsir Al-Jalalain, yang memaknai redaksi “ihdal kubar” dengan “al-balaya al-‘idzam” (bencana-bencana yang agung).

Sedangkan Imam Ar-Razi mengartikan “al-kubar” sebagai “darakatu jahannam” (lapisan kerak neraka), yang terdiri dari Jahannam, Ladza, Huthamah, Sa’ir, Saqar, Jahim, dan Hawiyah. Sehingga, redaksi “ihdal kubar” beliau artikan sebagai penjelasan bahwa Saqar merupakan salah satu dari beberapa lapisan kerak neraka.

Neraka Saqar juga disebut sebagai peringatan bagi seluruh manusia. Peringatan dengan neraka Saqar ini, menurut Imam Ahmad Ash-Shawi, tidak hanya berlaku bagi satu kaum saja, melainkan bagi siapa saja yang menghendakinya. Bagi yang berkenan menerima peringatan dan menempuh jalan kebaikan dengan berbekal iman, maupun yang masih berhenti di fase keburukan dengan modal kekufuran. Karena dengannya pula, Allah memberikan ancaman keras (wa’id) dan intimidasi (tahdid).

Baca Juga :  Syaikh Arsyad At-Thawil Pembangkit Semangat Jihad "Geger Banten 1888": Dibuang ke Manado, Dipuji Ir. Soekarno

Penafsiran di atas didasarkan pada firman Allah;

وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَاۤءَ فَلۡیُؤۡمِن وَمَن شَاۤءَ فَلۡیَكۡفُرۡ

Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.” [Q.S. Al-Kahfi (18): 29]

Dalam memahami ayat 37, terdapat perbedaan yang cukup kentara antara golongan Muktazilah dengan golongan Ahlus Sunnah. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ar-Razi, golongan Muktazilah menggunakan redaksi “liman syaa minkum an yataqaddam au yataakhkhar” sebagai hujjah atas pemahaman mereka bahwa seorang hamba sangat mungkin bertindak apa pun sesuai kehendaknya, tanpa selalu terikat dengan kehendak Tuhannya.

Pemahaman tersebut kemudian direspon oleh golongan Ahlus Sunnah yang berpendapat bahwa tindakan seorang hamba itu memang bergantung pada kehendaknya sendiri. Akan tetapi, kehendak dirinya itu pasti bergantung pada kehendak Allah Swt. Jadi, pasti tetap ada pertalian antara hamba dengan Tuhannya.

Pemahaman golongan Ahlus Sunnah ini didasarkan pada firman Allah Swt.;

وَمَا تَشَاۤءُونَ إِلَّاۤ أَن یَشَاۤءَ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِیمًا حَكِیمࣰا

“Tidaklah kalian mampu berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [Q.S. Al-Insan (76): 30]

Wallahu a’lam bish shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here