Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 26-30: Jumlah Malaikat Penjaga Neraka

3
1058

BincangSyariah.Com – Surga selalu ditampakkan dengan kelembutan, sedangkan neraka dicirikan dengan kengerian. Begitu juga dengan malaikat yang ditugaskan menjaga keduanya. Malaikat yang menjaga neraka pasti disifati dengan sifat-sifat yang sangat mengerikan.

Dalam Hasyiyah Ash-Shawi, disebutkan sebuah riwayat yang menjelaskan tentang ciri-ciri malaikat penjaga neraka. Malaikat penjaga neraka itu seakan-akan matanya adalah kilat, gigi-gigi mereka laksana tanduk sapi, bibirnya menjulur sampai telapak kaki, dari mulutnya keluar api, antara kedua bahunya sejauh perjalanan setahun. Karena belas kasih mereka telah dicabut, maka mereka bisa melempar siapa saja yang berdosa ke dalam neraka.

Membaca deskripsi di atas, kita tahu betapa ngerinya malaikat penjaga neraka. Meski demikian, masih saja banyak orang-orang kafir yang merendahkan ayat-ayat Allah dengan membandingkan jumlah dan kekuatan mereka.

Berkenaan dengan neraka, berikut sifat dan penjaganya, Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Muddatstsir ayat 26-30;

سَأُصۡلِیهِ سَقَرَ ۝  وَمَاۤ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ ۝  لَا تُبۡقِی وَلَا تَذَرُ ۝  لَوَّاحَةࣱ لِّلۡبَشَرِ ۝  عَلَیۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ۝

Saushlihi saqar (26) Wa ma adraka ma saqar (27) la tubqi wa la tadzar (28) lawwahatun lil basyar (29) ‘Alaiha tis’ata ‘asyar (30)

Artinya:

“Kelak, Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar, (26) dan tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? (27) Ia (Saqar itu) tidak meninggalkan dan tidak membiarkan, (28) yang menghanguskan kulit manusia. (29) Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). (30)” [Q.S. Al-Muddatstsir (74): 25-30]

Jika dalam ayat 17, disebutkan tentang azab akhirat yang akan diterima oleh orang yang meremehkan Al-Qur’an–seperti Walid bin Mughirah–menggunakan redaksi “saurhiquhu shu’udan”. Kemudian melalui ayat 26 ini, dijelaskan tentang tempat yang disiapkan bagi mereka yang meremehkan Al-Qur’an, yaitu di neraka Saqar.

Baca Juga :  Aneka Model Pakaian Nabi (Bagian 2)

Maksud dari redaksi “saushlihi saqar”, menurut Imam Jalaluddin Al-Mahalli ialah bahwa Allah akan memasukkannya ke neraka Saqar. Untuk menjelaskan apa itu Saqar, Allah memulainya dengan pertanyaan “wa ma adraka ma saqar”, ayat 27. Pertanyaan itu dimunculkan untuk memberitahukan kepada manusia akan agungnya ciptaan Allah yang bernama Saqar ini.

Orang yang telah dimasukkan ke dalam neraka Saqar, akan diberangus kulit dan otot-ototnya. Setelah kulit dan otot mereka dilahap api, maka akan dikembalikan lagi sebagimana asalnya. Dan kejadian itu akan berulang lagi. Uraian tersebut yang disampaikan oleh Imam Jalaluddin Al-Mahalli ketika menafsirkan redaksi “la tubqi wa ta tadzar, lawwahatun lil basyar”, ayat 28-29.

Setelah menjelaskan bagaimana sifat yang melekat pada neraka Saqar, Allah kemudian menjelaskan jumlah malaikat yang menjaganya. Secara tekstual, dalam Al-Quran disebutkan bahwa jumlah penjaga Saqar ada 19 malaikat. Dalam memaknai jumlah tersebut, ulama ahli tafsir mengajukan penafsiran yang beragam. Di antaranya ada juga yang menafsirkan bahwa sembilan belas itu ialah para pimpinan dan pembesar malaikat yang menjaga neraka.

Imam Al-Qurthubi juga lebih setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa sembilan belas malaikat yang disebutkan dalam surah Al-Muddatstsir ayat 30 merupakan para pembesar dan pimpinan malaikat penjaga neraka. Adapun jumlah penjaga sebenarnya, tak ada seorang pun yang mengetahui selain Allah sendiri. Keterangan ini disandarkan pada surah Al-Muddatstsir ayat 31;

وَمَا یَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ

“Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri.” [Q.S. Al-Muddatstsir (74): 31]

Selain itu juga ada keterangan tentang jumlah malaikat penjaga neraka, yaitu hadis yang bersumber dari Ibnu Mas’ud.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ: يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا.

Baca Juga :  Sekelumit Sejarah Ka'bah Berdiri

Rasulullah Saw., bersabda “Pada hari itu (kiamat), (neraka) Jahanam akan didatangkan dengan 70.000 tali untuk mengendalikannya, dan pada setiap tali itu terdapat 70.000 malaikat yang menariknya.” (H.R. Muslim)

Apabila memahami ayat Al-Qur’an dan hadis yang bersumber dari Ibnu Mas’ud di atas, maka belum tentu kita bisa sembrono memahami secara mentah bahwa jumlah malaikat penjaga neraka hanya ada sembilan belas. Karena sejatinya tak ada yang mengetahui jumlahnya selain Allah.

Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwasanya surah Al-Muddatstsir ayat 30 tidak diturunkan bersamaan dengan ayat-ayat sebelumnya. Adapun sebab turunnya ayat 30 ialah sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Al-Baihaqi, yang bersumber dari Al-Barra’. Suatu kesempatan ada orang yahudi bertanya kepada salah seorang sahabat Nabi Muhammad tentang malaikat penjaga neraka. Sahabat itu menemui Nabi, kemudian Nabi memberitahukan bahwa telah turun surah Al-Muddatstsir ayat 30, “alaiha tis’ata ‘asyar”.

Penyebutan jumlah malaikat penjaga neraka yang hanya sembilan belas ini ternyata membuat orang-orang kafir terpedaya. Mereka menganggap sembilan belas malaikat adalah jumlah yang ringan, sebagimana sembilan belas manusia. Oleh karenanya, mereka menyombongkan diri bahwa mereka akan mampu melawan malaikat yang ditugaskan Allah untuk menjaga neraka itu.

Merujuk keterangan dalam Hasyiyah Ash-Shawi, terdapat sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, tidak lama setelah turunnya ayat 30 surah Al-Muddatstsir, “alaiha tis’ata ‘asyar”, Abu Jahl berkata kepada orang-orang dari suku Quraisy dengan nada menantang. Untuk meledek ayat-ayat Allah, Abu Jahl berkata, “Kematian ibu kalian menyebabkan kalian mati. Muhammad telah menyatakan bahwa penjaga neraka hanya berjumlah sembilan belas orang, sedangkan kalian adalah orang-orang pemberani. Tidak mampukah setiap sepuluh orang dari kalian menangani satu orang saja dari mereka?”

Salah seorang suku Quraisy yang terkenal gagah perkasa, bernama Abul Asyadd bin Kaldah bin Khalaf Al-Jumhi, kemudian menimpali provokasi Abu Jahl, “Aku akan menangani tujuh belas penjaga neraka untuk kalian. Sepuluh akan kutaruh di punggungku, sedangkan tujuh lagi di perutku. Kalian cukup menangani yang dua.” Dalam riwayat lain, terdapat redaksi berbeda terkait ucapan Abul Asyadd. Ia berkata, “Aku akan berjalan di hadapan kalian melewati sebuah jembatan. Sepuluh dari mereka kubawa dengan pundak kananku, sedangkan sembilan sisanya dengan pundak kiriku. Kemudian kulempar mereka ke dalam neraka. Kita tinggal melewati mereka dan menuju surga.”

Merespon ucapan mereka yang mengolok-olok ayat yang disampaikan Nabi Muhammad, kemudian Allah menurunkan surah Al-Muddatstsir ayat 31, “wa ma ja’alna ashaban nari illa malaikatan”, hingga akhir ayat. Adapun penafsiran ulama terkait ayat tersebut, akan disajikan dalam tulisan selanjutnya. Wallahu a’lam bis shawab.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here