Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 18-25: Walid bin Mughirah Sebut Al-Qur’an Sebagai Sihir

0
826

BincangSyariah.Com – Walid bin Mughirah tumbuh di keluarga terhormat suku Quraisy, yaitu Bani Makhzum. Maka pantas saja apabila kemudian Walid diberi julukan Al-Makhzumi. Selain karena kekayaannya, kecerdasannya dalam urusan syair Arab juga menjadikan Walid semakin dihormati kaum Quraisy. Akan tetapi kecerdasan yang tak dibarengi keimanan itu justru membuatnya tergelincir menjadi orang yang celaka.

Dalam surah Nun, Walid bin Mughirah disifati Allah dengan sifat-sifat yang sangat buruk. Di antaranya ialah; yang suka bersumpah, yang suka menghina, yang suka melecehkan orang lain, yang suka menebarkan fitnah, tukang mencegah kebaikan, yang melampaui batas, yang berdosa besar, yang bertabiat kasar, dan yang mengaku-ngaku nasab.

Walid bin Mughirah memang sempat tak terima ketika ia disebut Al-Qur’an sebagai orang yang mengaku-ngaku nasab (zanim), karena ia berasal dari keluarga terhormat di suku Quraisy. Dijabarkan oleh Gus Baha dalam kajian tafsirnya, bahwa sebenarnya ayah dari Walid tidak bisa membuahi ibunya. Sehingga ibu Walid akhirnya dihamili oleh seorang penggembala, supaya mendapatkan keturunan. Karena tidak mungkin jika keluarga yang terhormat tidak memiliki keturunan. (Baca: Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 11-17: Walid bin Mughirah yang Meremehkan Al-Qur’an)

Peristiwa yang menjadi sebab celakanya Walid bin Mughirah itu diabadikan dalam Al-Qur’an surah Al-Muddatstsir. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Muddatstsir ayat 18-25;

إِنَّهُۥ فَكَّرَ وَقَدَّرَ ۝  فَقُتِلَ كَیۡفَ قَدَّرَ ۝  ثُمَّ قُتِلَ كَیۡفَ قَدَّرَ ۝  ثُمَّ نَظَرَ ۝  ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ۝  ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ۝  فَقَالَ إِنۡ هَـٰذَاۤ إِلَّا سِحۡرࣱ یُؤۡثَرُ ۝  إِنۡ هَـٰذَاۤ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ ۝

Innahu fakkara wa qaddar (18) Faqutila kaifa qaddar (19) Tsumma qutila kaifa qaddar (20) Tsumma nadzar (21) Tsumma ‘abasa wa basar (22) Tsumma adbara wastakbar (23) Faqala in hadza illa sihrun yu’tsar (24) In hadza illa qaulul basyar (25)

Artinya:

Baca Juga :  Wisata Religi: Masjid Tertua Poliwali akan Pajang Koleksi Alquran Raksasa Selama Ramadhan

“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang dipikirkan) (18) Maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? (19) Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? (20) Kemudian dia (merenung) memikirkan (21) Lalu ia berwajah masam dan cemberut (22) Kemudian berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri (23) Lalu dia berkata, (Al-Qur’an) ini hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu) (24) Ini hanyalah perkataan manusia (25)” [Q.S. Al-Muddatstsir (74): 11-17]

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa Walid bin Mughirah telah menentang ayat-ayat Al-Qur’an yang ia dengar dari Nabi Muhammad. Sehingga menjadikannya kelak akan diganjar Allah dengan azab yang besar. Yaitu dengan mendaki “shu’ud”, bukit di dalam neraka yang membutuhkan waktu tujuh puluh tahun untuk mencapai puncak, juga tujuh puluh tahun untuk menuruninya.

Anggapan yang dilontarkan oleh Walid–dengan menyebut Al-Qur’an sebagai perkataan manusia–itu timbul akibat hasil berpikir yang dianggapnya benar. Kecerdikannya mendorong untuk berulang kali berpikir bagaimana cara menjatuhkan Nabi. Oleh karenanya dalam surah Al-Muzzaddatstsir ayat 18 disebutkan, “innahu fakkara wa qaddar”.

Kejadian tersebut bermula tatkala ia ditanya bagaimana pendapatnya tentang Al-Quran. Kemudian ia dihasut oleh Abu Jahl, yang tidak lain adalah keponakannya sendiri. Abu Jahl menakut-nakuti Walid dengan mengatakan bahwa kaum Quraisy tak akan rela kepadanya apabila ia tak mempermalukan Nabi Muhammad dan menunjukkan kebenciannya kepada Nabi.

Maka celakalah ia, karena menetapkan apa yang dipikirkannya untuk merekayasa kenyataan tentang Al-Qur’an. Padahal sebenarnya ia sempat begitu terenyuh dan merasa menjadi lunak hatinya, ketika mendengar Nabi Muhammad membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang sangat indah. Yaitu ketika Rasulullah membaca surah Fusshilat ayat 1-13.

Walid pun kembali berpikir dan merenungkannya, hingga ia tampak bermuka masam di hadapan kaumnya ketika membincang tentang Al-Qur’an. Selain itu juga menampakkan kemarahannya tatkala membicarakan Al-Qur’an. Walid pun menjadi semakin marah dan menampakkan lagi kemarahannya. Kemarahan Walid yang disebutkan Al-Quran dengan redaksi “basar” dalam ayat 22, digambarkan Imam Ahmad Asy-Shawi dengan mengernyitkan dahi, merapatkan kedua mata, bahkan wajahnya pun menjadi tampak gelap.

Baca Juga :  Baqiy bin Makhlad; Menyamar Jadi Pengemis Demi Menuntut Ilmu pada Imam Ahmad bin Hanbal

Setelah itu ia memalingkan hatinya dari mengimani Allah, Nabi, dan Al-Qur’an. Walid juga menyombongkan dirinya dengan menolak untuk mengikuti Nabi. Inilah yang dimaksud dalam surah Al-Muddatstsir ayat 23; “tsumma adbara wastakbar”.

Hingga puncaknya ketika ia mengatakan, bahwa ayat-ayat Al-Qur’an adalah kalimat sihir yang dipelajari dari orang-orang terdahulu, serta tak lebih hanya sekadar ucapan manusia, (in hadza illa sihrun yu’tsar, in hadza illa qaulul basyar).

Apabila Walid bin Mughirah meyakini demikian, maka sama artinya dengan ia meyakini bahwa Al-Qur’an bukanlah kalamullah. Keyakinnya itu merupakan pangkal dari kesesatannya.

Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here