Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 1-3: Cara Nabi Memperingatkan Penduduk Makkah

0
994

BincangSyariah.Com – Surah Al-Muddatstsir diturunkan di Makkah dan terdiri dari 55 ayat. Uraian tersebut sudah menjadi kesepakatan ulama ahli tafsir, sebagaimana  keterangan bahwa surah Al-Muddatstsir diturunkan bersamaan dengan surah Al-Muzzammil. Bahkan arti lafal “al-muddatstsir” dan “al-muzzammil” pun secara umum bisa dikatakan sama, yaitu orang yang berselimut.

Perbedaan di antara keduanya ialah, apabila surah Al-Muddatstsir keseluruhan ayatnya diturunkan di Makkah, sedangkan surah Al-Muzzammil hanya bagian awal surah saja yang diturunkan di Makkah. Adapun bagian akhir surah Al-Muzzammil (ayat ke-20) yang diturunkan di Madinah, terdapat selang beberapa waktu dari diturunkannya bagian awal surah. Yang mana bagian akhir itu sekaligus menjadi isyarat akan perubahan hukum shalat tahajud, yang awalnya fardhu menjadi sunah. (Baca: Keutamaan Membaca Surah Al-Muddatstsir)

Karena banyak riwayat hadis yang memberikan penjelasan bahwa surah Al-Muzzammil ayat pertama “ya ayyuhal muzzammil” dan surah Al-Muddatstsir ayat pertama “ya ayyuhal muddatstsir” turun bersamaan, maka penjelasan sebab diturunkannya surah Al-Muddatstsir dapat dirujuk kembali pada pembahasan tafsir surah Al-Muzzammil. Begitu juga tentang urutan turunnya surah, yang sudah dijelaskan dalam pembahasan pertama dari serial tafsir surah Al-Muzzammil.

Meski disepakati bahwa surah Al-Muddatstsir secara penuh diturunkan di Makkah, akan tetapi masih ada perbedaan menyangkut apakah keseluruhan ayat diturunkan bersamaan satu waktu, atau tidak. Adapun pendapat yang paling kuat ialah pendapat yang menyatakan bahwa keseluruhan ayat dari surah Al-Muddatstsir tidak diturunkan dalam satu waktu.

Menurut Imam Ibnu ‘Asyur, surah Al-Muddatstsir merupakan surah pertama yang berisi tentang perintah kepada Nabi Muhammad untuk berdakwah. Hal ini lantaran surah Al-‘Alaq ayat 1-5 yang pertama diturunkan, tidak secara langsung membawa pesan dan perintah supaya Nabi Muhammad berdakwah.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 4-7: Cara Nabi Dakwah kepada Musyrik Makkah

Untuk memulai kajian tafsir surah Al-Muddatstsir, kami mulai dengan uraian tafsir surah Al-Muddatstsir ayat 1-3;

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ ۝  قُمۡ فَأَنذِرۡ ۝ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ۝

Ya ayyuhal muddatstsir (1) Qum faandzir (2) Wa rabbaka fakabbir (3)

Artinya:

“Wahai orang yang berkemul (berselimut) (1) Bangunlah, lalu berilah peringatan! (2) Dan agungkanlah Tuhanmu! (3)” [Q.S. Al-Muddatstsir (74): 1-3]

Allah Swt. memulai surah Al-Muddatstsir dengan sapaan kepada Nabi Muhammad Saw. Allah menyapa Nabi Muhammad dengan sebutan “al-muddatstsir”, orang yang berselimut. Tak ada satu pun ulama ahli tafsir yang mengingkari pendapat yang mengatakan bahwa peruntukkan (khitab) dari panggilan “ya ayyuhal muddatstsir” ialah Nabi Muhammad Saw.

Memang dijumpai perbedaan ulama dalam memaknai lafal “al-muddatstsir”, sebagaimana dijumpainya perbedaan dalam memaknai lafal “al-muzzammil”. Mulai dari yang menganggap bahwa lafal tersebut mengandung makna asli (haqiqi), maupun sebagai majaz (majazi).

Apabila dimaknai dengan makna haqiqi, maka dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad disapa Allah ketika sedang dalam keadaan benar-benar berselimut. Kemudian jika dimaknai dengan makna majazi, maka makna yang dihasilkan berkisar mulai dari berselimut dengan risalah kenabian, berselimutkan Al-Qur’an, dan lain sebagainya. Perincian penjelasan tersebut, serta siapa saja ulama yang menafsirkan demikian, telah diulas dalam pembahasan tafsir Al-Muzzammil.

Selanjutnya, surah Al-Muddatstsir ayat 2 memuat sebuah perintah Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Yakni, supaya memberi peringatan kepada orang-orang kafir Makkah akan adanya siksa neraka. Siksa neraka itu, bisa saja ditimpakan apabila mereka tidak mau beriman kepada Allah dan rasul-Nya.

Kenapa Nabi menakut-nakuti, bukannya memberi kabar gembira saja? Perlu diketahui, bahwa selain ditugaskan untuk menyampaikan kabar gembira (tabsyir), Nabi Muhammad juga ditugaskan untuk menyampaikan peringatan (indzar) kepada umatnya. Uraian Imam Ahmad Ash-Shawi ini selaras dengan firman Allah Swt., dalam surah Al-Fath;

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 4-6; Rahasia di Balik Sebuah Mimpi

إِنَّاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ شَـٰهِدࣰا وَمُبَشِّرࣰا وَنَذِیرࣰا ۝  لِّتُؤۡمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُۚ وَتُسَبِّحُوهُ بُكۡرَةࣰ وَأَصِیلًا ۝

“Sesungguhnya Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, (8) agar kamu semua beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya pagi dan petang. (9)” [Q.S. Al-Fath (48): 8-9]

Sehingga, alasan diperintahkannya Nabi Muhammad memberi peringatan ialah sebagai upaya untuk mengajak mereka beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Karena pada saat itu sangat sedikit sekali penduduk Makkah yang beriman dan pantas mendapatkan kabar bahagia.

Sebenarnya, dalam memaknai lafal “qum” sendiri masih dijumpai perbedaan pendapat, yang secara rinci telah disebutkan oleh Imam Fakhuddin Ar-Razi dalam Tafsir Mafatihul Ghaib. Beliau menyebutkan bahwa lafal “qum” ada yang memaknainya sebagai perintah kepada Rasulullah untuk bangun dari tempat tidur. Ada juga yang memaknainya sebagai perintah kepada Nabi untuk bergegas, berniat, dan mempersiapkan diri.

Akan tetapi jika mengikuti penafsiran Imam Ibnu Asyur dalam Tafsir At-Tahrir wat Tanwir, kesimpulan yang diperoleh dari surah Al-Muddatstsir ayat 1-2 ialah; “wahai orang yang menyelubungi diri dengan selimut, karena kepanikan kala melihat malaikat yang menyampaikan wahyu! Jangan takut! Hadapilah, lantas peringatkanlah penduduk Makkah!”

Surah Al-Muddatstsir ayat ketiga, “wa rabbaka fakabbir”, secara jelas mengandung sebuah perintah untuk mengagungkan Allah Swt. Maksud dari mengagungan Allah di sini, menurut Imam Jalaluddin Al-Mahalli dalam Tafsir Al-Jalalain ialah, mengagungkan-Nya dari perilaku menyekutukan Allah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik pada saat itu.

Memang terdapat beberapa penafsiran tentang maksud dari perintah mengagungkan Allah ini. Bahkan ada yang menafsirkan bahwa maksud “takbir” di sini ialah perintah kepada Nabi Muhammad untuk melaksanakan shalat. Karena shalat diawali dengan takbiratul ihram.

Baca Juga :  Belajar Tauhid; Cara Kita Meyakini bahwa Allah swt. itu Hidup

Tetapi jika memahami kesesuaian (munasabah) dengan ayat sebelumnya, bisa jadi kita lebih condong pada penafsiran Imam Ar-Razi. Menurut beliau, ayat ketiga adalah jawaban dari ayat kedua. Ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk meperingingatkan orang musrik, Allah sekaligus menunjukkan cara mengingatkan mereka. Yaitu, dengan cara mengagungkan Allah. Bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Esa, dan tiada sekutu bagi-Nya.

Penafsiran Imam Ar-Razi ini berdasar pada firman Allah dalam surah An-Nahl ayat 2;

أَنۡ أَنذِرُوۤا۟ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱتَّقُون

“(Dengan firman-Nya) yaitu, “Peringatkanlah (hamba-hamba-Ku), bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.” [Surat An-Nahl (16): 2]

Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here