Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 235; Etika Meminang Janda Ditinggal Suami

3
1074

BincangSyariah.Com – Surah al-Baqarah ayat 235 ini berbicara mengenai etika meminang perempuan, khususnya wanita yang ditinggal suaminya atau telah talak tiga dengan suaminya di pengadilan agama. Terkait hal ini, Allah Swt. berfirman:

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُم بِهِۦ مِنْ خِطْبَةِ ٱلنِّسَآءِ أَوْ أَكْنَنتُمْ فِىٓ أَنفُسِكُمْ ۚ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَٰكِن لَّا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّآ أَن تَقُولُوا۟ قَوْلًا مَّعْرُوفًا ۚ وَلَا تَعْزِمُوا۟ عُقْدَةَ ٱلنِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ ٱلْكِتَٰبُ أَجَلَهُۥ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ فَٱحْذَرُوهُ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Wa la junaha ‘alaikum fima ‘arrodhtum bihi min khitbatin nisa’i au aknantum fi anfusikum. ‘Alimallahu annakum satadzkurunahunna wa lakil la tuwa‘iduhunna sirron illa an taqulu qoulam ma‘rufa. Wa la ta‘zimu ‘uqdatan nikahi hatta yablughol kitabu ajalah. Wa‘lamu annnallaha ya‘lamu ma fi anfusikum fahdzaruh. Wa‘lamu annallaha ghofurun halim (Q.S. Al-Baqarah: 235)

Artinya:

Tidak dosa bagi kalian untuk meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kalian menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kalian (tidak akan sabar untuk tidak) menyebut-nyebut mereka. Tetapi janganlah kalian mengadakan perjanjian dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan kata-kata yang baik. Janganlah kalian pastikan akan menikah (dengan mereka) sampai catatan (idah) mereka selesai. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Ketahuilah Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Ayat ini berbicara mengenai etika meminang wanita yang ditinggal suaminya atau ditalak tiga oleh suaminya. Karena itu, menurut Ibnu ‘Asyur dalam tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, penggunaan kata al-Nisa’ ‘wanita-wanita’ dalam ayat ini diperuntukkan bagi mereka yang sudah pernah menikah, yaitu wanita yang ditinggal meninggal suaminya, wanita yang ditalak bain (talak tiga) di pengadilan. Artinya, meminang wanita dalam dua keadaan ini yang sedang dalam masa idah itu tidak boleh secara terang-terangan, hanya boleh berupa sindiran.

Baca Juga :  Karl von Smith, Murid K.H Hasyim Asy’ari yang Tertuduh Orientalis

Contoh sindiran adalah mengatakan kepada wanita tersebut, “Kamu sungguh cantik”, “Banyak orang yang berminat denganmu”, dan lain sebagainya. Perbedaan secara tegas dengan sindiran adalah bahwa secara tegas (tashrih) tidak ada kemungkinan yang lain isinya selain menikah, sedangkan sindiran mengandung banyak kemungkinan. Contoh ungkapan melamar secara tegas atau terang-terangan adalah saya ingin menikah denganmu, apakah kamu mau?

Syekh Muhammad Ali al-Shabuni dalam Rawai’ al-Bayan membagi tiga jenis meminang wanita yang boleh dan tidak boleh secara terang-terangan atau hanya isyarat/sindiran.

Pertama, wanita yang boleh dipinang atau dilamar secara terang-terangan maupun sindiran. Dia adalah wanita yang belum menikah sama sekali.

Kedua, wanita yang tidak boleh dilamar secara terang-terangan atau dengan ungkapan basa-basi (sindiran). Mereka adalah wanita yang masih memiliki suami, atau masih dalam masa talak raj’i.

Ketiga, wanita yang boleh dilamar secara sindiran, tapi tidak boleh secara terang-terangan. Mereka adalah wanita yang ditinggal wafat suaminya atau sudah ditalak tiga oleh suaminya  (talak bain) di pengadilan agama.

Apakah sah menikah dengan wanita yang masih dalam masa idah? Syekh Muhammad Ali al-Shabuni menjelaskan bahwa ulama sepakat mengenai ketidaksahan menikah saat wanita sedang dalam masa idah. Bahkan Imam Malik dan Imam Ahmad, jelas Syekh Muhammad Ali al-Shabuni, itu berpendapat selain tidak sah nikah dengan wanita dalam masa idah, juga tidak boleh menikahinya selama-lamanya. Artinya, setelah nikahnya gagal, wanita tersebut tidak boleh menikah lagi. Tapi Imam Abu Hanifah dan Imam Syafii membolehkan wanita tersebut menikah kembali setelah selesai dari idahnya.

Mengenai uraian masa idah wanita yang pisah dengan suaminya atau ditinggal wafat suaminya adalah sebagai berikut:

Baca Juga :  Dalil Tentang Perintah Ibadah Kurban

Idah Wanita yang Ditinggal Wafat Suami

Pertama, jika wanita itu ditinggal wafat suaminya dalam keadaan hamil. Maka, iddahnya adalah sampai ia melahirkan anak tersebut. Sehingga, masa iddahnya tergantung usia kehamilan. Jika usia kehamilannya masih muda, maka masa iddahnya akan berlaku lama.

Kedua, jika wanita itu ditinggal wafat suaminya dalam keadaan tidak hamil. Atau ia hamil tapi tidak mungkin dari suaminya. Seperti suaminya itu belum balig atau suaminya telah meninggalkannya selama empat tahun (tapi dia tiba-tiba hamil). Maka, masa iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari. Baik ia sudah pernah berhubungan badan dengan suaminya atau belum sama sekali.

Idah Wanita yang Cerai dengan Suami

Pertama, jika wanita itu dalam keadaan hamil ketika berpisah dengan suaminya. Maka, idahnya adalah sampai selesai melahirkan anaknya.

Kedua, jika wanita itu dalam keadaan tidak hamil ketika berpisah dengan suaminya. Dan ia termasuk wanita yang masih mengeluarkan darah haid. Maka, Idahnya adalah tiga kali suci dari haid. Terhitung setelah berpisah dengan suaminya

Ketiga, jika wanita itu ketika berpisah dengan suaminya tidak dalam keadaan hamil. Dan ia sudah menopause/ tidak lagi mengeluarkan darah haid disebabkan faktor usia. Atau ia masih kecil/belum mengeluarkan darah haid. Maka, idahnya adalah tiga bulan.

Keempat, jika wanita yang berpisah dengan suaminya baik karena talak atau faskh itu belum pernah disetubuhi. Maka, wanita tersebut tidak memiliki masa idah

3 KOMENTAR

  1. Ustadz mau tanya, kalo misalkan wanita yang di talak 3 oleh suaminya, kemudian dia iddah tapi wanita tersebut tidak begitu tau tentang namanya iddah, kemudian dia ingin menikah dan dengan laki² pilihannya tapi tradisi didaerahnya itu yang meminang adalah seorang wanita, gimana hukumnya ustadz?
    Apakah masih diperbolehkan atau tidak sah?

    • Wanita mewakili lelaki yang ingin meminang termasuk bagian dari meminang secara tidak terang-terangan. Artinya, hal itu diperbolehkan. Yang terpenting adalah hanya meminang, tidak menikah saat wanita masih idah.

  2. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
    Mau tanya,kalo ada seorang pria yang mau menikahi wanita yang telah ditinggal suaminya meninggal dan memiliki 3 orang anak,tapi laki laki ini tidak diperbolehkan oleh keluarganya bagaimana tindakan laki laki ini seharusnya ustadz?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here