Tafsir Surah al-Baqarah Ayat 222; Sejarah Haid dalam Agama Samawi

1
1852

BincangSyariah.Com – Setiap yang berkaitan dengan haid menarik bagi kaum wanita karena berkaitan dengan kejadian yang mereka alami setiap bulan. Berbicara tentang haid, dalam al-Quran ada satu ayat yang mengulasnya, yaitu surah al-Baqarah ayat 222:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

Dalam artikel ini, penulis akan membahas dua hal yang terkait dengan ayat tersebut. Pertama tentang asbabun nuzul (sebab diturunkan) ayat di atas, dan yang kedua tentang awal mula wanita mengalami haid. (Baca: Ketentuan Darah yang Keluar Sebelum atau Setelah Lima Belas Hari Masa Haid)

Asbabun Nuzul Al-Baqarah ayat 222.

Menurut Ahmad Ash Shawi dalam Hasyiyah Tafsir Jalalain dan Abu Hayyan Muhamad bin Yusuf dalam Tafsir al-Bahrul Muhith, turunnya ayat tersebut bermula dari pertanyaan Abu Ad-Dahdah dan sekelompok sahabat. Mereka bertanya tentang haid kepada Nabi karena melihat tradisi orang Yahudi yang menjauhi wanita-wanita mereka ketika haid, tidak mau tinggal serumah, dan wanita-wanita tersebut di keluarkan dari dalam rumah.

Yahudi juga tidak mau makan dan minum dengan wanita yang sedang haid, bahkan mereka tidak boleh melayani kebutuhan kaum laki-laki selama haid itu.

Baca Juga :  Toga untuk Cak Nur dan Murid-muridnya

Tradisi buruk Yahudi tersebut kemudian diikuti oleh orang-orang Arab pada masa Jahiliyah.

Sebaliknya dengan tradisi Nasrani, mereka tidak membedakan wanita yang sedang haid atau tidak, mereka tetap melakukan hubungan kelamin dengan istri mereka yang sedang haid.

Menyikapi pertanyaan sahabat di atas, maka Allah menurunkan ayat tersebut guna meluruskan tradisi buruk dari dua bangsa; Yahudi dan Nasrani.

Rasul juga menyampaikan sikap beliau dengan menyampaikan hadis:

جَامِعُوهُنَّ فِى الْبُيُوتِ وَاصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ غَيْرَ النِّكَاحِ

Kumpulkanlah mereka (para wanita yang haid) ke dalam rumah, dan kalian boleh melakukan segala sesuatu (pada mereka) kecuali nikah (bersetubuh).” (HR. Abu Dawud)

Riwayat tentang Awal Mula Haid

Setelah menyampaikan tafsir dari al-Baqarah [2] : ayat 222, Imam Bukhari dalam kitab al-Jami as-Sahih membuat satu bab terkait dengan awal mula haid yaitu Bab Kaifa Kana Bad’ul Haid.

Masalah awal mula terjadinya haid ternyata belum disepakati ulama, dan pendapat mereka dapat dikelompokkan menjadi dua:

Menurut pendapat pertama, haid bermula sejak diciptakannya Hawa, berdasarkan sabda Nabi: Hadza syaiun katabahullaahu ‘ala banaati adam,Haid ini adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah atas keturunan wanita dari Nabi Adam.” Pendapat ini kemudian didukung dengan beberapa riwayat sebagaimana berikut:

Dari Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya permulaan haid itu terjadi pada Hawa setelah beliau diturunkan dari surga.”

Dari Ibnu Abbas, “Allah bertanya, “Wahai Adam apa yang membuat engkau berani memakan buah pohon terlarang?” Adam benjawab, “Wahai Tuhanku aku terpengaruh dengan Hawa,” Allah berfirman, “Kalau begitu, Aku akan menghukum Hawa, dia tidak akan mengandung kecuali dengan susah payah, tidak melahirkan kecuali dengan susah payah, dan Aku akan membuat dia mengeluarkan darah dua kali dalam setiap bulan.”.  Mendengar itu, tangisan Hawa langsung pecah. Allah kemudian berfirman, “Engkau dan wanita keturunanmu akan mengeraskan tangisan.”

Baca Juga :  Mengenal Hadis Masyhur dan Contoh-contohnya

Dari Umar bin Khattab berkata: “Allah mengutus Jibril menemuai Hawa ketika dia mengeluarkan darah. Hawa mengadu pada Tuhan, “Aku mengeluarkan darah yang tidak aku kenal sebelumnya”. Kemudian Allah berfirman, “Sungguh engkau dan keturunanmu akan mengeluarkan darah, dan Aku akan menjadikannya sebagai tebusan untuk menyucikan dirimu.”

Dari Abdurrahman bin Zaid berkata: “Semula Hawa diciptkan dalam keadaan suci (tidak mengalami haid), ketika dia melakukan kesalahan, Alah berfirman, “Aku telah menciptakanmu dalam keadaan suci dan sekarang Aku akan menjadikanmu mengeluarkan darah sebagaimana engkau telah menyebabkan pohon ini “berdarah”.”

Menurut pendapat kedua, yang mengalami haid pertama kali adalah wanita-wanita Bani Israli. Pendapat ini didukung beberapa riwayat sebagaimana berikut:

Dari Ibnu Mas’ud berkata: “Dahulu perempuan Bani Israil melakukan salat dengan kaum laki-laki dalam shaf (baris) yang sama, kemudian mereka membuat qawaalib (kayu cetakan sepatu / boot) agar mereka bisa melihat teman laki-laki mereka. Karena itulah Allah menetapkan haid pada diri mereka dan mengahirkan shaf (barisan) mereka.

Dari Aisyah berkata: “Para wanita Bani Israil membuat kaki-kaki dari kayu agar bisa melihat kaum laki-laki di dalam masjid, maka Allah mengharamkan hal itu, dan menetapkan haid pada diri mereka.

Kedua pendapat di atas bisa di kompromikan sebagai berikut, wanita yang pertama mengalami haid adalah Hawa, sementara haid yang dialami wanita Bani Israil adalah hukuman atas perbuatan mereka, sehingga haid tersebut mereka alami dalam waktu yang lama.

Atau diarahkan pada pengertian, semula Allah menghentikan darah haid wanita Bani Israil sehingga mereka tidak mengalami haid dan tidak hamil. Setelah kejadian yang dikisahkan di atas, Allah membuat mereka kembali mengalami haid agar bisa hamil. Jadi haid yang mereka alami adalah darah haid pertama secara nisbi, setelah sebelumnya mereka tidak mengalami haid.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Baqarah 143 tentang Umat Terbaik Versi Al-Qur'an

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Haid merupakan gejala alamiah yang dialami setiap wanita di muka bumi. Bagi muslimah yang haid, ada hal-hal yang dilarang baginya untuk melaksanakan ritual ibadah, seperti shalat, puasa, memegang mushaf dan lain sebagainya.(Baca: Tafsir Surah al-Baqarah Ayat 222; Sejarah Haid dalam Agama Samawi) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here