Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 204-206; Lima Ciri Perusak di Muka Bumi

0
5467

BincangSyariah.Com – Hari berganti hari, pertikaian dan kerusakan semakin merajalela di tiap sudut desa, kota, pulau bahkan negara. Semua itu diperbuat oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Allah telah menegaskan dalam firman-Nya :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَياةِ الدُّنْيا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلى ما فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصامِ () وَإِذا تَوَلَّى سَعى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيها وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الْفَسادَ () وَإِذا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهادُ

“Di antara manusia ada orang yang ucapanya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada allah ( atas kebenaran ) isi hatinya, padahal dia adalah penantang paling keras (204). Ketika dia berpaling maka berjalan di muka bumi untuk memusnahkan dan merusak tanaman dan binatang ternak. Allah tidak menyukai kerusakan (205). Apabila dikatakan kepadanya “bertakwalah kepada Allah” maka bangkitlah kecongkakan (kesombongan) yang menyebabkan dosa. Maka cukuplah baginya (balasan) neraka jahanam, dan  merupakan seburuk-buruknya tempat tinggal (206).” ( QS al-Baqarah: 204-206).

Sebab diturunkanya ayat di atas (Asbab an-Nuzul) adalah; suatu ketika seseorang dari kaum musyrikin yang bernama al-Akhnas bin Syariq mendatangi Nabi, menampakan keislaman dan keimananya kepada Nabi dan mempersaksikan hatinya kepada Tuhan di hadapan Nabi, lalu al-Akhnas pulang dan di tengah perjalananya dia melewati perkebunan milik kaum muslimin lantas membakar serta membunuh keledai milik mereka. (Baca: Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 282-283; Prosedur Utang-Piutang)

Ayat di atas memberikan peringatan serta ajakan untuk berhati-hati dalam menjalani kehidupan, baik dalam permasalahan dunia maupun agama. Sebab Allah mengetahui adanya manusia yang berpenampilan baik namun menyimpan fitnah, permusuhan, kerusakan dan niat busuk dalam hatinya.

Baca Juga :  Kerajaan Safawi: Kerajaan Gerakan Tarekat Bermazhab Syiah

Imam al-Razi dalam karyanya Mafatih al-Ghaib menyebutkan lima ciri perusak di muka bumi, sebagai berikut:

Pertama, dalam berbicara memakai kata-kata yang halus serta tidak menyinggung perasaan dan membuat hati para pendengar takjub, heran dan simpati kepadanya.

إن من عباد الله قوما ألسنتهم أحلى من العسل وقلوبهم أمر من الصبر

“ Sungguh sebagian dari hamba Allah itu ada kaum yang lisan mereka lebih manis dari pada madu, dan hati mereka pahit melebihi buah brenuk.” (HR Tirmidzi).

Kedua, berupaya keras meyakinkan orang lain supaya mereka menganggap benar atas perkataan dan perbuatanya, sampai-sampai mereka berkata “Allah menyaksikan kebenaran perkataan kami“ atau bersumpah.

Ketiga, dalam hatinya menyimpan seribu fitnah dan permusuhan.

Nabi bersabda :

إن أبغض الرجال إلى الله الألد الخصم

“Sesungguhnya laki-laki paling membuat murka Allah ialah mereka yang paling memusui“ (HR Muslim).

Keempat, ketika berpaling dari hadapan umum, maka mencari kesempatan menyebarkan permusuhan, pertikaian, koflik dan kerusakan. Imam al-Razi berkata:

 أن الدين الحق أمر أن أولهما العلم وثانيهما العمل فكذا الدين الباطل أمران أولهما الشهبات وثانيهما فعل المنكرات

Kebenaran agama ada dua; ilmu pengetahuan dan amal.  Kebatilan (kerusakan) agama ada dua; sibuk membuat pertikaian serta konflik dan melakukan kemungkaran.“

Kelima, sulit menyadari diri sendiri serta tidak akan menerima sebuah nasihat.

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya mengisahkan tragedi di masa raja Harun al-Rasyid:

Raja Harun al-Rasyid suatu ketika didatangi oleh seorang laki-laki dari kaum Yahudi dan dia tidak lekas keluar untuk menemuinya. Setelah lama laki-laki tersebut menunggu, Harun al-Rasyid keluar dari tempatnya. Laki-laki tersebut berkata “Wahai amirul mukminin, takutlah kamu kepada Tuhan (sebab saya sudah lama menunggumu)”. Raja langsung bersujud kepada Tuhan atas kesalahanya (membiarkan yahudi menunggunya lama).

Pada kesempatan lain Raja Harun al-Rasyid bertemu seorang laki-laki lain dari golongan Yahudi. Raja dimohon untuk menasihatinya namun tidak menerima permohonan tersebut sebab tidak mungkin dia akan menerima nasihatnya, lalu membacakan ayat:

وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْأِثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ

Baca Juga :  Kerajaan dan Negara dalam Perspektif Ibnu Khaldun

“Apabila dikatakan kepadanya “bertakwalah kepada Allah” maka bangkitlah kecongkakan (kesombongan) yang menyebabkan dosa. Maka cukuplah baginya (balasan) neraka jahanam, dan  merupakan seburuk-buruknya tempat tinggal” (QS. al-Baqarah: 206).

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here