Tafsir Surah al-Baqarah Ayat 183; Sejarah Kewajiban Puasa Ramadan

3
1346

BincangSyariah.Com – Ayat yang mendasari kewajiban puasa Ramadan terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 183 sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Dalam bahasa Arab, “puasa” disebut dengan “as-shiyam” yang memiliki makna etimologis “al-imsak” atau “menahan” secara mutlak, baik menahan diri dari makan, minum, berbicara, nikah atau berjalan. (Baca: Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 282-283 tentang Prosedur Utang-Piutang)

Contohnya adalah perkataan Maryam, “inni nadzartu li ar-rahmani shauman fa lan ukallima al-yauma insiyya” atinya: “…maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. Puasa yang dimaksud Maryam adalah menahan diri tidak berbicara dengan orang lain.

Kemudian secara terminologi puasa adalah: Menahan diri dari semua perkara yang membatalkan, dan dilakukan dengan cara-cara tertentu.

Asbabaun Nuzul

Para mufassir menyampaikan dua riwayat terkait asbabun nuzul ayat tersebut:

Pertama, dari Mu’ad bin Jabal, Rasulullah tiba di Madinah, kemudian melaksanakan puasa Asyura dan tiga hari di setiap bulan. Lalu Allah azza wa jalla menurunkan ayat yang mewajibkan puasa Ramadan, yaitu: “yaa ayyuha al-ladzina amanu kutiba ‘alaikum ash-shiyamu kama kutiba ala al-ladzina min qablikum”, sampai ayat: “wa ala al-ladzina yuthiqunahu fidyatun tha’amu miskin”.

Kedua, Muqathil bin Sulaiman berkata: Labid al-Anshari dari bani Abdi al-Asyhal sudah lanjut usia, sehingga tidak mampu berpuasa, kemudian bertanya kepada Nabi, “Apa yang diwajibkan bagi orang yang tidak mampu berpuasa?” Kemudian Allah menurunkan ayat, “yaa ayyuha al-ladzina amanu kutiba ‘alaikum ash-shiyamu kama kutiba ala al-ladzina min qablikum”, sampai ayat: “ayyaman ma’dudat…” dan seterusnya.

Baca Juga :  Mengenal Syekh Mahfudz Al-Tarmasi: Ulama Pacitan yang Mengajar Di Masjid Al-Haram

Bangsa Pra Islam Telah Mengenal Puasa

Puasa bukanlah ibadah yang baru, pada masa pra-Islam banyak bangsa dengan beragam agama dan kepercayaan yang dianut sudah mengenal puasa sebagai bentuk ritual terhadap sesembahan mereka, termasuk agama dan kepercayaan yang tidak bersumber dari ajaran samawi.

Ali Ahmad al-Jurjawi menjelaskan dalam Hikmatu at-Tasyri’ wa Falsafatuh, bangsa Fenisia dan Mesir kuno sudah mengenal dan mempraktikkan puasa untuk menghormati Dewi Isis atau Aset. Bangsa Romawi kuno berpuasa untuk menghormati Dewi Ceres. Bangsa Yunani kuno juga berpuasa sebelum mereka turun ke gua Dewa Trophonius.

Bangsa Yahudi dan Nasrani juga telah mengenal puasa sebagaimana yang akan dijelaskan nanti.

Demikian pula bangsa Arab pra-Islam telah mengenal puasa sebagaimana yang disampaikan Aisyah dalam Sahih Bukhari, “Asyura adalah hari yang digunakan berpuasa oleh kaum Quraisy pada masa jahiliyah.”

Islam Mewajibkan Puasa

Puasa yang sudah lama dikenal itu, kemudian diwajibkan bagi kaum muslimin pada bulan Sya’ban tahun ke-dua hijriyah dan menjadi salah satu rukun Islam.

Perintah wajib menjalankan puasa dipahami dari kata “kutiba ‘alaikum” dalam ayat di atas yang oleh para mufasir diartikan “furidha ‘alaikum” (difardukan atau diwajibkan atas kalian). Makna tersebut sama dengan kata “kutiba” dalam ayat: “Kutiba ‘alaikum al-qitaalu wa hua kurhun lakum” yang artinya: “diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci…” (Q.S. Al-Baqarah [02] : 216).

Puasa Umat Islam dan Umat Sebelumnya

Kewajiban puasa bagi umat Islam itu sama dengan kewajiban yang sudah ditetapkan Allah bagi umat-umat penganut agama samawi yang lain.

Baca Juga :  Habib Ali al-Habsyi: Pengarang Kitab Maulid Simthud Duror

Ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib dan Ibnu Adil dalam Tafsir al-Lubab menyampaikan dua interpretasi yang berbeda tentang persamaan puasa umat Islam dengan puasa umat sebelumnya:

Pertama, yang disamakan adalah hukum wajibnya. Artinya ibadah puasa juga diwajibkan atas para Nabi dan umat terdahulu, sejak nabi Adam sampai sekarang.

Kedua, yang disamakan adalah waktu dan jumlahnya, sebagaimana diriwayatkan, Allah telah mewajibkan puasa Ramadan untuk bangsa Yahudi dan Nasrani.

Yahudi kemudian meninggalkan puasa Ramadan tersebut, diganti dengan puasa satu hari di setiap tahun. Mereka mengira, hari tersebut adalah hari dimana Allah telah menenggelamkan Fir’aun. Pada kenyataannya, mereka tidak benar, karena hari tenggelamnya Fir’aun adalah hari Asyura sebagaimana dijelaskan Rasulullah.

Sedangkan Nasrani, mereka telah melaksanakan puasa Ramadan dalam waktu yang cukup lama. Kemudian pada suatu saat, puasa yang mereka lakukan bertepatan dengan musim panas yang ekstrem, sehingga mereka merasa berat ketika dalam perjalanan atau ketika mencari kebutuhan hidup.

Ulama Nasrani kemudian sepakat, memindah puasa Ramadan pada bulan antara musim dingin dan musim panas, yaitu pada musim semi.

Ketika melakukan perubahan mereka mengatakan, “Tambahkanlah sepuluh hari dari puasa kalian, sebagai kafarat dari perbuatan yang sudah kalian lakukan.”.

Dengan demikian, puasa mereka berjumlah empat puluh hari.

Kemudian pada suatu saat raja mereka menderita sakit, dan bernazar, jika Allah menyembuhkan sakitnya, dia akan menambahkan puasa tujuh hari, dan sembuhlah dia.

Setelah itu, pada masa raja berikutnya, dia mengatkan, “Lalu bagaimana tiga hari yang tersisa ini?” Maka dia menyempurnakan puasa untuk kaum Nasrani menjadi lima puluh hari.

Kejadian inilah yang dikehendaki Allah dalam firmanNya, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah…” (Q.S. at-Taubah [09] : 31)

Baca Juga :  Sejarah Puasa Ramadhan

Hikmah Disyariatkan Puasa Sebagaimana Umat Terdahulu

Allah menyampaikan informasi tentang persamaan kewajiban puasa umat Islam dengan umat terdahulu, karena mengandung banyak hikmah, di antaranya:

Mengingatkan tentang pentingnya puasa, yaitu untuk mengikuti Nabi Muhammad dan Nabi-nabi terdahulu.

Puasa adalah ibadah yang berat, dan sesuatu yang berat akan terasa ringan jika sudah lumrah. Umat Islam tidak boleh terbebani dengan kewajiban puasa, karena umat-umat terdahulu juga melakukan kewajiban tersebut.

Hikmah lainnya adalah agar umat Islam bersemangat melaksanakan puasa, tidak meninggalkannya, bahkan seharusnya semangat mereka melebihi umat-umat terdahulu, karena Allah sudah menyebut mereka sebagai umat terbaik.

Tujuan Puasa

Allah mewajibkan puasa agar kita bisa mencapai derajat takwa. Pada saat puasa, kita akan membatasi asupan makanan dalam waktu tertentu yang menyebabkan tubuh menjadi lemah, sehingga syahwat untuk melakukan kemaksiatan menjadi berkurang.

Derajat muttaqin (orang-orang yang bertakwa) itu hanya akan diraih oleh orang yang melakukan puasa secara sempurna, meninggalkan semua larangan yang bersifat lahiriyah atau batiniah, serta melakukan adab-adabnya.

Menurut Rasulullah, puasa adalah “junnah” atau perisai; perisai dari kemaksiatan, perisai dari siksaan akhirat, dan perisai dari penyakit yang timbul dari makanan dan minuman.

Semoga kita bisa melaksanakan puasa Ramadan kali ini dengan baik dan sempurna, sehingga menjadi hamba-hamba yang dijauhkan dari kejahatan nafsu, keburukan maksiat, dan pedihnya siksa akhirat, juga menjadi hamba-hamba yang ridha dan diridhai Allah Swt. []

3 KOMENTAR

  1. […] “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. al-Baqarah [02] : 194). (Baca: Tafsir Surah al-Baqarah Ayat 183; Sejarah Kewajiban Puasa Ramadan) […]

  2. […] Puasa dan Semenanjung Arab tentu tidak bisa dilepaskan antara satu dan lainnya.  Wajar saja sebab, kawasan ini adalah satu – satunya tempat diturunkannya ayat – ayat Al-Qur’an termasuk ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan dengan segala tahapan penyariatannya. (Baca: Tafsir Surah al-Baqarah Ayat 183; Sejarah Kewajiban Puasa Ramadan) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here