Tafsir Surah Al-Baqarah 187; Bersetubuh Suami-Istri Saat Iktikaf

0
1620

BincangSyariah.Com – Surah al-Baqarah ayat 187 berbicara tentang hukum bersetubuh di malam Ramadan, tentang batas waktu yang diperbolehkan makan, minum dan bersetubuh, juga menjelaskan hukum bersetubuh pada saat iktikaf. Allah Swt. berfirman:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beriktikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”

Asbabun Nuzul

Saat awal disyariatkan puasa Ramadan, makan, minum dan bersetubuh pada malam hari hukumnya halal selama belum tidur dan belum melakukan salat isya di akhir malam. Jika salah satunya sudah dilakukan, maka mereka diharamkan makan, minum dan bersetubuh sampai malam berikutnya. (Baca: Tafsir Surah al-Baqarah Ayat 183; Sejarah Kewajiban Puasa Ramadan)

Hukum tersebut terasa berat bagi para sahabat, hingga pada suatu malam, Umar bin Khattab menyetubuhi istrinya setelah salat isya. Setelah mandi, Umar merasa menyesal, menagis dan mencela dirinya sendiri.

Umar pun mendatangi Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah! Aku meminta maaf kepada Allah dan kepadamu atas kesalahan yang telah kulakukan. Tadi malam, aku pulang ke rumah setelah salat isya, kemudian aku mencium bau wangi dan aku tergoda dengan nafsuku, lalu aku menyetubuhi istriku”.

Nabi kemudian bersabda, “Engkau tidak patut melakukan itu wahai Umar!

Baca Juga :  Tiga Kesalahan Orangtua dalam Mendidik Anak

Setelah itu beberapa orang pria berdiri, mengaku telah melakukan perbuatan seperti yang telah dilakukan Umar.

Kemudian turunlah ayat di atas yang menjelaskan hukum menyetubuhi istri pada malam Ramadan.

Hukum Bersetubuh pada Malam Ramadan

Ayat di atas menjelaskan kehalalan menyetubuhi istri di malam Ramadan, dan menasakh hukum yang berlaku sebelumnya. Penasakhan tersebut menjadi kabar baik yang menggembirakan para sahabat.

Istri adalah Pakaian Suami, Suami adalah Pakaian Istri

Istri adalah pakaian suami, demikian pula istri adalah pakaian suami, karena masing-masing saling menjadi penenang pasangannya. Selain itu, ketika tidur suami-istri saling terbuka dan berada dalam satu selimut yang sama, sehingga sangat dekat seperti sebuah pakaian.

Selain itu, fungsi pakaian adalah untuk menutupi, suami-istri juga demikian, saling menutupi kekurangan masing-masing, juga saling menjaga agar dijauhkan dari perbuatan yang tidak halal. Nabi bersabda, “Siapa saja yang menikah  maka dia telah menjaga dua pertiga agamanya.”

Faktor kedekatan suami-istri inilah yang menyebabkan suami tidak mampu bersabar untuk menjauhi istrinya. Sehingga Allah memberi keringanan, memperbolehkan bersetubuh pada malam bulan Ramadan.

Kemudian bagi yang terlanjur melakukan persetubuhan sebelum adanya perubahan hukum, sebagaimana yang terjadi pada Umar bin Khattab, maka Allah menerima taubat dan memaafkan mereka.

Setelah itu mereka diperintahkan agar mencari sesuatu yang telah ditetapkan Allah dari persetubuhan tersebut, yaitu mengharapkan keturunan yang salih. Mereka juga diperintahkan menjaga diri dari perbuatan yang haram.

Batas Waktu Makan, Minum, dan Bersetubuh (Waktu Awal Puasa)

Pada malam Ramadan, yang boleh dilakukan bukan hanya bersetubuh, tetapi juga makan dan minum. Allah menjelaskan tentang kebolehan makan dan minum sebagai respon atas kejadian yang dialami sebagian sahabat, yaitu Qais bin Sharmah al-Anshari.

Baca Juga :  Berapa Lama Dajjal Menjelajah Bumi Sebelum Kiamat?

Dikisahkan, ketika puasa Qais selalu bekerja di kebun miliknya, dan di sore hari dia pulang ke rumah dengan membawa kurma. Malam harinya, dia berkata kepada istrinya, “Bawakanlah makanan untukku!”.

Waktu itu, Istri Qais ingin memberi makanan hangat untuknya, sehingga terlebih dahulu memasak. Setelah selesai, Qais malah tertidur karena lelah bekerja seharian.

Qais kemudian dibangunkan untuk makan, tetapi dia tidak suka mendurhakai Allah dan Rasul. Akhirnya malam itu dia tidak makan, dan esok harinya kembali berpuasa dengan susah payah, sampai pada waktu siang, Qais pinsan. Setelah tersadar, Qais mendatangi Nabi dan pada akhirnya turunlah ayat di atas.

Batas waktu diperbolehkan makan, minum dan bersetubuh pada malam Ramadan adalah sampai tampak benang putih dari benang hitam, karena tampaknya benang putih tersebut menjadi pertanda dimulainya waktu melakukan puasa.

Yang dimaksud dengan benang putih adalah fajar shadiq yaitu fajar yang melintang (transversal) di cakrawala sebelum sinarnya menyebar. Kemudian yang dimaksud benang hitam adalah warna gelap malam yang memanjang yang terlihat bersamaan dengan munculnya fajar shadiq.

Semula sahabat belum memahami apa yang dimaksud dengan benang merah dan benang putih. Sehingga ketika mereka akan berpuasa, ada yang mengikatkan benang merah dan benang putih di kaki. Mereka tetap makan minum di malam hari sampai waktu agak terang dan warna benang merah dan putih itu terlihat jelas oleh mereka.

kemudian Allah menjelaskan bahwa warna putih itu adalah fajar, dan mereka pun menjadi paham bahwa yang dikehendaki Allah adalah waktu siang dan malam.

Batas Akhir Berpuasa dan Hukum Wishal

Batas terakhir melakukan puasa adalah masuknya waktu malam, yaitu saat tenggelamnya matahari. Jika seseorang meneruskan puasa sampai malam hari, maka tidak mendapatkan pahala, dan justru perbuatan tersebut dilarang, karena waktu malam bukanlah waktu untuk berpuasa. Dengan demikian dapat dipahami, melakukan puasa wishal yaitu melakukan puasa berturut-turut tanpa berbuka di malam hari hukumnya adalah haram.

Baca Juga :  Belajar Takut kepada Tuhan dari Jalaluddin Rumi

Munurut Sayyid Thanthawi dalam al-Wasith, ketika waktu berbuka tiba, orang yang berpuasa harus membatalkan puasanya walaupun dengan meminum sedikit air. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, sebelum melakukan shalat, terlebih dahulu beliau berbuka dengan kurma matang, kalau tidak ada maka dengan kurma kering, dan kalau tidak ada maka dengan beberapa teguk air.

Sementara al-Khazin dalam Lubab at-Ta’wil menyebutkan dua pendapat yang berbeda tentang apakah orang yang berpuasa wajib berbuka ketika matahari telah tenggelam? Menurut pendapat pertama, berbuka hukumnya wajib, karena Rasulullah melarang puasa wishal.

Sedangkan menurut pendapat kedua, tidak wajib berbuka karena puasa akan batal dengan sendirinya saat matahari tenggelam, baik orang tersebut makan atau tidak.

Hukum Mendatangi Istri Saat Iktikaf

Di atas telah disebutkan, bersetubuh dengan istri pada malam Ramadan hukumnya halal. Hukum tersebut bersifat umum, berlaku untuk orang yang iktikaf atau tidak iktikaf.

Keumuman tersebut kemudian dibatasi oleh Allah, sehingga bagi yang sedang iktikaf tidak boleh bersetubuh dengan istrinya di rumah.

Dikisahkan oleh al-Khazin dalam Lubab at-Ta’wil, segolongan sahabat melakukan iktikaf di masjid, ketika ingin bersetubuh dengan istrinya, maka mereka keluar dari masjid, pulang ke rumah untuk berduaan dengan istrinya. Setelah selasai, mereka lalu mandi dan kembali lagi ke masjid.

Perbuatan tersebut kemudian dilarang oleh Allah, tidak boleh mendatangi istri di rumah untuk bersetubuh, sebelum iktikaf diselesaikan.

Bersetubuh dengan istri di rumah pada saat iktikaf hukumnya haram dan bisa membatalkan iktikaf. Sedangkan bercumbu yang tidak sampai mengeluarkan sprema, seperti mencium dan lain sebagainya, menurut mayoritas ulama dan pendapat adzhar Syafi’iyah, hukumnya makruh dan tidak membatalkan iktikaf. Kemudian menyentuh istri yang tidak disertai syahwat hukumnya boleh dan tidak membatalkan iktikaf.[]

Wallahu A’lam. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here