Tafsir Bahrul Ulum: Upaya Menyingkap Kemukjizatan Al-Qur’an

0
1079

BincangSyariah.Com – Abu al-Laits as-Samarqandi, seorang ulama yang hidup pada abad ke-4 H menulis bahwa karya tafsir merupakan kebutuhan umat Islam dalam memahami al-Qur’an. Melalui tafsir, makna-makna yang terkandung dalam al-Qur’an diharapkan mampu tersingkap lebih luas dan misinya sebagai kitab pedoman kehidupan benar-benar bisa dirasakan oleh umat muslim.

Di antara upaya untuk mewujudkan hal tersebut, Abu al-Laits as-Samarqandi menulis karya tafsir al-Qur’an bernama Tafsir Bahrul Ulum atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Tafsir as-Samarqandi. Mari kita mengenal tafsir tersebut.

Tafsirul Bahrul Ulum atau Tafsir as-Samarqandi merupakan tafsir komprehensif 30 juz. Dalam tafsirnya, Al-Samarqondy banyak menukil pendapat dari mufassir sebelumnya maupun dari ahli bahasa, beliau menyandarkan penukilannya segala yang berkaitan dengan asbab nuzul, nasikh-mansukh dan qiroat dari ulama yang ahli di bidangnya.

Mukadimah Mengapa Keberadaan Tafsir Al-Qur’an Penting ?

As-Samarqandi memulai tafsirnya tidak dengan mukaddimah yang berisi proses kreatif pembuatan tafsirnya, metode yang beliau pakai, alasan penamaan tafsir dan sejenisnya, melainkan beliau menggantinya dengan bahasan seputar pentingnya upaya pengadaan tafsir al-Qur’an.

Dalam pembahasan tersebut beliau mencantumkan sederet dalil tentang keutamaan al-Qur’an, keutamaan tafsir dan syarat-syaratnya, serta himbauan beliau bahayanya tafsir menggunakan pendapat pribadi yang mennyelisihi ajaran Islam.

Cara Abu Laits Al-Samarqandi Mengutip Hadis

Dalam tafsirnya, Al-Samarqandi menukil periwayatan dari segenap sahabat dan tabi’in seperti Ibnu Abbas, Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Ka’b, Mujahid, Hasan al-Bashri, serta ulama-ulama lain yang ahli tafsir dan periwayatan seperti Mujahid, Muqotil bin Sulayman, Qotadah bin Di’amah, dan beberapa tafsir bercorak bahasa seperti Az-Zujaj, al-Farra’, Ibnu Qutaybah ad-Dinawary, Abu Ubaydah Ma’mar bin al-Matsna, dan lain-lain.

Akan tetapi, tambah adz-Dzahabi, beliau terkadang tidak mencantumkan sanadnya secara lengkap pada perawi yang meriwayatkan hadis tersebut, bahkan di beberapa periwayatan beliau jarang mencantumkan sanad.

Baca Juga :  Nabi Hanya Empat Kali Disebut dengan Namanya “Muhammad” di dalam Al-Qur'an

Dalam hal ini, menurut perbandingan adz-Dzahabi, Al-Samarqandi tidak seperti At-Thabari yang menyandarkan sanad hadis kepada perawi yang meriwayatkan. Hal ini sejatinya bukan tanpa alasan, karena sebagaimana dilarifikasi oleh Al-Samarqandi dalam kitabnya yang lain Bustanul Arifin, beliau mengatakan, “Saya menghapus sanad hadis dalam periwayatan tidak lain sebagai langkah mempermudah orang dalam membacanya, juga sebagai keirngan bagi mereka yang berupaya mengkajinya, dan agar tersampaikan misinya sebagai pembawa manfat untuk orang banyak.” Hal ini tentu tidak berlaku secara mutlak pada semua periwayatan yang dicantumkan al-Samarqandi, karena dalam beberapa periwayatan beliau mencantumkannya secara utuh.

Dari Ragam Qiroat Al-Qur’an dan Israiliyyat 

Dalam kaitannya dengan pencantuman ragam qiroat, beliau tetap mencantumkan namun sekadarnya saja. Demikian pula beliau menyandarkan penafsiran kepada ahli bahasa namun dengan tidak terlalu sering. Saat menjumpai ayat yang saling menjelaskan satu sama lain, Al-Samarqandi mengupayakan hal tersebut dalam tafsirnya. Hal ini tentu lahir dari kearifannya bahwa antara satu ayat dengan ayat al-Qur’an lain keduanya saling menjelaskan satu sama lain.

Menurut Iyazi, Al-Samarqandi terkadang meriwayatkan hadis dhoif dalam tafsirnya, semisal menukil periwayatan dari al-Kalbi atau riwiayat Asbath dari As-Sady, tanpa disertai penjelasan status kedhaifannya.

Riwayat israriliyyat (riwayat yang bersumber dari informasi simpang siur dari Bani Israil) kadang terdapat pula dalam tafsirnya, tanpa disertai penyandaran periwayatan dan status derajat riwayat tersebut, hal ini misalnya kita dapati dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an, seperti pada surat al-Baqarah ayat 102 yang berkisah Harut dan Marut, surat al-Baqarah ayat 36, pada surat al-Baqarah ayat 250 yang berkisah tentang Jalut dan Thalut, dan beberapa ayat-ayat lain yang secara konten hal tersebut bertentangan dengan nash dan akal sehat.

Baca Juga :  Tiga Aspek Kemukjizatan Al-Qur'an

Al-Samarqandi, kendati beliau merupakan penulis banyak kitab fiqih, namun saat menguraikan ayat-ayat hukum beliau tidak terlalu berpanjang kalam di dalamnya, beliau hanya menyampaikan hukum fiqih hanya sekadar yang dibutuhkan saja.

Hal ini misalnya sebagaimana kita jumpai pada ayat 6 pada surat al-Baqoroh tentang rukun wudhu. Beliau hanya membahas makna ayat secara ringkas, perbedaan qiroat pada lafaz arjulakum (kaki-kaki kalian) dan implikasinya pada perbedaan hukum apakah membasuh atau mencuci kaki tanpa mengurai ragam pendapat ahli fiqih, bahkan ke tahap tarjih (pengunggulan atas mazhab yang dianut). As-Samarqandy membebaskan pembaca untuk membaca qiorat mana yang dikehendaki, hukum mana yang hendak diambil, karena menurutnya Allah memberikan rukhsah atas perbedaan tersebut.

Bagaimana Al-Samarqandi Menafsirkan ?1

Al-Samarqani dalam tafsirnya menyajikan urutan penyebutan nama surat pada awal penafsiran, kemudian disebutkan tempat diturunkannya, keutamaannya, kemudian dimulai dengan penafsiran secara ma’tsur (tafsir melalui penyertaan dalil naqli sebagai penjelas ayat) baik itu dari al-Qur’an, sabda Nabi, ahli bahasa ataupun ahli sastra, serta ahli qiroat untuk menunjukkan keragaman qiroat yang dikandung ayat.

Al-Samarqandi dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an terkadang langsung menafsirkan ayat per ayat sebagaimana kita lihat pada saat beliau menafsirkan ayat 3 surat al-Baqoroh dan ayat 6 secara sendiri-sendiri atau dengan cara mengumpulkan beberapa ayat (terdiri dari 2 atau lebih) kemudian menafsirkannya secara bersamaan, sebagaimana kita lihat pada surat An-Nisa: 158-152, kemudian dilanjutkan dengan pengelompokan 153-157

Tafsir Bahrul Ulum, jika dilihat dari versi cetak yang diterbitkan oleh Darul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut pada tahun 1993, terdiri dari 3 jilid dengan rincian pada jilid 1 berisi muqaddimah tahqiq, muqaddimah dari penulis berupa sekelumit tentang keutamaan al-Qur’an dan penitngnya tafsir, serta tafsir ayat dari al-Fatihah hingga surat al-A’rof.

Baca Juga :  Mimpi Menikah, Apa Maknanya?

Pada jilid kedua berisi tafsir surat al-Anfal hingga al-Ankabut dan jilid 3 berisi tafsir dari surat Ar-Rum sampai an-Nas. Daftar isi disajikan pada setiap jilid tafsir, sehingga memudahkan bagi pembaca untuk menelusuri tafsir yang hendak dicari.

Tafsir Bahrul Ulum, sebagaimana  Bahrul Ulum yang bermakna lautan ilmu, menghadirkan kedalam dan keluasan makna yang terkandung dalam al-Qur’an. Sudah selayaknya kita menikmati anugerah ini dengan menjadikannya sebagai rujukan memahami kitab suci al-Qur’an.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here