Tafsir as-Sulamy: Eksotisme Tafsir Bercorak Tasawuf

0
507

BincangSyariah.Com – Produk tafsir atas Alquran merupakan hal yang niscaya mengisi perkembangan umat Islam. Sejak Rasulullah hidup, ayat-ayat Alquran ditafsirkan dengan sabda Nabi yang memiliki legalitas paling kuat, hal ini karena kemaksuman Rasulullah saw. dari kekeliruan. Salah satu karya tafsir penting adalah Tafsir as-Sulamy.

Pasca Rasulullah wafat, mulai dari kalangan Sahabat, Tabiin hingga generasi paling kontemporer tetap eksis melahirkan produk tafsir. Latar belakang ahli tafsir yang beragam melahirkan corak tafsir yang beragam pula. Subjektvitas keilmuan ahli tafsir kerap terlibat saat menafsirkan ayat Alquran. Hal ini merupakan keniscayaan.

Seorang pakar hukum Islam (pemuka mazhab) akan membuat tafsir bercorak fiqih, seorang ahli sastra Arab akan berupaya membuat tafsir dengan mengedepankan sisi Balagah yang terdapat dalam Alquran, seorang pegiat Tasawuf akan menafsirkan Alquran lewat kacamata Tasawuf yang memiliki ciri khas menggali makna asketisme pada ayat.

Di antara ahli Tasawuf yang terpanggil untuk menafsirkan Alquran adalah Imam As-Sulamy dengan kitab tafsirnya Haqaiq al-Tafsir, Tafsir Alquran al-Aziz.

Imam as-Sulamy: Ulama Sufi yang Mufassir

Sufi terkenal yang bernama lengkap Muhammad bin Musa al-Azdy Abu Abdirrahman as-Sulamy ini dilahirkan pada bulan Ramadan 330 H. Pemuka sufi dan gerakan tarekat ini memiliki kemumpunan dalam ilmu hakikat, ilmu tersebut didapat dari ayah dan kakeknya. Imam as-Sulamy termasuk ulama yang produktif, karya-karyanya berjumlah ratusan.

Selain bergelut dalam bidang Tasawuf, beliau juga aktif mendalami hadis. As-Sulamy berguru kepada pemuka ahli hadis (kibar al-muhaddisin), ia juga meriwayatkan hadis dari apa yang da dengar. Taj al-Din al-Subki, misalnya, menilai beliau sebagai kredibel (tsiqoh).

Imam as-Sulamy adalah sufi yang melandaskan amaliyah dan karyanya di atas koridor syariat yang benar. Arsyad Abrar (alumnus doktoral pascasarjana UIN Jakarta tahun 2015) dalam disertasinya berjudul Epistemologi Tafsir Sufi menyimpulkan kajiannya terhadap dua tafsir bercorak tasawuf ; Lathaif al-Isyarat karya al-Qushayri dan Haqaiq al-Tafsir karya as-Sulamy, bahwa tafsir Alquran yang diterapkan oleh sebagian kelompok sufi memiliki relasi yang rasional, yang pada dasarnya tidak bertentangan dengan Alquran itu sendiri.

Baca Juga :  Abdullah Yusuf Ali dan Tafsir Rujukan di Barat

Tafsir as-Sulamy memiliki corak Tasawuf dalam penafsirannya, aliran yang berupaya menafsirkan makna batiniah ayat, tentunya dengan tetap berpegangan pada koridor syariat yang benar. Dr. Mani’ Abdul Halim Mahmud, seorang dosen al-Azhar mengakui kelurusan manhaj yang dipakai oleh As-Sullamy dalam menafsirkan Alquran.

Dalam Tafsir as-Sulamy, Imam as-Sullamy tidak menafsirkan setiap ayat yang terdapat dalam Alquran, melainkan hanya sebagian ayat-ayat saja. Mengenai sumber penafsiran, Imam as-Sullamy lebih mengedepankan mengambil atsar sebagai bahan penafsiran.

Saat kami memeriksa langsung kitab tafsir beliau, tampak metode yang dipakai oleh Imam as-Sullamy saat menyajikan tafsirnya. Kitab ini, jika berpegang pada terbitan Darul Kutub al-Ilmiyyah tahun 2011, terdiri atas dua jilid dengan masing-masing jilid setebal 450 halaman.

Setelah membuka tafsir dengan basmalah, Imam as-Sullamy menamai setiap pembahasan surat dengan penyebutan nama surah atau dengan ungkapan dzakara ma qala fi suratil anbiya (penyebutan diskursus mengenai surat al-Anbiya’), kemudian beliau tafsirkan ayat yang kiranya penting untuk diungkap maknanya. Demikian yang terjadi pada surat-surat lainnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.