Tafsir Al-Qoriah Ayat 1-5: Gambaran Kondisi Hari Kiamat

1
18479

BincangSyariah.Com – Banyak sekali ayat al-Quran yang menggambarkan kondisi hari kiamat. Bahkan, tidak sedikit surah yang mengkhususkan pembahasan tersebut. Di antaranya Q.S Al-Qori’ah yang termasuk ke dalam surah Makkiyyah. Ada perbeedaan pendapat mengenai jumlah ayatnya, ada yang menyebut 8 ayat (ulama Syam dan Basrah), 10 ayat (ulama Makkah dan Madinah), dan 11 ayat (ulama Kuffah).

Allah berfirman dalam Q.S Al-Qori’ah ayat 1-5:

الْقَارِعَةُ (۱)  مَا الْقَارِعَةُ (۲)  وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ (۳)  يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ (۴)  وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ (۵)

(1) al-qāri’ah  (2) mal-qāri’ah (3) wa mā adrāka mal-qāri’ah (4) yauma yakụnun-nāsu kal-farāsyil-mabṡụṡ (5) wa takụnul-jibālu kal-‘ihnil-manfụsy

Artinya: “(1) Hari Kiamat, (2) apakah hari Kiamat itu? (3) Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? (4) Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, (5) dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.

Tema utama surah ini adalah hari kiamat, karenanya menurut al-Biqa’i surat ini dinamakan dengan al-Qari’ah (hari kiamat). Walaupun pembahasan surah ini dibagi menjadi dua, yaitu: menggambarkan hari kiamat, dan amal perbuatan manusia.

Syeikh ‘Athiyyah Muhammad Salim mengatakan: sesuatu yang memiliki banyak nama,ia adalah sesuatu yang dahsyat/besar. Seperti yang kita ketahui, banyak surah al-Quran yang berarti hari kiamat. Namun, nama-nama tersebut bukanlah sinonim. Karena setiap nama, mempunyai artinya masing-masing.

Dalam tafsir al-Misbah, Kata qari’ah berasal dari kata qara’a yang berarti mengetuk. Ini diibaratkan sebagai suara yang menggelegar dari kehancuran alam semesta yang mengetuk hati dan pikiran manusia. Sedangkan menurut al-Ragib al-Asfahani, qara’a berarti memukul suatu ketukan dengan sesuatu.

Semua pakar bahasa sepakat, kata qari’ah digunakan untuk menunjuk peristiwa yang besar dan mencekam, baik disertai suara yang keras maupun tidak. Dalam tafsir Jalalayn, pengulangan kata qari’ah dalam ayat ke-2, bertujuan untuk menambahkan ungkapan ketakutan yang mencekam.

Baca Juga :  Penjelasan Nabi tentang Islam, Iman, dan Ihsan

Dalam ayat ketiga pun, terdapat pengulangan yang ditambah dengan redaksi ‘wa ma adraka’. Suatu kaidah dalam ‘ulum al-Qur’an mengatakan bahwa, suatu hal yang ditambah dengan redaksi tersebut memiliki makna yang sangat luar biasa, dan tidak terjangkau oleh akal manusia.

Menurut Quraish Shihab, Kata al-Farasy berarti belalang yang baru lahir. Ketika mereka terlahir, mereka saling menindih dan hilang arah. Dan dalam tafsir Jalalyn dijelaskan bahwa, manusia berada dalam kebingungan, karenanya mereka hendak berlari beriringan dengan semrawut. Hal tersebut berlangsung sampai mereka dipanggil untuk menjalani penimbangan amal mereka.

Kata al-‘ihn diartikan dengan bulu, pada ayat  itu gunung-gunung diumpamakan dengan bulu yang dapat berhamburan dengan mudahnya terbawa angin. Hamka menjelaskan dalam tafsir al-Azhar, gunung ketika itu sudah tidak berfungsi lagi sebagai tiangnya bumi. Letusan pun terjadi di setiap gunung, diiringi dengan gempa yang dahsyat. Lahar yang panas pun bergejolak, mengalir seperti bulu yang berhamburan.

Itulah gambaran yang sangat dahsyat tentang hari kiamat. Tentang manusia yang sangat kacau, dan bencana alam yang terjadi dimana-mana. Menandakan, tidak ada tempat yang aman untuk berdiam diri lagi ketika hari kiamat terjadi. Semoga hal tersebut menjadi pengingat kita untuk senantiasa mengerjakan amal yang baik. Wallahu a’lam bi ash-showab.

Tabik

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here