Hukum Tabarukan dengan Gambar Sandal Rasulullah

0
2030

BincangSyariah.Com – Showi Aziz (alm.), penceramah terkemuka di Pulau Seribu Pesantren, Madura, pernah mengeluarkan sebuah kaidah: kullu ma yata‘allaqu bihi syarifun fa huwa syarifun (segala sesuatu yang berhubungan dengan sesuatu yang mulia, maka sesuatu tersebut ikut dimuliakan).

Beliau memberikan contoh: kulit kambing yang dijadikan kulit (cover) al-Qur’an tidak boleh disentuh apabila tidak memiliki wudu. Sebab, kulit kambing tersebut menjadi bagian dari al-Qur’an.

Ia ikut dimuliakan karena menjadi satu kesatuan dengan al-Qur’an yang memang mulia. Berbeda ketika kulit kambing tersebut dijadikan bahan rebana, maka ia boleh ditabuh siapapun dalam keadaan apapun sesuai kemauan masing-masing penabuh.

Dengan demikian, bekas orang saleh (seperti bajunya, sandalnya, kopiahnya, dan lain sebagainya) menjadi mulia karena berhubungan dengan orang yang mulia di sisi Allah. Sehingga ia ikut dimuliakan karena kecipratan kemuliaan yang dimiliki pemiliknya.

Dalam hal ini, Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdhar pernah mengambil tanah (dalam rangka tabarukan) yang berada di atas makam seorang wali terkemuka di Daw‘an, Yaman (Habib Zain bin Smith, al-Fawa’id al-Mukhtarah, 2008: 568-569).

Ketika ditanya dalil yang membolehkan melakukan hal itu, maka sang Habib menyodorkan surat Thaha (20): 96: “maka aku ambil segenggam (tanah dari) jejak rasul (Malaikat Jibril as.).”

Ayat tersebut merupakan kelanjutan dari beberapa ayat sebelumnya yang menceritakan tentang Samiri yang membangkang dari ajaran Nabi Musa as. dan menyesatkan umatnya dengan menyembah patung anak sapi yang terbuat dari emas (lihat Thaha (20): 85-97).

Oleh karena itu, sebagian mufasir menyebutkan bahwa “jejak rasul” di sini mengacu kepada jejak telapak kuda yang ditunggangi Malaikat Jibril as. Disebutkan bahwa Samiri mencampur segumpal tanah dari jejak telapak kuda tersebut dengan emas yang sedang dilebur. Sehingga leburan emas yang sudah bercampur jejak telapak kuda itu berbentuk anak sapi yang mengeluarkan suara (lihat Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, penjelasan surat Thaha (20): 87 & 96).

Di sini dapat dipahami bahwa bekas telapak kuda Malaikat Jibril as. tersebut memiliki peran besar yang menyebabkan leburan emas itu berbentuk anak sapi yang bisa mengeluarkan suara.

Dalam pandangan Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdhar, kuda, telapaknya, dan tanah yang diinjak telapak kuda tersebut menjadi mulia karena kecipratan kemuliaan penunggangnya, yaitu Malaikat Jibril as. Hal ini juga berlaku kepada para wali dan bekas yang berhubungan dengannya (al-Fawa’id al-Mukhtarah, hlm. 569).

Artinya, sesuatu yang berhubungan dengan para wali menjadi mulia karena kecipratan kemuliaan sang wali tersebut. Sang wali menjadi mulia karena mengikatkan diri dengan insan yang teramat mulia (Rasulullah saw.) dan Zat Yang Maha Mulia (Allah). Sehingga dia kecipratan kemuliaan Rasulullah saw. dan Allah sekaligus.

Allah berfirman: “Barangsiapa manghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah (Fathir (35): 10).” Pendek kata, kalau seseorang ingin mendapatkan kemuliaan, maka mendekatlah dan mengikatkan dirilah kepada Zat Yang Mahamulia.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengetengahkan masalah tabarukan dengan gambar sandal Rasulullah saw. Para ulama yang didukung penuh oleh Syekh Yusuf an-Nabhani secara sadar dan sengaja menyebarluaskan gambar sandal Rasulullah saw. Hal ini dilakukan agar umat Islam bisa tabarukan dengan gambar sandal Rasulullah saw. untuk kepentingan tertentu.

Menurut Syekh Yusuf an-Nabhani dalam Jawahir al-Bihar fi Fadha’il a-Mukhtar Shallallahu ‘Alaih wa Sallam (III: 973-974), apabila Ibn Mas‘ud ra. beruntung karena bisa berkhidmat dengan sandal Rasulullah saw. (Baca: Tabarukan Dengan Sandal Wali Allah), maka beliau merasa beruntung karena bisa berkhidmat dengan gambar sandal Rasulullah saw. Sehingga beliau mencap kembali gambar sandal Rasulullah saw. dan meringkas beberapa faedahnya yang terdapat dalam kitab Fath al-Muta‘al fi Madh an-Ni‘al karya Imam Ahmad al-Maqqari.

Beliau mencap ringkasan beberapa faedah itu di sekeliling gambar sandal Rasulullah saw. sehingga menjadi indah dan berharga. Kemudian, orang-orang banyak tabarukan dengan gambar sandal Rasulullah saw. yang telah dicap ulang oleh Syekh Yusuf an-Nabhani tersebut. Mereka menggantung gambar sandal Rasulullah saw. itu di bagian depan rumah mereka masing-masing (hlm. 973).

Di era milenial sekarang ini, gambar sandal Rasulullah saw. semakin viral dan beredar luas dengan model yang semakin beragam, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Ada yang dijadikan logo, hiasan di serban dan songkok, stiker, dan ada juga yang digantung di dinding rumah.

Menurut Imam al-Qasthalani dan Imam al-Maqqari, sebagaimana dikutip Syekh Yusuf an-Nabhani, gambar sandal Rasulullah saw. memiliki beberapa keberkahan. Sehingga atas kekuasaan dan izin Allah setiap Muslim yang tabarukan dengannya akan mendapatkan beberapa kebaikan.

Salah satunya: siapa saja yang memegangnya akan diselamatkan dari kezaliman para pemberontak, dilindungi dari setan yang durhaka, dan dimudahkan melahirkan bagi perempuan yang kesulitan dalam melahirkan apabila dia memegang gambar sandal Rasulullah saw. itu dengan tangan kanan (hlm. 974).

Barangsiapa yang senantiasa membawanya akan disenangi makhluk-makhluk Allah; dimudahkan bermimpi Rasulullah saw. dan ziarah ke makamnya; diselamatkan dari penyakit ain dan sihir; dilindungi dari kezaliman orang-orang jahat; diselamatkan dari gangguan kafilah dan rampok; diselamatkan dari karam ketika berlayar; diselamatkan dari kebakaran rumah dan maling.

Sebab, siapa saja yang bertawasul dengan pemilik sandal tersebut (Rasulullah saw.), maka hajatnya akan terkabul, kesusahan dan kesempitannya akan dihilangkan, dan penyakitnya akan disembuhkan dengan syarat memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah dan Rasulullah saw. (hlm. 974).

Sandal Rasulullah saw. memiliki keistimewaan karena dipakai oleh makhluk paling mulia di alam semesta dan pernah menginjak tempat paling mulia. Beberapa kitab terdahulu menyebutkan bahwa salah satu nama Rasulullah saw. adalah Shahib an-Na‘lain (pemilik dua sandal). Dalam kitab Dala’il al-Khairat karya Imam al-Jazuli disebutkan redaksi salawat: Allahumma Shalli ‘ala Shahib an-Na‘lain.

Menurut Syekh Yusuf an-Nabhani, Allah menyuruh Nabi Musa as. melepas kedua sandalnya ketika berada di lembah suci, Thur Sina’ (lihat Thaha (20): 12) dan tidak mengizinkan Nabi Muhammad saw. melepas sandalnya ketika berada di arasy yang merupakan takhta Tuhan. Selain itu, Rasulullah saw. pernah salat menggunakan kedua sandalnya yang memang suci itu (hlm. 973 & 975).

Dengan demikian, Syekh Yusuf an-Nabhani dan beberapa ulama lain menghormati dan memuliakan gambar sandal Rasulullah saw. bukan karena alasan sandal semata (semisal karena alasan bentuk dan modelnya yang unik), tetapi karena orang yang memakai dan tempat yang pernah diinjak oleh sandal tersebut, yaitu Rasulullah saw. yang merupakan makhluk teragung di alam semesta dan arasy yang merupakan takhta Tuhan.

Sehingga sandal dan gambarnya tersebut kecipratan kemuliaan Rasulullah saw. dan arasy, yang kemudian ikut dihormati dan dimuliakan juga. Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here