Hukum Tabarrukan dengan Kasidah Burdah Karya Imam al-Busiri

1
1347

BincangSyariah.Com – Secara istilah tabarruk diartikan sebagai mencari kebaikan Allah melalui sesuatu. Kata tabarruk berkaitan atau berhubungan dengan kata at-tawassul (tawasul), asy-syafa‘ah, dan al-istigasah. Menurut para ulama dalam al-Mawsu‘ah al-Fiqhiyyah (1986, X: 69-75), Islam telah mensyariatkan tabarrukan dengan beberapa hal, seperti: bismillâh, ḥamdalah, bekas-bekas Rasulullah saw., air zam-zam, waktu dan tempat tertentu ketika melaksanakan akad nikah (seperti hari Jumaat dan di masjid).

Adapun tabarrukan dengan bekas (sesuatu yang berhubungan dengan) Rasulullah saw. yang disyariatkan Islam adalah: air wudu Nabi saw., ludah dan dahaknya, darahnya, rambutnya, sisa air dan makanannya, kukunya, pakaian dan bejananya, sesuatu yang pernah disentuh Nabi saw. dan tempat yang pernah digunakan Nabi saw. melaksanakan salat. Beberapa hal ini didasarkan kepada beberapa hadis dan praktik beberapa sahabat. Sehingga para ulama sepakat bahwa tabarrukan dengan bekas Rasulullah saw. adalah disyariatkan dalam Islam (hlm. 70-74). (Baca: Menurut Habib Umar, Istikamah Baca Kasidah Burdah Dipermudah Mimpi Bertemu Rasulullah)

Dalam konteks Indonesia, KH. M. Ali Manshur mengajak Muslim Indonesia (terutama sekali kalangan Nahdliyin) tabarrukan atau tawasul dengan bismillah, Rasulullah saw., dan para pejuang perang Badar melalui salawat Badar yang beliau gubah sekitar tahun 1960-an. Kenyataan ini teruntai indah dalam bait: tawassalna bi bismillah # wa bi al-hadi rasulillah. Wa kulli Mujahidin lillah # Bi ahl al-badr ya allah (kami bertawasul dengan bismillâh, Rasulullah saw., dan para pejuang yang telah gugur di perang Badar).

Namun demikian, terdapat salah satu kebiasaan masyarakat di kampung penulis (Desa Batukerbuy, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan, Madura), yaitu tabarrukan dengan Burdah yang ditulis oleh Imam Muhammad bin Sa‘id al-Busiri. Tabarrukan ini dilakukan ketika ada salah satu keluarga mereka yang sudah lama sakit parah dan sudah diobati kemana-mana (baik dokter, kiai, maupun dukun), tetapi belum sembuh. Dia berada dalam kondisi antara hidup dan mati. Akhirnya, mereka memilih alternatif lain dengan mengundang seorang kiai kampung dan beberapa kerabat dan tetangga untuk membaca kasidah Burdah secara bersama-sama.

Baca Juga :  Syaikh Ibnu Taimiyah, Sosok Ulama Hebat tapi Banyak yang Tak Suka

Kiai kampung tersebut biasanya mengirim fatihah terlebih dahulu kepada Rasulullah saw., para sahabat, para wali, Imam al-Busiri, para leluhur, dan orang yang sedang sakit parah itu. Setelah itu, dia membaca kasidah Burdah bait demi bait. Sementara kerabat dan tetangga tersebut membaca salawat bersama-sama sampai bait Burdah itu selesai dibaca.  Beberapa salawat yang dibaca biasanya tidak luput dari:

يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا # وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَاوَاسِعَ الْكَرَمِ.

مَوْلاَيَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِماً أَبَدًا # عَلَى حَبِيْبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ.

يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ # يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ فَرِّجْ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ.

 

Biasanya mereka membaca kasidah Burdah sampai tujuh malam. Biasanya ada yang sembuh dan juga ada yang meninggal. Menurut kiai Mustari (salah satu kiai di kampung penulis), tujuannya adalah meminta pertolongan kepada Rasulullah saw. sebagai orang yang paling dekat dengan Allah. Sehingga apabila Allah menghendaki orang yang sakit tersebut panjang umur, maka semoga segera diampuni dosa-dosanya dan disembuhkan. Namun, apabila Allah menghendaki pendek umur, maka semoga dia meninggal dalam keadaan membawa iman dan Islam.

Oleh karena itu, bagaimana sesungguhnya hukum tabarrukan dengan Burdah dalam Islam, sebagaimana biasa dilakukan oleh sebagian masyarakat Nusantara? Baiklah, menurut jumhur ulama, tabarrukan dengan orang-orang saleh dan bekas-bekasnya (seperti bajunya, peluhnya, rambutnya, ludahnya, sisa-sisa makanan dan minumannya dan lain sebagainya) adalah boleh berdasarkan beberapa hadis, sebagaimana dijelaskan oleh ‘Abd al-Fattaḥ al-Yafi‘i dalam at-Tabarruk bi as-Salihin bain al-Mujizin wa al-Mani‘in (2010: 55-57).

Syekh Muḥammad Ba‘atiyyah ad-Du‘ani menyebutkan bahwa ziarah ke makam para nabi dan orang-orang saleh serta bekas-bekas peninggalan mereka adalah dianjurkan (sunah) dalam Islam. Sebab, di sana termasuk salah satu tempat yang paling baik dan dekat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih kebaikan dari-Nya.

Baca Juga :  Mengenal Buya Syakur Yasin: Kyai Berwawasan Luas asal Indramayu

Dalam sejarahnya, Rasulullah saw. pernah melakukan ziarah ke makam dan tempat-tempat peninggalan para nabi ketika Isra’-Mi‘raj, seperti makam Nabi Musa as., gunung Tur Sina’ (tempat di mana Allah berfirman kepada Nabi Musa as.), dan tempat lahir Nabi Isa as. di Bait Lahm. Beliau melaksanakan salat dua rakat di kedua tempat terakhir tersebut. Selain itu, beliau senantiasa berdoa kepada Allah ketika berada di makam dan tempat-tempat peninggalan para nabi tersebut dalam Gayah al-Muna Syarh Safînah an-Naja (2008: 701).

Bahkan jauh sebelum itu Nabi Zakariyya as. pernah tabarrukan dengan mihrab (kamar khusus ibadah) Sayyidah Maryam as. yang merupakan wali perempuan yang suci lagi mulia. Di sana (mihrab) beliau berdoa kepada Allah agar memiliki keturunan. Lalu, Allah mengabulkan doanya dan memberinya anak bernama Yahya (Ali ‘Imran (3): 37-39). Kata “di sana” dalam ayat 38 Ali ‘Imran (di sanalah Zakariyya berdoa kepada Tuhan-nya) merujuk kepada mihrab atau kamar khusus ibadah Sayyidah Maryam as. (hlm. 701).

Menurut Syekh ad-Du‘ani (hlm. 701), beberapa praktik Rasulullah saw. dan kandungan ayat 38 Âli ‘Imrân tersebut merupakan bukti (dalil) nyata yang menunjukkan bahwa tempat-tempat dan bekas-bekas peninggalan orang-orang saleh termasuk bagian dari tempat dikabulkannya doa kepada Allah (istijabah).

Selain itu, Imam Abdul Wahhâb asy-Sya’rani menyatakan bahwa barangsiapa istikamah membaca syair Abu Nuwas setiap hari Jumaat, maka Allah akan mencabut nyawanya (mati) dalam keadaan Islam. Ulama lain menambahkan bahwa syair tersebut dibaca sebanyak lima kali sehabis salat Jumaat. Syair tersebut adalah: ilahi lastu li al-firdausi ahlan # wa la aqwa ‘ala nar al-jahimi. Fa hab lî tawbatan wa igfir zunubi # Fa innaka gafiru az-zanbi al-‘Azimi. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Muḥammad Nawawi al-Jawi dalam Syarḥ Kasyifah as-Saja (hlm. 99).

Baca Juga :  Benarkah "Tabarukan" Tidak Ada Dalilnya?

Oleh karena itu, banyak kalangan umat Muslim tabarrukan dengan kedua syair tersebut. Mereka biasanya membaca kedua syair itu sehabis zikir salat Jumat sebanyak lima kali secara bersama-sama dan dilagukan.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa tabarrukan dengan kasidah Burdah adalah boleh. Mengingat kasidah Burdah merupakan aśar (bekas) dari orang saleh, yaitu Imam al-Busiri. Menurut Aḥmad ‘Ali Hasan dalam pengantar kitab al-Burdah yang disyarahi oleh Syekh Ibrahim al-Bajuri (penerbit Maktabah as-Safa, Kairo), ketika orang-orang mengetahui keajaiban dan keistimewaan kasidah Burdah, maka mereka banyak yang tabarrukan dan meminta kesembuhan dengannya.

Ahmad ‘Alî Hasan menegaskan bahwa meminta kesembuhan di sini bukan berarti minta kesembuhan kepada lafal-lafal kasidah Burdah, tetapi meminta kesembuhan kepada Rasulullah saw. melalui untaian indah kasidah Burdah yang diberkahi. Sebab, Rasulullah saw. adalah barkah ad-dunya wa al-akhirah (kebaikan dan kebahagiaan dunia-akhirat). Wa Allah wa A‘lam wa A‘la wa Aḥkam…

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here