Syekh Ubaidillah ibn al-Hasan; Ulama yang Tak Gengsi Dikoreksi Muridnya

0
14

BincangSyariah – Syekh Ubaidillah ibn al-Hasan ibn Husain al-Anbari (wafat 168 H) adalah seorang ahli hukum, penyair, ahli sejarah dan qadhi di bawah kekhalifahan Abbasiyah. Beliau sangat terkenal karena menciptakan adagium yang sangat populer: “Kullu Mujtahid Musib”, yang kalau seandainya kita kita terjemahkan secara kasar, kurang lebihnya adalah “Setiap latihan penafsiran yang sungguh-sungguh, kemudian menghasilkan kesimpulan (Ijtihad), Itu dapat diterima”.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852 H) menyebutkan kisah menarik antara Syekh Ubaidillah ibn al-Hasan al-Anbari dengan muridnya Abdul Rahman ibn Mahdi (Faqih, Muhaddis, guru Imam Ahmad ibn Hanbal, wafat 198 H) di dalam kitabnya Tadzhib al-Tadzhib juz 7 halaman 7:

وقال ابن مهدى كنا في جنازة فسألته عن مسألة فغلط فيها فقلت له اصلحك الله أتقول فيه كذا وكذا فاطرق ساعة ثم رفع رأسه فقال إذا ارجع وأنا صاغر لان أكون ذنبا في الحق أحب إلي من أن أكون رأسا في الباطل

Abdul Rahman ibn Mahdi berkata: Pada suatu hari saya sedang menghadiri sholat jenazah, kemudian saya bertanya kepada beliau Syekh Ubaidillah ibn al-Hasan tentang suatu masalah, kondisi saya pada saat itu masih kecil. Lalu tatkala beliau memberikan jawaban dan penjelasan perihal masalah tersebut, beliau keliru dalam memberikan jawaban serta penjelasannya. Maka saya mengkritik jawaban tersebut dan berkata kepadanya,

“Semoga Allah selalu menjagamu, namun jawaban yang benar tidak demikian, akan tetapi adalah begini dan begini.”

Mendengar jawaban Abdul Rahman ibn Mahdi beliau (Syekh Ubaidillah ibn al-Hasan) menjadi terdiam seketika, beberapa saat kemudian beliau mengangkat kepalanya seraya berkata,

“Jika jawabannya demikian, saya menarik kembali pandangan saya tadi, dan saya mengaku salah dalam menyampaikan jawaban mengenai masalah tersebut. Karena menjadi ekor (kerdil) dalam kebenaran lebih saya sukai daripada menjadi kepala (pemimpin) dalam kebatilan (terus-menerus dalam kesalahan).”

Baca Juga :  Ini Empat Amalan yang Dapat Mengangkat Derajat Seseorang

Subhanallah!, sungguh jawaban yang sangat mengesankan dan prestisius sekali muncul dari seorang Salafunnasshalih terkemuka. Tahukah anda apa jabatan yang disandang oleh Syekh Ubaidillah ibn al-Hasan pada saat itu?

Beliau menjabat sebagai seorang Qadhi di Basrah, Faqih dan menjadi rujukan ummat pada zamannya. Pada zaman akhir ini, mencari pemimpin yang bertaraf ulama saja sudah menjadi suatu hal yang sangat langka, apalagi yang sanggup menarik pandangannya dan mengaku salah.

Hal yang menarik dari kisah ini, dan mungkin kita bisa ambil ibrah (pelajaran) adalah bagaimana sikap beliau yang tidak merasa terhina dan gengsi sedikitpun karena dikritik untuk dibetulkan kesilapannya oleh seseorang yang lebih muda umurnya.

Seringkali kita merasa benar karena menyandang jabatan atau strata sosial yang lebih tinggi. Karena merasa benar, kita malu untuk megakui kebenaran orang lain. Padahal, kebenaran harus dijunjung tinggi di atas egoisme dan gengsi. (Baca: Kritik Ulama Terhadap Rasa Gengsi)

Orang yang ikhlas dengan ilmu tak akan malu atau gengsi mengaku salah dan membenarkan orang lain apabila dia sadar bahwa dirinya telah tersilap. Baginya, kesalahan bukanlah suatu aib, bahkan hal itu menjadi bukti jelas betapa luasnya ilmu Allah swt.

Walhasil, pada zaman ini meskipun telah terbukti salah, namun karena ego yang menebal sanggup menegakkan benang yang basah daripada mengaku salah. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here