Syekh Sa’id Nabhan Al-Hadrami: Pencipta Syair Pelajaran Tajwid di Indonesia

0
76

BincangSyariah.Com – Syekh Said Nabhan memiliki nama lengkap Sa’id bin Sa’ad bin Muhammad bin Nabhan Al-Hadrami Ath-Tho’i Asy-Syafi’i. Al-Hadrami merupakan penisbatan pada daerah tempat kelahiran sekaligus tempat wafat beliau, yakni Hadramaut, Yaman. Beliau juga dikenal dengan julukan Abul Amjad. Beliau lahir pada akhir abad ke-13, bertepatan tahun 1300 H.

Yusuf al-Mar’ashli, dalamnya bukunya yang berjudul Natsrul Jawahir wad Durar fi Ulama’i Qarni Rabi’, menyebutkan bahwasanya Syekh Sa’id Nabhan adalah orang yang sangat alim, ahli bahasa, sastrawan dan memiliki sanad qira’ah sab’ah mutawatir. Kecintaannya kepada ilmu pengetahuan mengantarkannya menjadi orang yang mahir dalam berbagai cabang keilmuan keislaman.

Syekh Sa’id Nabhan merupakan saudara dari Salim Nabhan, pendiri toko kitab Salim Nabhan di Surabaya yang kemudian mendirikan percetakan kitab di tempat yang sama. Salim Nabhan sendiri terkenal sebagai pendatang yang turut lebur dalam gerakan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda di bumi Nusantara. Kegetolannya dalam menentang kolonialisme menjadikan langkah geraknya dibatasi oleh pemerintah belanda. Kitab-kitab yang beliau impor dengan bantuan Sa’id Nabhan pun harus selalu diawasi oleh pemerintah Belanda.

Syekh Sa’id Nabhan berkelana ke berbagai penjuru dunia. Makkah, Mesir dan cukup lama menetap di Nusantara bersama saudara beliau, Salim Nabhan. Beliau hijrah dari Hadramaut ke Pulau Jawa dengan tujuan menyebarkan ilmu agama sembari menambah pengetahuan dan mencari kawan yang berkenan saling membantu dalam kebenaran. Menurut sebagian cerita, disebutkan bahwa Syekh Sa’id Nabhan ketika di Nusantara sempat mengajar ilmu kebahasaaraban, ilmu faroid dan ilmu hadis. Akan tetapi belum ditemukan catatan sejarah yang menyebutkan berapa lama beliau tinggal di Pulau Jawa.

Syekh Sa’id Nabhan pun berguru kepada para alim yang masyhur di masanya. Di antara guru-guru beliau adalah Habib Abdullah bin Husain Thohir, Habib Abdullah bin Husain Balfaqih, Sayyid Abdullah bin Harun bin Shihab, Syekh Umar bin Abdul Karim Al-‘Atthar dan Sayyid Ali bin Abdul Birr al-Wana’i Al-Hasani Asy-Syafi’i. Sedangkan murid beliau yang paling terkenal di Nusantara adalah Syekh Yasin bin Isa Al-Fadani.

Baca Juga :  Muktamar Pemikiran Santri Nusantara Ke-3 Digelar di Jakarta; Menag Jelaskan Manfaat RUU Pesantren

Bukti dari pernyataan bahwa Syekh Yasin bin Isa Al-Fadani sempat menimba ilmu kepada beliau ialah ketika membaca biografi Syekh Yasin Al-Fadani, dijumpai nama Syekh Sa’id Nabhan Al-Yamani. Beberapa penutur sejarah menduga kuat bahwa orang tersebut adalah Syekh Sa’id bin Sa’ad Nabhan Al-Hadrami Al-Yamani.

Di akhir umurnya, Syekh Sa’id Nabhan memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya, yakni desa Damon, Hadramaut, Yaman. Beliau pun menetap di sana hingga akhir hayatnya dan tutup usia pada bulan Jumadil Ula tahun 1354 H.

Karya Tulis

Merujuk penelusuran Abu Ishaq Al-Hadrami, Syekh Said Nabhan setidaknya telah menelurkan empat belas karya semasa hidup beliau. Karya beliau ada yang berbentuk prosa dan ada nadzam. Dalam buku Natsr al-Jawahir disebutkan bahwa sebagian dari karya Syekh Sa’id yang berupa nadzam dan qashidah-qashidah berbahasa Arab juga telah diterbitkan dan disebarkan di Mesir.

Selain mengarang syair-syair pujian untuk Nabi Muhammad yang telah terbit di Mesir, beliau juga menuliskan buku yang berisikan kritikan terhadap paham kaum Syi’ah Rafidhah. Karena tulisannya yang dianggap menyinggung itulah akhirnya ia dikecam oleh orang-orang dari kalangan Rafidhiyyah. Alasan tersebut yang kemudian menguatkan tekad beliau untuk pergi dari tanah Yaman.

Syair Pelajaran Tajwid

Karya Syekh Sa’id Nabhan yang sangat terkenal di Nusantara dan masih digunakan hingga sekarang adalah nadzam Hidayatus Shibyan fi Tajwid Al-Qur’an. Nadzam yang memuat penjelasan tentang dasar-dasar ilmu tajwid ini biasa dimanfaatkan sebagai bahan ajar ilmu tajwid yang dihafal para santri pesantren maupun siswa madrasah di Indonesia.

Nadzam karangan Syekh Sa’id Nabhan ini juga telah disyarahi oleh para ulama terkenal, seperti Syekh Muhammad bin Ali bin Kholaf Al-Husaini Al-Haddad dengan kitabnya Irsyadul Ikhwan, Syekh Muhsin bin Ja’far Abu Nami dengan kitabnya Bahjatul Ikhwan, dan Syekh Ahmad Muthohhar bin Abdurrahman Al-Maraqi As-Samarani dengan kitabnya Syifaul Jinan.

Di samping syarah yang telah disebutkan di atas, Syekh Sa’id Nabhan pun menulis syarah dari nadzam karangannya, yang kemudian diberi nama Mursyidul Ikhwan. Beliau juga menulis kitab Tuhfatul Walid fi Ilmit Tajwid yang berisikan pertanyaan dan jawaban seputar nadzam Hidayatus Shibyan.

Tak hanya berkutat dengan ilmu tajwid saja, Syekh Sa’id Nabhan juga menulis kitab-kitab dalam berbagai cabang keilmuan lainnya. Dalam ilmu nahwu, beliau mengarang kitab Durratul Yatimah yang disyarahi oleh Al-Ahdal dan Al-‘Utsaimin. Kitab Suluk ad-Durar, Ad-Durar al-Bahiyyah dan Muntaha al-Ghayat dalam ilmu tauhid. Kemudian dalam ilmu faroid beliau juga menulis kitab ‘Uddatul Faridh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here