Syekh Nawawi al-Bantani: Ulama Prolifik Guru Ulama-Ulama Nusantara abad ke-18

2
24

BincangSyariah.Com – Siapa yang tak mengenal sosok Syekh Nawawi Al-Bantani, tokoh ulama banten yang karyanya yang momumental yang selalu dijadikan rujukan di berbagai kalangan pesantren. Namanya tidak hanya dikenal di kalangan masyarakat banten belaka, melainkan hingga ke penjuru Jazirah Arab dan khalayak kaum muslimin dunia. Di kalangan santri Namanya tidak hanya dikenal sebagai muallif  (Pengarang) kitab melainkan juga dikenal sebagai mahaguru, karena dari hasil didikannya terlahir ulama-ulama nusantara yang mampu membawa peradaban keislaman di Indonesia.

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah al-Mu’thi al-Tanari al-Bantani al-jawi. Dikutip dari etheses.uin-malang.ac.id, disebutkan nama lengkap Syekh Nawawi al-Bantani adalah Muhammad Nawawi. Beliau dilahirkan di kampung Tanara, Serang, Banten. Itu sebabnya, di beberapa karangannya ia sering menyebut di akhir namanya at-Tanaari sebagai penisbatan sebagai orang yang berasal dari wilayah Tanara, dan al-Bantani untuk orang yang berasal dari Banten. Ia dilahirkan pada tahun 1813 M/1230 H.

Sikap dan pemikiran agamisnya terlihat dari lingkungan keluarga dan didikan orang tuanya. Ayahnya KH. Umar bin Arabi merupakan seorang ulama dan pemimpin serta tokoh pendidikan islam di Tanara. Syekh Nawawi merupakan keturunan ke 12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), dan juga merupakan keturunan dari Sultan Maulana Hasanudin (Sultan Banten ke-1). Masa kanak-kanak Syekh Nawawi sendiri dihabiskan untuk menimba ilmu agama dari ayahandanya. Ilmu-ilmu yang diajari diantara lain adalah ilmu alat (nahwu dan sharaf), fiqih, dan tafsir. Setelah menimba ilmu dari sang Ayah ia melanjutkan pendidikannya kepada Kiai Yusuf di Purwakarta.

Semangat keilmuan Syekh Nawawi tidak berhenti di Purwakarta, setelah berumur 15 tahun ia pergi ke tanah Hijaz bersama kedua saudaranya guna menyempurnakaan rukun islam yang kelima (menunaikan ibadah haji). Namun setelah menyelesaikan ibadah haji ia tidak langsung kembali ke tanah air. Kesempatannya di kiblat umat Islam sedunia itu dipergunakannya untuk mendalami ilmu kalam, bahasa dan sastra arab, ilmu tafsir, ilmu hadis, dan tidak terkecuali ilmu fiqih. Diantara gurunya di Mekkah ialah Imam masjid al-haram Syekh Ahmad Khatib Sambas. Sayid Ahmad Nahrawi, Sayid Ahmad Dimyathi, Ahmad Zaini Dahlan, dan Muhammad Khatib al-Hanbali.

Tiga tahun lamanya ia memperdalam ilmu-ilmu keagamaan dari ulama-ulama mekkah, setelah merasa bekal keilmuannya cukup, Syekh Nawawi kembali ke tanah air guna menyebarkan dan menagamalkan ilmu yang ia pelajari di tanah suci. Serta menjalankan amanah dari sang Ayah untuk mengurus pesantren di Tanara. Akan tetepi keadaan tanah air tatkala ia pulang amat sangat tidak menguntungkan karena tengah berada ditekanan penjajahan belanda. Dilandasi hal itu dan semangat keilmuan yang masih tinggi ia kembali ke tanah suci dan tidak kembali ke tanah air hingga akhir hayatnya.

Sekembalinya ia ke mekkah inilah Syekh Nawawi memuai karirnya dalam menulis kitab. Dilansir dari republika.com Snouck Hurgronje, seorang orientalis yang mengunjungi mekkah antara tahun 1884-1885 menyebutkan rutinitas harian Syekh Nawawi di Mekkah yaitu dimulai dari pukul 07:30 hingga 12:00 adalah dengan memberikan tiga pengajian sesuai dengan  kebutuhan jumlah muridnya.

Murid-murid beliau yang berasal dari Indonesia antara lain ialah KH. Kholil Bangkalan, KH. Asnawi Kudus, KH. Tubagus Bakri, KH. Arsyad Thawil Banten, dan KH. Hasyim Asy’ari Jombang. Dari sini penulis dapat menyimpulkan bahwa pemikiran pembentukan Nahdatul Ulama merupakan implementasi pemikiran Syekh Nawawi al-Bantani yang diterima oleh KH. Hasyim Asy’ari. Maka tidak berlebihan jika penulis menyebut beliau adalah sosok yang mendasari berdirinya Nahdhotul Ulama.

Selain pemikiran dan keberhasilan dalam mendidik murid-muridnya hingga menjadi ulama-ulama yang memberikan perdaban tehadap dunia keislaman di Indonesia. Syekh Nawawi juga produktif dalam menelurkan karya-karya ilmiah yang sampai saat ini masih menjadi rujukan di kalangan pesantren Indonesia. Dalam bidang ilmu kalam karyanya diantaranya adalah Fath al-Majid (1298 H), Tijaan ad-Durori (1301 H), dan Nur az-Zholaam (1329 H). Dalam bidang fiqh karyanya antara lain; Sulamut Munajat (1297 H), Nihayatuz Zain (1297 H), at-Tausyaikh ‘ala Fath al-Qarib (1314 H), dan Kasyifatus Syajaa’ Syarh Safiinatu an-Najaa’ (1292 H), . Sedangkan dalam bidang Akhlaq dan tasawuf karyanya antara lain; Salalimul Fudhala (1315 H), dan dalam bidang tafsir karyanya yang masyhur adalah Tafsir al-Munir lil Ma’alim al-Tanzil atau sering disebut juga dengan Marah Labiid.

Meski sosoknya telah tiada, nama dan pemikiran Syekh Nawawi al-Bantani tetap terpatri dalam masyarakat banten dan Indonesia. Serta karya dan pemikirannya tak akan pernah habis untuk digali dan dipelajari. Sosok ulama banten itu wafat di Ma’la (Mekkah) Saudi Arabia pada tahun 1897 M atau 1314 H.

Meski makamnya tidak berada di Indonesia, namun hari wafatnya selalu dikenang oleh masyarakat Banten setiap tahun. Masyarakat di Banten, khususnya di wilayah Banten Lama (dengan Masjid Agung Banten sebagai salah satu situs penandanya) setiap tahun mengadakan acara haul Syaikh Nawawi al-Bantani.

Disebutkan kalau saat ini tetap dirawat Salah satu situs sejarah peninggalan Syekh Nawawi Al-Bantani adalah Bait An-Nawawi yang terdapat di Pedalaman desa Tanara, Serang, Banten. Situs sejarah yang merupakan tempat petilasan Syekh Nawawi yang amat masyhur dikalangan masyarakat banten dan sekitarnya. Dilansir dari radarbanten.co.id Bait An-Nawawi diyakini merupakan tempat pertama sang Syekh dalam mencurahkan karya dan inspirasi-inspirasinya.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here