Agar Akad Sah, Ini Syarat Kredit Tanpa Agunan (KTA) dalam Islam

0
901

BincangSyariah.Com – Kredit Tanpa Agunan (KTA) dalam wahana fikih klasik merupakan akad utang yang diambil atas dasar kepercayaan (amanah). Fikih mengistilahkannya sebagai qardh. Mengapa demikian? Karena dalam akad  kredit (qardh) ini, terdapat unsur kepercayaan kreditur kepada sang debitur, atas dasar kemanusian (tabarru’). (Baca: Produk Kredit Tanpa Agunan Berbasis Akad Qardlu dalam Fikih Islam).

Allah SWT berfirman di dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 245: 

مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً

Artinya: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 245).

Oleh karena itu pula, maka di dalam khazanah fikih klasik dijelaskan pula mengenai syarat orang yang melakukan qardlan hasanan, sebagai pihak yang memiliki kewenangan penuh atas hartanya (ahliyati al-tasharruf) disebabkan rawannya pihak tersebut sebagai yang menerima amanah.

Oleh karena itu, akad qardh dipandang sebagai tidak sah (kredit tanpa agunan) apabila dilakukan oleh pihak-pihak yang masih kecil (belum balig), tidak sehat akalnya (safih), gila, pemabuk – kecuali bila sudah menjadi kebiasaan, orang yang disita harganya oleh pihak pengadilan niaga (hajr) disebabkan pailit (muflis), dan pihak yang boros (mubadzir).

Imam al-Nawawi rahimahullah secara sepintas kilas menjelaskan mengenai kewenangan ahli tasharruf ini dalam akad qardh ini disamakan statusnya dengan pihak yang boleh melakukan akad jual beli. Dalam Majmu’ Syarah Muhaddzab, Imam Nawawi menjabarkan sebagai berikut:

ولا يصح الا من جائز التصرف لانه عقد على المال فلا يصح إلا من جائز التصرف كالبيع ولا ينعقد الا بالايجاب والقبول لانه تمليك آدمى فلم يصح من غير إيجاب وقبول كالبيع والهبة، بلفظ القرض والسلف لان الشرع ورد بهما، ويصح بما يؤدى معناه

Baca Juga :  Memakmurkan Masjid "Yes", Politisasi Masjid "No"!

Artinya: “Akad qardlu tidak sah dilakukan oleh orang yang tidak memiliki hak tasharruf atas harta. Qardlu merupakan akad atas suatu harta sehingga tidak sah jika pelakunya bukan pihak yang diperbolehkan menyalurkan/mengelola harta, layaknya akad jual beli. Oleh karena itu pula, tidak sah akad qardlu tanpa disertai dengan lafadh ijab dan qabul karena ia berkaitan dengan perpindahan kepemilikan atas harta anak adam sebagaimana hal ini berlaku atas akad jual beli dan hibah. Kedua lafadh ijab dan qabul juga harus disampaikan dengan lafadh yang memuat pengertian qardlu dan salaf, karena syara’ mengharuskan keduanya, meski juga sah menyampaikannya dengan lafadh yang semakna dengan akad qardl dan salaf.” (al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, Juz 13, halaman 163).

Dari keterangan ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa syarat utama pihak yang mendapatkan dana kredit tanpa agunan (qardlu), menurut perspektif fikih Islam adalah sebagai berikut:

Pertama, kedua pelaku harus terdiri atas orang / pihak yang diperbolehkan melakukan tasharruf atas hartanya.

Kedua, Akad harus disertai dengan shighat lafadh ijab dan qabul. Lafadh ijab dan qabul bisa disampaikan baik dengan sharih (jelas) atau kinayah (kiasan).

Ketiga, saat terjadi qardlu, maka barang yang dipinjamkan/diutangkan adalah milik dari orang yang diutangi. Artinya pihak pemberi utang sudah tidak memiliki hak atas barang itu, melainkan sebatas penagihan.

Keempat, akad qardlu yang dilakukan dengan obyek qardh berupa “uang”, hakikatnya adalah pertukaran barang ribawi uang dengan uang dengan salah satunya terjadi penundaan penyerahannya. Oleh karena itu, maka disyaratkan tidak boleh adanya kelebihan di salah satu. Adanya kelebihan di salah satu barang yang dipertukarkan merupakan riba al-fadhl.

Baca Juga :  Ragam Hukum Bunga Bank Menurut Ulama

Kelima, akad qardlu yang dilakukan dengan obyek qardh berupa “barang”, hakikatnya adalah jual beli dengan penyerahan harga yang ditunda (bai’ bi al-tsamani al-ajil). Dalam kondisi seperti ini, boleh menetapkan harga yang berbeda dengan harga cash dengan ketentuan bahwa harga tersebut adalah jelas (ma’lum) dan diketahui saat akad terjadi.

Keenam, karena akad qardlu merupakan akad perpindahan kepemilikan dan diserupakan dengan akad jual beli (bai’), maka dituntut juga bahwa lafadh ijab dan lafadh qabul keduanya disampaikan tidak berjeda waktu lama kecuali memang ada pertimbangan-pertimbangan tertentu. Jeda ini menyerupai khiyar (hak opsi), yaitu memilih atas meneruskan akad atau membatalkannya.

Sekali lagi, ini adalah akad Kredit Tanpa Agunan (KTA) yang termaktub dalam ketentuan fikih turats klasik. Istilah yang dipergunakan dalam khazanah fikih klasik biasanya adalah qardh. Qardh yang berupa uang adalah qardlu hasan. Adapun qardh dengan objek qardh berupa barang adalah masuk unsur akad jual beli dengan harga tunda (bai’ bi al-tsamani al-ajil). Jika pembayarannya dilakukan secara mengangsur dalam bentuk tahapan-tahapan, maka akad semacam ini disebut dengan istilah jual beli kredit (bai’ taqsith). Wallahu a’lam bi al-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here