Syams Tabriz; Guru Spiritual Jalaluddin Rumi yang Paling Berpengaruh

1
289

BincangSyariah.Com – Saat Dinasti Seljuk tengah berseteru dengan Byzantium, area Asia Tengah kerap kali menjadi panggung pertempuran. Sebab, memang kawasan bernama Anatolia ini adalah pembatas antara wilayah Seljuk dan Byzantium. Peralihan kekuasan pun sudah biasa terjadi, terkadang dipegang Byzantium namun tidak jarang juga dikuasai Seljuk. Sampai tiba saat kawasan tersebut menjadi wilayah tak bertuan. Kemudian dihuni oleh para emigran asal Asia yang melarikan diri dari serbuan Mongol.

Meski peperangan marak terjadi, tidak menjadi penghalang tren tasawuf masuk ke Anatolia. Bahkan praktek tasawuf cukup digemari masyarakat. Sehingga muncul tokoh kenamaan seperti Kalendar. Kemudian Bektash, bisa dikatakan kelompok ini rival dari Kalender. Sementara itu, di sebuah madrasah masih di wilayah yang sama hadir seorang pengajar syariat Islam, Jalaluddin. Ia memiliki banyak murid dan mengajar di sekolah yang didirikan oleh ayahnya, yang kebetulan terlahir sebagai intelektual. Jalaluddin, masyarakat menyebutnya Ar-Rumi sebab ia tumbuh besar di Kesultanan Rum, negara otonom milik Dinasti Seljuk. Sementara orang – orang Afghanistan menyebutnya Al-Balkhi karena Jalaluddin lahir di Balkh. Sejak kecil ia dibawa ayahnya menuju Anatolia untuk berlindung dari serangan Mongol.

Kecerdasan Maulana Rumi telah terlihat sejak di usia dini. Setelah menginjak dewasa, ia rajin menulis karya disamping mengajar. Sebelum menjajaki dunia tasawuf, awalnya Rumi berkutat di bidang dzohiriah. Sampai kemudian ia bertemu seorang pria asing. Tokoh yang dimaksud adalah Syams Tibriz atau Syamsuddin Tibriz. Ia adalah figur karismatik yang nantinya menjadi guru paling berpengaruh terhadap pembentukan pribadi Rumi menjadi seorang sufi. (Baca: Hakikat Rasa Sakit Menurut Jalaluddin Ar-Rumi)

Pertemuan pertama Rumi dengan sang calon guru berlangsung dramatis. Kisah pertemuan ini dicatat oleh sejarawan Tamim Anshari dalam bukunya Dari Puncak Baghdad. Dikisahkan, suatu hari suasana di kelas tempat Rumi mengajar tampak berbeda. Ada seorang entah dari mana, berpakaian compang camping masuk ke kelas kemudian duduk di belakang. Ia tak henti – hentinya malantunkan nyanyian – nyanyian. (Baca: Syamsu Tabriz: Nama Naskah Tasawuf Jalaluddin Rumi Berbahasa Jawa)

Dilihat dari gerak geriknya, misal memakai pakaian seadanya dan kerap melantunkan lagu – lagu mengingatkan kita pada aliran Kalender. Tamim Anshari berkisah, Kalender adalah seorang gelandangan mistik paling awal. Ia berkelana dari kampung ke kampung dengan pakaian ala gelandangan, sambil berteriak-teriak dan bernyanyi diiringi para pengikut yang semodel dengannya. Namun, dalam catatan – catatan sejarah tidak dikisahkan bagaimana latar belakang Syams Tibriz, sehingga tidak bisa dipastikan apakah alirannya sama atau tidak dengan yang dianut Kalender. Kisah yang berhasil diungkap para ahli hanya berkutat di awal pertemuan kedua tokoh, sementara kisah kehidupan sebelumnya tidak diketahui.

Perbuatan pria berpenampilan layaknya pengemis tadi, tentu mengganggu jalannya proses belajar mengajar. Dengan sigap murid – murid Rumi menagkap lalu membawanya keluar kelas. Melihat kejadian tersebut Rumi meminta murid – muridnya untuk berhenti dan melepaskannya. Kemudian ia menanyakan pria tersebut soal siapa dia dan apa yang dia inginkan. Pria itu menjawab “Aku Syams-i Tabriz, dan aku datang untukmu”.

Sontak kejadian ini membuat kaget murid – murid Rumi. Rumi pun bereaksi, ia menutup buku – buku pelajarannya, dan melepas seragam guru yang ia kenakan. Kemudian berucap “Hari – hariku mengajar sudah berakhir, ini adalah guruku”. Semenjak itu ikatan spiritual keduanya semakin menguat. Pengalaman – pengalaman Rumi sebagai seorang pegiat tasawuf dimulai. Sang guru membawanya bertransmisi hingga tumbuh berkembang menjadi seorang penyair sufi mistik terbesar dalam sejarah dunia Islam.

Sementara itu, Mustafa Ghalib dalam bukunya Jalaluddin Ar-Rumi mengisahkan riwayat lain soal pertemuan awal guru dan murid itu. Menurutnya pertemuan keduanya terjadi pada bulan Rajab tahun 642 H. Saat itu Rumi tengah berduduk santai di sebuah tempat, tiba – tiba seorang pria tua karismatik nan terhormat muncul berjalan di sekitaranya. Rumi menyambut hangat pria tersebut dan menwarinya untuk duduk disampingnya. Kemudian, pria tersebut bertanya “Wahai anakku, sedang apa kau di sini ?”. Rumi tersenyum lantas menceritakan kegelisahan hatinya dan rasa penasarannya mengenai banyak hal.

Syams Tabriz membaca syair syair karya Rumi, seraya berkata kepadanya “Aku adalah orang yang akan menunjukkan kepadamu apa yang kamu cari”. Perbincangan terus berlanjut, Rumi sangat mengagumi pria tua tadi. Sejak saat itu keduanya pun berkenalan. Rumi mengajak pria tersebut untuk tinggal di rumahnya. Selama dua tahun sang guru dan murid tidak pernah terpisahkan. Setelah berguru kepada Syams Tibriz, Rumi seakan – akan terlahir kembali sebagai seorang yang berbeda dari kehidupan sebelumnya.

Hubungan antar keduanya begitu erat, sehingga membuat murid – murid Rumi iri sebab waktu yang biasa diluangkan untuk mereka rasanya semakin berkurang. Mengetahui perasaan mereka, Syams Tabriz kemudian menghilang pamit dan pergi ke Damaskus. Jelas, hal ini sangat membuat Rumi sedih. Melihat penderitaan ayahnya, Sultan Walad putra Rumi menyusul Syams ke Damaskus dan membawanya kembali. Pada bulan Dzul Qa’dah tahun 644 H, terjadi kerusuhan besar di Konya. Dikisahkan Syams Tabriz beserta putra Rumi, ‘Alauddin wafat dalam peristiwa tersebut. Rumi begitu terpukul atas kepergian kedua orang yang amat ia sayangi itu. Kesedihan serta perjalanan spiritual bersama sang guru ia abadikan dalam buku yang bertajuk Diwan Tabriz, persis seperti nama sang guru Syams Tabriz.

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here