Syaikh Zakariya al-Anshari; Mengenal Ulama yang Mensyarah 5000 Bait Nadham Fiqh Syafi’i

0
930

BincangSyariah.Com – Syaikh Zakariya al-Anshari diberi keberkahan waktu. Beliau mensyarah kitab al-Bahjah al-Wardiyah, Nadham Fiqh Syafi 5000 bayt sebanyak 57 kali. Lima kalinya Alfiyah Ibnu Malik! Saya menduga beliau mulai mensyarah sejak umur 25 tahun. Dari umur 25 tahun hingga 100 tahun (karena umur syaikh Islam Zakariya al-Anshari 103 tahun), jika dihitung perkiraan sekitar 1 tahun 4 bulan, beliau mengkhatamkannya.

Ya, mensyarah 5000 ribu bayt dalam satu tahun empat bulan. Belum lagi syarah beliau dalam Fiqh, syarah dalam ilmu Kalam, syarah Isāghuji, syarah Ushul Fiqh. Kapan beliau sempat menulis dan menjelaskannya? Belum lagi ditambah petuah-petuahnya, duduk dengan para umara. Beliau diberi barakah waktu yang sangat melimpah!

Beliau doanya mustajab. Syaikh Abdul Wahab al-Syakrani, dalam Thabaqah Shughra bercerita:

“Suatu hari ada seseorang tuna netra di al-Azhar. Kebetulan syaikh Azhar menjadi imam shalat. Setelah shalat, seorang yang buta tersebut meminta doa kepada syaikh Islam agar Allah membalikan pengelihatannya. Apa yang aku perbuat? Tanya syaikh Zakariya pada diri sendiri. Seandaikan aku berdoa, seseorang itu pasti akan melihat kembali. Rahasiaku akan terbuka dan diketahui oleh orang-orang. Maka syaikh Islam berpikir sejenak untuk lari dari keadaan yang menghimpit tersebut.

Lalu syaikh Zakariya al-Anshari berkata: “Di sana, di Sinai dekat Palestina ada semacam tumbuhan, akan membantumu untuk bisa melihat kembali.” Maka orang itu lupa doa yang dipintanya. Dan bertanya di mana dia bisa menemukannya. Orang itu akhirnya gak jadi meminta doa dan pergi. Syaikh Zakariya lantas berdoa: “Alhamdulillah orang itu lupa dan pergi.” Setelah orang itu telah berada jauh dari Kairo, beliau berdoa dan Allah mengembalikan kembali pengelihatannya seketika itu.

Baca Juga :  Al-Suyuthi Kritik Orang yang Mengaku Ulama Hanya dengan Bekal Ilmu Sedikit

Setelah orang itu bisa melihat lagi, dan tidak tahu bahwa syaikh Islam telah mendoakannya, serta tidak balik lagi ke Kairo dan menetap di Palestina. Dia bekerja sebagai penyalin naskah-naskah kitab.

Di sana terdapat kitab-kitab yang tidak ada di Kairo. Setiap kali menyalin kitab, ia mengirimkan kepada syaikh Islam sebagai hadiah.

Syaikh Islam mengatakan pada masa mudanya: “Aku tak menemukan sedikitpun makanan maupun minuman.” Di malam hari beliau mencuci kulit semangka yang ada di tempat sampah. Kemudian beliau makan kulit semangka tersebut. Hingga Allah mengutus seorang penjual roti di samping al-Azhar yang memberinya 2 buah roti setiap hari kepadanya. Syaikh Islam tinggal di Suthuh al-Azhar. Di atas masjid Azhar, dulu ada beberapa kamar. Lihatlah syaikh Zakariya al-Anshari. Hidup satu abad dan diberi keberkahan ini. Beliau tak meninggalkan satupun bidang ilmu syariah kecuali telah menulis kitab tentangnya. Hidupnya dengan kulit-kulit semangka.

*Disampaikan syaikh Hussam setelah Dars dan cerita dinarasikan kembali dalam tulisan ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here