Syaikh Mukhtar bin Atharid Bogor: Ulama Indonesia yang Mengajar di Masjidil Haram Abad ke-19

0
131

BincangSyariah.Com – Dari sekian ulama nusantara yang pernah tinggal di Mekkah, ada tiga tokoh setidaknya yang banyak menguasai disiplin ilmu berasal dari Indonesia. Pertama, Syaikh Ahmad Ibn Muhammad Zain al-Fathani, mengajar di Masjidil Haram selama 25 tahun. Kedua, Syaikh Ahmad Khatib Ibn Abdul Latif al-Minangkabawi, mengajar kurang lebih 29 tahun. Dan terakhir, Syaikh Muhammad Atharid al-Bughuri al-Batawi al-Jawi, selama 28 tahun lamanya mengajar di Mekkah.

Profil Syaikh Mukhtar bin Atharid

Nama lengkapnya adalah Abu al-Is’ad Muhammad Mukhtar Ibn Atharid al-Bughuri al-Batawi al-Jawi (1278-1349 H/1862-1930 M). Sebenarnya, ia lama tinggal di Betawi, namun tempat lahirnya ialah di kota Bogor. Ia lahir pada tahun 1278 H/1862 M.  Syaikh Umar ‘Abdul Jabbar al-Makki dalam kitab Siyar wa Tarajum Ba’dhi Ulamaina fi al-Qarn al-Rabi’ al-Asyr li al-Hijrah, awal perjalanan Syaikh Atharid dalam menuntut ilmu berawal dari kota Betawi. Ia berguru kepada Syaikh Abdullah bin ‘Aqil Ibn Yahya. Kepadanya, Syaikh Atharid banyak belajar ilmu alat seperti Mulhah al-I’rab, Alfiyyah Ibn Malik, Qathr al-Nada, dan beberapa kitab alat lainnya.

Selesai mendalami ilmu alat di Betawi, ia pergi ke Mekkah. Selain melakukan ibadah haji, ia menetap disana dan melanjutkan aktivitas menuntut ilmunya. Selama di Mekkah, Ia mulai tertarik dengan kajian fikih dan hadis. Dalam mempelajari ilmu fikih, ia belajar kepada Syaikh Abu Bakr Syatha dan Syaikh Ahmad Nahrawi Banyumas. Dalam bidang hadis, ia berguru kepada Syaikh Muhammad Sa’id Babushail dan Sayyid Husain Ibn Muhammad al-Habsyi.

Pengajar di Masjidil Haram

Tak hanya berhenti di Mekkah, Syaikh Atharid melanjutkan rihlahnya ke kota Madinah. Ia menimba ilmu dari beberapa Ulama di masjid Nabawi, salah satu diantaranya Syaikh Muhammad Amin Ridwan al-Madani. Syaikh Umar menjelaskan bahwa Syaikh Mukhtar memiliki banyak sanad riwayat dari para guru Masjid Nabawi. Diantaranya Syaikh Muhammad Ibn Abdul Kabir al-Kattani, Sayyid Muhammad Ibn Ja’far al-Kattani, dan Sayyid Abdul Hayy al-Kattani. Keilmuan yang diperolehnya ia manfaatkan untuk menjadi pengajar di Masjid al- Haram. Ia juga membuka kajian keagamaan di rumahnya atas rekomendasi dari beberapa gurunya.

Baca Juga :  Filsafat Politik Al-Kindi

Kecerdasan Syaikh Mukhtar melahirkan beberapa murid yang terkenal di Nusantara. Diantaranya Syaikh Mukhtar Sulaiman Palembang, Sayid Muhsin al-Musawa Palembang, Syaikh Muhammad Ahyad Bogor, Syaikh Abdurrahman al-Mudarisiy, Syaikh Abdussattar al-Dahlawy, dan Sayyid Alwiy Ibn ‘Abbas al-Maliky. Dari sekian banyak muridnya, Syaikh Muhammad Ahyad Bogor sebagai murid yang sering menggantikan Syaikh Mukhtar ‘Atharid seketika waktu di Masjidil Haram.

Dalam kitab Mu’jam al-Ma’ajim yang ditulis oleh Syaikh Yusuf bin Abdurrahman, pada tahun 1349 H, Syaikh Ahyad aktif meneruskan karya-karya SYaikh Mukhtar ‘Atharid yang belum sempat diselesaikan. Tahun itu adalah pasca wafatnya Syaikh Mukhtar Bogor. Penulis belum menemukan karya apa saja yang telah diselesaikan tersebut.

Ulama Fikih dan Ahli Hadis Sekaligus

Dalam beberapa literatur, Syaikh Mukhtar banyak dicatat sebagai ulama yang luwes dalam bidang fikih. Sejarah mencatat, pada tahun 14 H, ia menjadi salah satu ulama fikih yang Masjidil Haram yang selalu menjadi rujukan umat.  Ia pun banyak menulis beberapa kitab seperti Taqrib al-Maqshad fi al-‘Amal bi al-Rub’I al-Arba’in, Wasilah al-Thullab, Manhal al-Mawarid fi Syuyukh Ibn Atharid, dan masih banyak lagi. Disamping itu, beliau juga seorang ahli hadis dan memiliki karyadi bidang tersebut, misalnya  Ittihaf al-Sadah al-Muhadditsin bi al-Musalsalat al-Arba’in.

Kitab Ittihaf al-Sadah al-Muhadditsin diselesaikan pada 8 Rabiul Awwal 1345 H/ 8 Muharram 1329 H. Didalamnya menjelaskan tentang sanad atau silsilah keilmuan dan amaliyah para muhaddits yang terkumpul dalam 40 hadis. Kitab ini dicetak oleh Mathba’ah Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah, Mesir. Kitab ini juga ditashih oleh Syaikh Muhammad al-Zahari al-Ghamrawi.

Hal ini terbukti dengan perkataan Syaikh Muhammad Mukhtar dalam kitabnya berjudul Bulugh al-Amani fi al-Ta’rif bi Syuyukh wa Asanid Musnid al-Ashr al-Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani. Ia mengutip komentar dari Syaikh Yasin al-Fadani “Syaikh Muhktar sang ‘Allamah (orang yang sudah tinggi derajat keilmuannya) Muhaddits (Ahli Hadis), Faqih (Ahli Ilmu Fiqh), Ahli Falak, dan pengajar di Masjid al-Haram.

Baca Juga :  Sikap Fanatik Pengusung Ideologi Khilafah dalam Pandangan Ibnu Khaldun (Bagian II)

Syaikh Mukhtar wafat di kota Mekkah, pada tanggal 17 Rajab 1439 H/ 8 Desember 1930M. Menurut Maulana La Eda dalam bukunya 100 Ulama Nusantara di Tanah Suci, ia dimakamkan dekat dengan Syaikh Ibn Hajar al-Haitamu yang bertempatan di Ma’la. Wallohu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here