Syaikh Muhammad Siraj Garut: Pakar Qiraat Asal Garut yang Mengajar di Mekkah

0
87

BincangSyariah.Com – Syaikh Muhammad Siraj terkenal sebagai ahli Qiraat asal nusantara yang mengajar di Masjid al-Haram di abad ke 20. Ada dua Ajengan yang disebut-sebut sebagai pakar ahli Qiraat diantaranya Ajengan Siraj Garut dan Ajengan Musaddad Garut. Keduanya banyak disinggung dalam sanad ulama-ulama Qiraat al-Quran yang berkarir di Mekkah. Menurut Maulana La Eda dalam bukunya 100 Ulama Nusantara di Tanah Suci, bacaan tilawah Syaikh Siraj disiarkan langsung melalui  radio-radio Arab Saudi dengan ciri khasnya menggunakan tilawah Makkiyah.

Mengenal Ajengan Siraj

Nama lengkapnya adalah Muhammad Siraj Ibn Muhammad Garut al-Jawiy al-Makkiy. Ia dilahirkan di Makkah pada 22 Syawal 1313 H/6 April 1896 M. Beliau dibesarkan di kota  Garut yang kemudian tinggal di Mekkah. Sebelumnya, penulis telah mengulas beberapa biografi para Ulama Sunda yang bermukim di Mekkah. Snouck Hurgronje dalam bukunya Mekka In The Latter Part of The 19th Century menyebutkan bahwa orang-orang Sunda adalah salah satu kelompok dari wilayah Nusantara yang paling banyak menetap di Mekkah akhir abad 19 M.

Pada tahun 1908, Siraj memulai untuk belajar di kampung halamannya selama beberapa tahun. Penulis belum menemukan nama pesantren yang dijejakinya. Dalam referensi lain, Maulana La Eda menyebutkan pada tahun 1910, Siraj menimba ilmu di Madrasah Khairiyyah. Ia belajar ilmu tafsir Al-Quran pada Syaikh Umar Bajunaid, fikih pada Syaikh Muhammad Sa’id Yamani, tauhid dari Syaikh Ma’mun Banten, dan ilmu sharaf dan balaghah dari Syaikh Husain Abdul Ghani al-Makki.

Merujuk pada catatan Dr.Ginanjar Sya’ban, aktivis Islam Nusantara Centre, ia menyatakan bahwa pada awal abad ke 20 M terdapat beberapa pesantren besar di Tatar Pasundan seperti Pesantren Suka Miskin Bandung, Pesantren Gentur Cianjur, Pesantren Cikudang, Pesantren Cibarusah Bekasi, Pesantren Sempur Purwakarta, dan lain-lain.Begitu juga, beberapa pesantren di tanah Jawa seperti pesantren Babakan Cirebon, Pesantren Darat Semarang, Lasem Rembang, Tebu Ireng Jombang sampai Bangkalan Madura.

Baca Juga :  Mimpi Haus dan Minum dalam Islam, Pertanda Baik atau Buruk?

Menurut Ginanjar, besar kemungkinan Ajengan Siraj bermukim dan belajar di Nusantara, Siraj belajar di pesantren-pesantren yang memiliki jaringan intelektual Nusantara-Haramain itu.

Pakar Qira’ah Sab’ah

Pada tahun 1335 H/1917 M, Ajengan Siraj pulang ke kota kelahirannya dan menetap selama sepuluh tahun. Siraj mulai mendalami ilmu dari Syaikh Muhammad Syatibi Cianjur. Penulis belum menemukan kajian yang didalami Ajengan Siraj pada Ajengan Syatibi. Setelah itu, pada tahun 1927, Siraj kembali melakukan aktivitas belajarnya di Mekkah dengan beberapa guru terkenal di Masjid al-Haram.

Diantaranya ialah Syaikh Umar Ibn Hamdan, kepadanya Siraj belajar kitab hadis Shahih Bukhari. Ajengan Siraj juga belajar ilmu falak pada Syaikh Khalifah al-Nabhani, dan mengambil Qiraat al-Sab’ah (Tujuh Ragam Cara Membaca Al-Quran) dari Syaikh Muqri Ahmad Ibn Hamid al-Tijiy al-Mishriy. Ajengan Siraj lebih spesifik menekuni bidang Qiraah al-Quran. Dengan kesungguhannya yang begitu besar dalam Qiraah al-Quran, Siraj mendapatkan lisensi atau ijazah untuk mengajar Ilmu Qiraah di Masjid al-Haram dan kediamannya di distrik al-Qasyasyiyyah.

Ajengan Siraj wafat di Mekkah pada26 Rabi al-Awwal  tahun 1390 H/ 1 Juni 1970 M. ia menuliskan sebuah buku tentang ilmu Tajwid  yang berjudul Tamrin al-Mubtadi. Syaikh Zakarya Bilah mengatakan bahwa Siraj dikaruniai beberapa putra, salah satu diantaranya Muhammad Rif’at Garut. Mengenai biografi lengkap putranya, akan dibahas dalam tulisan selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here