Syaikh Muhammad Ahyad: Pengajar Masjid al-Haram Asal Bogor

0
141

BincangSyariah.Com – Syaikh Muhammad Ahyad Bogor adalah salah satu  murid kesayangan Syaikh Mukhtar Atharid Bogor. Keduanya berasal Bogor, Jawa Barat. Relasi keduanya ialah sang guru dan murid. Lalu, keduanya dilibatkan untuk aktif mengajar beberapa studi keagamaan di Masjid al-Haram. Bagaimana kisah perjalanan keilmuan mereka selama di Masjid al-Haram? Mari kita simak.

Biografi Singkat

Nama lengkapnya ialah Muhammad Ahyad Ibn Muhammad Ibn Idris Ibn Abu Bakar Ibn Tubagus Mustafa al-Bakri al-Bughuri al-Syafi’i. Syaikh Zakarya Bilah dalam kitabnya al-Jawahir al-Hisan menjelaskan bahwa Syaikh Ahyad memiliki nasab dari ayahnya  yang bersambung kepada keluarga Zainal Abidin Ali Ibn Husain Ibn Fatimah Ibn Rasulullah. Adapun nasab dari ibunya, ia memiliki nasab yang bersambung ke Haji Abdullah Ibn Mas Jija Raja. Kedua orangnya telah melakukan rihlah dari tanah Arab ke Indonesia dan menetap lama disana.

Menurut Ginanjar Sya’ban dalam tulisannya Ijazah dari Syaikh Ahyad Untuk Syaikh Ahyad Ibn Idris Bogor, yang mengutip dari kitab Taynif al-Asma, Syaikh Ahyad ialah cicit dari Tubagus Musthafa Bakri. Tubagus ialah salah satu tokoh penyebar agama Islam di Bogor pada awal abad XVII yang mendirikan masjid tua di Banjarjati Kaum, Bogor pada tahun 1728 M.

Syaikh Ahyad lahir pada tanggal 21 Ramadhan 1302 H/ 22 Juni 1885 M di Ciwaringin, Bogor Tengah,Jawa Barat. Dalam referensi lain, terdapat dalam kitab Jawahir al-Hisan, beliau lahir pada tahun 1303 H.

Perjalanan Keilmuan

Mengenai awal perjalanan belajarnya, ia mengenyam pendidikan di kota Bogor dengan mempelajari keagamaan dasar bersama para gurunya. Sampai pada umur 15 tahun, Syaikh Ahyad mulai belajar di Mekkah. Di negeri Hijaz, ia sangat giat dalam enekuni bidang keislaman dan banyak mendapatkan ijazah sanad dari para Ulama terkenal. Tentunya, ia belajar dengan beberapa Ulama nusantara yang mengajar di Mekkah seperti Syaikh Mukhtar Ibn Atharid Bogor,Syaikh Ahmad al-Sanusiy,Syaikh Muhamad Amin Ridwan al-Madaniy, dan Syaikh Abbas Ibn Muhammad Ridwan al-Madaniy.

Baca Juga :  Dosen IAIN Surakarta: Indonesia Sangat Berpotensi Jadi Pusat Kajian Tafsir Asia Tenggara

Syaikh Ahyad banyak melakukan kajian langsung dengan Syaikh Mukhtar Bogor. Semua bacaan Syaikh Ahyad selalu di diskusikan dihadapan Syaikh Mukhtar.  Tak hanya itu, dalam melakukan perjalanan menuju majelis ilmu manapun, Syaikh Ahyad  selalu membersamainya sampai Syaikh Mukhtar tutup usia. Pada tahun 1346 H/1928 M, Syaikh Ahyad diberikan rekomendasi oleh gurunya, Syaikh Muhktar Bogor untuk mengajar di Masjid al-Haram. Disana, Syaikh Ahyad mengajar ilmu Fiqh dan ilmu Faraidh. Setelah hampir dua tahun mengajar, pada tahun 1930 M, Syaikh Mukhtar wafat. Syaikh Ahyad menggantikan posisi gurunya dan semua murid Syaikh Mukhtar menjadi murid asuhan Syaikh Ahyad.

Dari beberapa sumber yang ada, mayoritas para murid Syaikh Ahyad berasal dari Indonesia. Ia mencetak generasi para Ulama yang terpandang di nusantara diantaranya Syaikh Muhammad Husain Palembang, Syaikh Muhsin al-Musawa Palembang, Syaikh Yusuf Fahman, Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani, dan masih banyak lagi yang tak bisa disebutkan semuanya disini.

Mengajar di Masjidil Haram

Syaikh Ahyad terkenal sebagai salah satu Ulama tawadhu, zuhud, rajin beribadah, dan pendiam. Sumber ini penulis dapatkan dari sebuah buku 100 Ulama Nusantara di Tanah Suci,yang ditulis oleh Maulana La Eda. Syaikh Ahyad tidak senang untuk  berkumpul dengan orang  jika bukan dimaksudkan untuk ilmu. Beliau senang tinggal di Mekkah dan tidak pernah melakukan rihlah kecuali ke Madinah.

Dengan begitu, selama di Mekkah, ia senang melakukan aktivitas mengajar dengan beberapa muridnya. Menurut Ginanjar Sya’ban, diantara kitab yang beliau ampu pengajarannya di Masjid al-Haram ialah Sunan al-Tirmidzi (hadits), al-Iqna (fiqh), Alfiyyah Ibn Malik (gramatika arab), al-Mawahib al-Tsaniyyah (ushul fiqh), Taqrib al-Maqshad (astronomi), dan masih banyak lagi.

Baca Juga :  Bahaya Mengkonsumsi Makanan Haram Menurut Imam Ghazali

Mengenai kesungguhannya dalam belajar, diakui oleh beberapa ulama terkenal di nusantara. Diantaranya, Syaikh Abdul Wahhab Abu Sulaiman menjulukinya sebagai “ulama besar ilmu Fiqh Masjid al-Haram”. Gelar tersebut diakuinya dan tertulis dalam bukunya al-Masjid al-Haram, al-Jami’ wa al-Jami’ah. Syaikh Zakarya Bilah menjulukinya sebagai “Ulama Fikih Mazhab Syafi’I”. Kemudian, Syaikh Muhammad Yasin al-Fadaniy menjulukinya  sebagai “al-‘Allamah wa Faqih”.

Syaikh Ahyad wafat pada tanggal 9 safar 1372 H  atau sekitar tahun 1952 M yang bertepatan di kota Mekkah. Ia dimakamkan di Ma’lah persis berdekatan dengan makam Syaikh Mukhtar Atharid Bogor. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here