Syaikh Arsyad At-Thawil Pembangkit Semangat Jihad “Geger Banten 1888”: Dibuang ke Manado, Dipuji Ir. Soekarno

2
1252

BincangSyariah.Com – Dalam sebuah pidato di bulan Desember, 1945, Ir. Soekarno menyebut nama Syaikh Arsyad At-Thawil. “Di Banten pernah ada seorang pahlawan besar. Siapa dia? Dia adalah Kyai Muhammad Arsyad At-Thawil.” 

Beliau memiliki nama lengkap Arsyad bin As’ad bin Musthafa bin As’ad al-Bantani al-Makki atau dikenal juga dengan Syekh Mas Mohamad Arsyad At-Thawil. Dalam kitab al-A’lam al-Makkiyyin karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Mu’allimi, beliau dijuluki dengan Arsyad at-Thawil oleh para penduduk Mekkah. Pada zamannya, ada dua Arsyad dari suku Banten yang tinggal di Mekkah yaitu Arsyad bin As’ad dan Arsyad bin Ulwan. Untuk membedakan, diberikan gelar sesuai dengan tinggi posturnya. Arsyad bin As’ad disebut-sebut sebagai Arsyad at-Thawil (tinggi), sedangkan Arsyad bin Ulwan dipanggil Arsyad al-Qashir (pendek). Demikian disebutkan dalam kitab al-A’lam al-Makkiyyin. 

Diajak “Merantau” Oleh Ayah ke Mekkah

Syaikh Arsyad at-Thawil lahur di Kampung Manis, Tanara, Banten pada tahun 1255 H/1953 M. Ia hidup dan dibesarkan di kota Banten. Namun, saat ia tumbuh remaja, karena ayahnya juga seorang ulama, ayahnya mengajak Arsyad untuk tinggal bersama di Mekkah. Memang ayahnya telah lebih dahulu bermukim di Mekkah.

Berkat dorongan ayahnya, Syaikh Arsyad berhasil menuntaskan hafalan al-Quran yang dibina langsung oleh ayahnya. Tak hanya itu, Ayahnya pun mulai mengenalkan ilmu lainnya seperti fikih, nahwu, dan masih banyak lagi. Penulis belum menemukan nama ayah Syaikh Arsyad secara pasti.

Di Mekkah, Syaikh Arsyad sering menghadiri majelis ilmu para ulama Mekkah dan Masjid al-Haram seperti Syaikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan , Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Abu Bakar Syatha, Syaikh Utsman Syatha, Sayyid Muhammad Husain al-Habsyi, Sayyid Husain Muhammad Hasbullah, dan lainnya.

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 63-66; Rasa Berat Hati Ya’qub Melepaskan Bunyamin

Tak hanya di Mekkah, Syaikh Arsyad pun memiliki sanad keilmuan dari para ulama yang mengajar di Madinah. Diantara para gurunya yaitu Syaikh Abdullah al-Ghani al-Mujaddidi, Sayyid Ali Ibn Zahir al-Watri, dan Syaikh Falih al-Zhahiri (dikenal sebagai Muhaddits di Madinah). Berbagai ijazah sanad keilmuan telah Syaikh Arsyad dapatkan dari para alim ulama ini.

Setelah ia selesai menyelami ilmu di dua kota suci (al-Haramain), ia diamanahkan untuk mengajar di Masjid al-Haram. Syaikh Arsyad mengajar fikih, nahwu, dan hadits. Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani, ulama Mekkah yang menjadi guru banyak ulama Indonesia sampai saat ini, menyebutnya sebagai al-‘Allamah, Muhaddits, Musnid, Faqih, dan Ulama yang panjang umur. Dalam kitab Bulugh al-Amani, disebutkan mayoritas beberapa murid yang ia ajarkan berasal dari Nusantara.

Peristiwa Geger Banten 1888

Maulana La Eda dalam buku 100 Ulama Nusantara di Tanah Suci menjelaskan kalau Syaikh Arsyad pulang ke tanah air tahun 1301 H/1885 M. Di tahun 1305 H/1888 M, di Cilegon, Banten terjadi sebuah peristiwa meletusnya perang Geger Banten yang dalam buku sejarah sering disebut sebagai pemberontakan petani Banten. Dalam catatan sejarah, disebut-sebut ini adalah diantara perang terberat antara kolonial Belanda dan masyarakat nusantara di tanah Jawa. Menurut Snouck Hourgrounje dalam memoarnya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Arab, Shafahat min Tarikh Makkah seperti dikutip La Eda, Syaikh Arsyad berperan sebagai salah satu komandan dalam peristiwa ini. Ia dipercayai oleh pimpinan Banten untuk berkontribusi disana.

Disebut-sebut, kepulangan Syaikh Arsyad ke Indonesia tak lepas dari hasil musyawarah para ulama Banten yang tinggal di Mekkah yang berkeinginan kuat melawan penjajah. Diantara ulama yang ikut memberi keputusan adalah Syaikh Nawawi al-Bantani (selaku orang asli Tanara, Banten), Syaikh Abdul Karim Banten, Syaikh Tubagus Ismail al-Bantani, dan Syaikh Arsyad sendiri. Jaringan ulama Banten di Haramain ini menjadi motivasi dan kesadaran kepada masyarakat Banten agar melepaskan diri dari penjajahan Belanda bertekad mengembalikan kesultanan Banten.

Baca Juga :  Buya Hamka dan Tafsir al-Azhar

Peristiwa geger Banten 1888 berakhir dengan kemenangan pasukan Hindia Belanda. Beberapa pahlawan Banten gugur dan sisanya ditangkap termasuk Syaikh Arsyad. Ia diputuskan untuk diasingkan di Minahasa di kota Manado tepatnya, Sulawesi Utara. Selama di Manado, Syaikh Arsyad berusaha keras untuk mencari jalan kembali ke kota Mekkah. Menurut Michael Laffan dalam bukunya Sejarah Islam di Nusantara, selama di pengasingan Syaikh Arsyad dijadikan “guru agama Islam” oleh Pemerintah Kolonial Belanda, dengan pengawasan Belanda tentunya, agar tidak memberontak lagi. Ia juga aktif berkorespondensi dengan Snouck Hourgronje, yang ternyata sudah dikenalnya sejak ia berada di Mekkah ketika. Pengasingannya di Manado tersebut sampai ia wafat di sana.

Ia menetap di kota Manado dan mulai menyebarkan Islam di kota yang minoritas Islam itu. Sedikit demi sedikit, penduduk Manado mulai menganut agama Islam. Syaikh Arsyad wafat pada hari Senin, 14 Dzulhijjah 1353 H/19 Maret 1934 M di usianya yang ke 98 tahun.

2 KOMENTAR

  1. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…
    Mohon izin berkomentar, saya suka tulisannya. Bagus, menambah wawasan juga, tapi klo tulisan ini ada daftar pustaka atau referensinya itu lebih baik. Sekaligus membuka peluang bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih dalam lagi…

    Terimakasih…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here