Syaikh Ali Thantawi: Pujian Penyair Suriah atas Keindahan Indonesia

0
227

BincangSyariah.Com – “Surga di dunia bukanlah Suriah ataupun Libanon. Akan tetapi ada di Jawa! Siapapun yang melihatnya akan mengetahui bahwa saya berkata benar. Yang belum melihat cukup mendengar penjelasan tentangnya. Melihat langsung tidak sama dengan hanya mendengarkan. Dua hari – selama aku hidup 50 tahun – tak kutemukan hari yang paling indah dan membahagiakan serta membekas dalam jiwaku ketika aku menjelajahi Jawa, dari barat hingga timur dengan kereta. Dari Jakarta menuju Surabaya. Aku tidak menyangka akan melihat di sepanjang jalan dan mendengar bahwa di dunia ada jalan seindah itu!”

Demikian ungkap syaikh Ali Thanthawi, penyair kenamaan asal Suriah atas keindahan Indonesia.

Syaikh Ali Thanthawi menceritakan perjalanannya selama di Indonesia. Beliau menceritakan banyak hal yang unik yang beliau potret dalam bukunya. Beliau menerangkan keindahan pulau jawa yang dipenuhi banyak pohon kelapa, bambu serta rindang hijau pepohonannya dan alunan lembut angin sepoi di sawah-sawahnya.

Beliau juga menceritakan makanan-makanan khas Indonesia seperti Gudek, dan selainnya. Di sebuah hotel, beliau melihat orang-orang mengambil makanan dan sambal. Beliau mengikuti apa yang mereka ambil. Ketika mencicipi sambal tersebut, beliau berkata:

وإذا هذا الشيء الأحمر نار حامية

“Sambal itu neraka yang panas!” ucap beliau dengan ungkapan yang terkesan hiperbolis. Selama sehari beliau tidak makan apapun karena rasa pedas yang lengket di bibir beliau.

Syaikh Ali Thanthawi tak luput memerhati dan mempelajari keunikan dari setiap daerah yang dikunjungi. Ketika mengunjungi Jogja, beliau menjelaskan iklim keilmuan yang bagus di sana. Beliau menjelaskan bahwa Jogja adalah kota keilmuan. Beliau menyinggung tentang madrasah Mu’alimin, Pesantren Krapyak, dan hal-hal unik yang ada di sana.

Baca Juga :  Membicarakan Fatwa "Musik Haram" di Indonesia

Sebelum NU mempopulerkan istilah Islam Nusantara, jauh sebelum itu syaikh Ali Thanthawi telah menuliskan dalam salah satu bagian subbab buku tersebut berjudul, Islamu Indunisiyya (Islam Indonesia).

Di bagian tersebut, beliau menjelaskan bagaimana Islam masuk ke Indonesia. Tentang penjajah. Tentang organisasi-organisasi seperti NU, Muhammadiyah, Tarbiyah Islamiyah. Tentang Ibnu Bathuhah yang konon pernah ke Sumatera dan mencicipi kelapa. Beliau juga menuliskan sebuah temuan yang mengatakan bahwa sejak zaman Abbasiah, Islam sudah masuk ke Indonesia. Hal itu bisa dibuktikan dengan kuburan yang ada di Sumatera. Kuburan itu milik Waliyullah Abdullah bin Muhammad bin Abdul Qadir bin Abdul Aziz bin Abu Ja’far Mansur, khalifah Abbasiyah kedua. Abdullah datang dari India menuju Sumatera.

Dalam Islamu Indunisiyya, Syaikh Ali Thanthawi juga berharap universitas-universitas di Arab menjadikan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa yang dipelajari di universitasnya. Dan alhamdulillah, di al-Azhar, hal itu telah tercapai!

Beberapa pesantren tua kenamaan juga disebut oleh syaikh Ali Thanthawi. Di Sumatera beliau menyebut Sumatera Thawalib. Di Jawa, beliau menyebutkan pesantren Tebuireng di Jombang dan pesantren Tremas di Pacitan.

Syaikh Ali Thanthawi juga tak luput mendeskripsikan perempuan-perempuan Indonesia. Beliau mengatakan tentang perempuan jawa

وهن من أحلى النساء حلاوة وإن لم يكن من أجملهن جمالا. حلوات كعرائس المولد في مصر التي تصنع من والسكر

“Mereka (perempuan Jawa) paling manis meskipun tidak termasuk yang paling cantik. Mereka seperti manisan-manisan yang ada di acara maulid di Mesir yang terbuat dari gula.”

Barangkali dari hal itu, ada ungkapan, hitam-hitam gula jawa. Saya tidak tahu. Hanya bergurau.

Beliau juga menaruh hormat kepada perempuan-perempuan tangguh yang ikut berjuang melawan penjajah. Mereka tidak gentar akan mati. Syaikh Ali Thanthawi sampai meneteskan air mata ketika mendapatkan cerita bahwa salah satu perempuan Indonesia meledakkan bom di dekat tank para penjajah hingga syahid. Beliau juga mengagumi sosok Kartini.

Baca Juga :  Bentuk Rambut Nabi

Beliau banyak memuji pahlawan-pahlawan Indonesia, misalnya ketika ia memuji Sukarno dan menyifatinya

من أخطب خطباء الدنيا

Rajanya para orator.

Beliau menyebutkan Jenderal Sudirman, Bung Tomo, dan kiai-kiai yang meninggalkan kitab-kitabnya demi melaksanakan perang melawan penjajah.

Syaikh Ali Thanthawi mengisahkan Indonesia layaknya sebuah novel. Ada hal unik-unik yang barangkali tidak diketahui oleh orang Indonesia sendiri. Buku ini cukup untuk mengobati rindu kepada Indonesia.

يوم في الجنة

“Sehari di Surga”

Demikian judul sebuah bab dalam buku “Fi Indonesia” karya syaikh Ali Thanthawi.

Kita akan mengetahui sisi surga Indonesia, ketika menyadari betapa indahnya panorama alam semesta Indonesia dibandingkan negara-negara lain. Dan jauh lebih besar dari itu, nikmat kehidupan Indonesia yang damai yang tidak diliputi konflik peperangan. Semoga Allah menjaga Indonesia.

“Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”

Selamat ulang tahun, Indonesia!

سما لك إندونيسيا شوق عاشقٍ

وإن كنتُ في بعدٍ فروحيَ تقربُ

Oh, alangkah memuncaknya rindu seorang pecinta kepadamu, Indonesia!

Meski aku jauh, ruhku dekat denganmu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here