Syaikh Ahmad Umar Hasyim: Ahli Hadis Mesir yang Penyair

0
166

BincangSyariah.Com – Beliau adalah seorang dai dan muhaddis kenamaan, mantan rektor al-Azhar al-Syarif, ketua umum persatuan pemuda muslim internasional. Seorang sastrawan dan juga penyair. Dr. Ahmad Umar Hasyim. Lahir di desa Bani Amir, Provinsi Syarqiya tahun 6 Februari 1941. Beliau dari keluarga Hasyimiyah yang terkenal dengan keilmuan dan keislamannya juga keistimewaan dan kemuliaannya. Beliau keturunan ahl al-Bayt (keluarga Nabi Saw.) dari Sayyidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib.

Beliau berguru kepada ulama-ulama di masanya. Di antaranya, Dr. Husaini Hasyim, wakil syaikh Azhar. Syaikh Azhar, Abdul Halim Mahmud. Musnid al-Dunya, Syaikh Yasin Fadani, dan lain-lain.

Beliau lulus Doktoral bidang Hadis di kuliah Ushuluddin pada tahun 1973 M, setelah sebelumnya merampungkan tingkat licence (Lc./setara strata 1) dan magister (setara strata 2). Adapun jabatan-jabatan yang pernah diemban beliau: asisten dosen, dosen, ketua jurusan. Kemudian dekan di al-Azhar cabang Zagaziq pada 1987 M; Wakil Rektor Bidang Pembelajaran dan Kemahasiswaan pada tahun 1989 M; Wakil Direktur Pascasarjana al-Azhar 1993 M; hingga Rektor al-Azhar tahun 1995 M.

Beliau adalah seorang pendekar dalam khutbah. Suaranya melengking lagi jelas. Siapapun yang mendengarkan langsung khutbahnya, akan takjub dan gemetar akan kekuatan hafalan-hafalannya, baik syiir maupun prosa. Di usianya yang sepuh, gemeletam suaranya tetap saja seperti ketika muda. Tak jarang ketika mendendangkan sebuah syiir, beliau meneteskan air mata, terlebih ketika berkaitan dengan baginda Nabi Muhammad saw. dan ahli bayt. Beliau juga merupakan sosok yang sangat produktif. Karyanya hampir mencapai 70 lebih! Di antaranya:

● Al-Islam wa Bina’ Syakhsiyah

● Min Hadyi al-Sunnah al-Nabawiyah

● Al-Syafa’ah fi Dhaui al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Raddu Ala Munkariha

● Al-Tadhamun fi Mujahati al-Tahaddiyat

● Al-Islam wa al-Syabab, Qasas al-Sunnah

● Alquran wa Laylah al-Qadr

● Faidhul Bari fi Syarh al-Bukhari.

Faidhul Bari fi Syarh al-Bukhari adalah karya terbesar beliau yang mensyarah shahih Bukhari. Selain itu, beliau juga memiliki Kasidah Burdah sekitar 90 bayt yang didendangkan dengan Bahr dan Qafiyah yang sama dengan burdah Imam Bushiri.

Baca Juga :  Kerajaan Hafsiyun, Kerajaan Islam di Afrika Utara Keturunan Umar bin Khattab

Menceritakan Pengalaman Bertemu Nabi

Dalam satu stasiun TV, syaikh Ahmad Umar Hasyim menceritakan pengalamannya bertemu baginda Nabi Muhammad saw.

“Demi Allah, apakah engkau pernah bertemu Rasulullah dalam mimpi?! Tanya salah pembawa acara di stasiun TV kepada syaikh Ahmad Umar Hasyim.”

“Iya. Aku melihat beliau pertama kali dalam mimpi ketika tahun keempat atau tahun terakhir di kuliah Ushuluddin. Kemudian kuceritakan kepada ayahku mimpi itu.”

“Aku melihat Rasulullah thawwaf. Beliau berada di antara tiang dan pintu Ka’bah. Dan aku berjalan di belakang beliau.”

Seketika itu pula, ayahku berkata: ‘Berbahagialah! Karena beliau bersabda ‘Siapa yang melihatku dalam mimpi, maka itu mimpi adalah benar. Sebab, setan tidak mungkin menyerupaiku.’ “Kemudian aku ingin menanyakan tafsir dari mimpi itu? Dijawab oleh ayahku,

“Cukuplah engkau telah bertemu Rasulullah. Apa lagi yang kau inginkan?! Aku amat berkesan engkau bisa berjalan di belakang beliau.”

Beberapa saat setelah itu, ayahku berkata:

“Selama engkau melihat Bayt al-Haram, engkau akan berhaji ke Bayt al-Haram.”

“Lah kok bisa, aku kan masih pelajar, sedang engkau saja belum berhaji?”

Dan ternyata benar, suatu hari aku berada di sebuah pelatihan, lalu dekan fakultas memanggilku dan menyuruh pergi ke rektor universitas. Kemudian sang rektor berkata:

“Anda mendapatkan tiket dari universitas Azhar untuk menunaikan haji tahun ini!” Dan itu pertama kalinya aku pergi ke Mekkah dan aku masih seorang pelajar. Lalu kami merencanakan ke goa Hira’, dan masuk ke tempat yang dibuat beri’tikaf. Dan ketika itu orang-orang dipersilahkan untuk menaiki goa Hira’, padahal biasanya diperketat. Intinya, kami menaiki Jabal Rahmah, dan turun di goa Hira’. Siapa yang dapat berhaji kala waktu sehatnya, sebelum masa mudanya berakhir, maka kerjakanlah. Aku menasehati siapapun yang bisa dan orang-orang yang diberi harta dan kesehatan pada waktu mudanya, berhajilah!”

Dalam mimpi tersebut, boleh jadi terdapat isyarat bahwa kelak beliau akan menjaga sunnah-sunnah Baginda Nabi saw.

Baca Juga :  Al-Azhar Telah Berumur 1080 Tahun, Ini Peran Al-Azhar dalam Kajian Hadis

Hari ini adalah ulang tahun beliau yang 78. 6 Februari 1941-6 Februari 2019. Di usia yang sangat sepuh tersebut, beliau masih menyempatkan waktunya untuk mengajar dua kali seminggu meskipun harus dituntun oleh kursi roda. Itu di luar jadwal khutbah beliau di masjid al-Rahim. Beliau belasan kali berkunjung ke Indonesia. Habib Muhammad Quraish Shihab adalah teman seperguruannya di syaikh Abdul Halim Mahmud. Semoga Allah senantiasa memberi kesehatan memanjangkan umur beliau. Ya Rabb.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here