Syaikh Ahmad Mustafa Al-Maraghi: Pakar Tafsir Mesir Abad ke-20

0
1210

BincangSyariah.Com – Islam amat memuliakan pengetahuan, hal ini tak lain merupakan pengejawantahan pesan yang disampaikan oleh Nabi Saw dalam suatu sabdanya bahwa mencari ilmu merupakan kewajiban yang harus ditunaikan bagi setiap muslim. Sebagai buah dari ibadah tersebut, Allah menjamin pengangkatan derajat sang hamba. Allah berfirman mengenai hal tersebut pada surat Al-Mujadilah ayat 11 :

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Salah satu buktinya bisa kita dapati pada kisah perjalanan cendekiawan muslim terkenal,  Syaikh Ahmad Mustafa Al-Maraghi berikut.

Lahir di Keluarga yang Mencintai Ilmu

Beliau yang memiliki nama lengkap Ahmad Mustafa bin Muhammad bin Abdul Mun’im al-Maraghi, dilahirkan pada 9 Maret 1883 H di kota Maraghah, Provinsi Suhaj, Mesir. Terkadang nama beliau dibubuhi sebutan Beik pada belakangnya menjadi Ahmad Musthafa al-Maraghi Beik.

Sebutan al-Maraghi merupakan nisbat kepada daerah kelahirannya di Maraghah. Syeikh Umar Rida Kahalah dalam Mu’jam al-Mu’allifiin menyebutkan bahwa ada 13 orang yang dinisbatkan dengan al-Maraghi di luar keluarga dan keturunan Syeikh Abdul Mun’im al-Maraghi.

Al-Maraghi lahir dari keluarga yang menicntai ilmu pengetahuan dan dibesarkan dalam balutan nuansa cinta keilmuan yang begitu tinggi. Bagi keluarga al-Maraghi, orang berpengetahuan begitu dihormati dan disegani. Dari sana tak heran jika saudara-saudara al-Maraghi, 5 dari 8 bersaudara, menjadi tokoh dan cendekiawan yang disegani di Mesir.

Prinsip mencintai pengetahuan dengan ketat tertanam dalam diri al-Maraghi, melalui prinsip tersebut ia berhasil mendidik anak-anaknya sebagai generasi penerus yang handal. Keseluruh anak al-Maraghi yang berjumlah empat masing-masing menjadi hakim di berbagai daerah. Selain itu, sebagaimana dilaporkan dalam Ensiklopedi Islam terbitan Departemen Agama, Al-Maraghi memiliki banyak anak ideologis yang handal di Indonesia dan menjadi tenaga pendidik di berbagai perguruan tinggi Islam negeri.

Baca Juga :  Pada Usia Berapa Sebaiknya Orang Tua Memisahkan Tempat Tidur Anak?

Ahmad Mustafa al-Maraghi belajar dengan sungguh-sungguh ilmu pengetahuan agama di berbagai Lembaga Pendidikan. Pada umur 13 tahun al-Maraghi telah menamatkan hafalan al-Qur’an. Selepas lulus dari sekolah menengah, pada tahun 1897, Al-Maraghi melanjutkan studinya ke dua universitas secara bersamaan, Universitas Al-Azhar dan Universitas Darul Ulum, kedua-duanya berlokasi di Kairo Mesir.

Saat menempuh bangku kuliah, Al-Maraghi menimba ilmu dari berbagai ulama besar di Mesir, di antaranya adalah kepada Syaikh Muhammad Abduh, Syaikh Muhammad Rasyid Ridho, Syaikh Ahmad Rifai al-Fayumi, Syaikh Muhammad Bukhait Abdul Mu’ti, dan lain sebagainya. Al-Maraghi lulus dari kedua kampus tersebut bersamaan pada tahun 1909 M.

Menjadi Tokoh Penting di Mesir

Mustafa Al-Maraghi merupakan sosok yang ulet dan produktif merespon laju dinamika pengetahuan di Mesir. Buah dari kegigihannya, Al-Maraghi diganjar dengan menduduki posisi penting perubahan itu sendiri. Banyak jabatan yang dipangku utamanya dalam jabatan yang berkaitan dengan dunia pendidikan.

Al-Maraghi didaulat menjadi tenaga pendidik ilmu balaghah dan kebudayaan di Fakultas Bahasa Arab di Universitas al-Azhar, dosen bahasa Arab di Universitas Darul Ulum Mesir, dosen tamu di fakultas cabang Universitas al-Azhar di Khartoum, Sudan (1916-1920). Pada tahun 1916 beliau diberi amanah menjadi dosen utusan al-Azhar di Fakultas Ghirdun untuk mengajar ilmu Syariah.

Selain itu beliau juga dipercaya menjadi direktur Madrasah al-Muallimin di Fayum, kepala Madrasah Usman Basya di Kairo, tenaga pendidik di Ma’had Tarbiyah Muallimin.

Buah dari kegigihannya, pada tahun 1361 M al-Maraghi mendapat penghargaan dari raja Faruq, raja Mesir saat itu.

Penting untuk dicatat bahwa seringkali terjadi kekeliruan penisbatan nama al-Maraghi ini. Tokoh yang sedang kita bicarakan saat ini adalah Ahmad Mustafa Al-Maraghi, bedakan ia dengan Muhammad Mustafa Al-Maraghi, kakak kandung Ahmad Mustafa Al-Maraghi. Kakaknya merupakan mantan Syekh Al-Azhar yang juga menulis beberapa tafsir Al-Qur’an, namun tidak sampai menyeluruh sebagaimana Ahmad Mustafa al-Maraghi.

Baca Juga :  Pengantar Tafsir Surah An-Nisa

Karya-Karya

Selain dikenal sebagai tokoh yang banyak mengajar di perguruan tinggi, al-Maraghi tetap mampu mengisi waktunya dengan melahirkan karya tulis yang berkualitas. Berikut adalah karya-karya al-Maraghi yang meliputi berbagai macam rumpun pengetahuan islam.

Tafsir Al-Maraghi, Hidayah al-Thalib, Al-Hisbah fil Islam, Ad-Diyanah wal Akhlaq, Tahzil al-Taudih, Al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh, Muqaddimah Tafsir, Buhuts wa Ara fi Funun al-Balaghah, Ulum al-Balaghah, Tarikh Ulum al-Balaghah wa Ta’rif birijaliha, Murshid at-Thullab, Al-Mujaz fi al-Adab al-Araby, Al-Mujaz fi Ulum al-Usul, Al-Rifq bi al-Hayawan fi al-Islam, Tafsir Juz Amma, Risalah Itsbat Ru’yah al-Hilal fi Ramadhan.

Di antara karya beliau yang paling fenomenal dan dikenal di berbagai belahan dunia adalah karya beliau dalam bidang tafsir, yakni tafsir al-Maraghi. Tafsir ringkas yang membahas kandungan al-Qur’an secara menyeluruh dan penuh dengan pelajaran.

Al-Maraghi menetap di Hilwan, sebuah kota satelit yang terletak sekitar 25 km selatan Kairo. Al-Maraghi meninggal pada usia 69 tahun,  tepatnya pada tanggal 9 Juli 1952 M.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here