Syaikh Abdul Halim Mahmud: Ulama Sufi dan Tokoh Pelopor Perdamaian Dunia

0
42

BincangSyariah.Com – Syekh Abdul Halim lahir di sebuah kampung di kota Belbes Mesir pada tahun 1910 M. Kampung tersebut bernama kampung Abu Hamid persis seperti nama dari sang reformis dan pendirinya, Syekh Abu Hamid. Dewasa ini kampung tersebut mengalami perubahan sehingga lebih familiar dengan sebutan, as-Salam.

Syekh Abdul Halim tumbuh dilingkungan yang terdidik. Ayahnya seorang yang sangat perhatian terhadap agama dan budaya Islam. Sehingga didikan terhadap sang anak pun tidak lepas dari nilai – nilai islami.

Pengembaraan Intelektual

Berdasarkan buku Syuyukh Al Azhar karya Sa’id Abdurrahman, Syekh Abdul Halim menempuh pendidikan dasar pada tahun 1923, di dua sekolah sekaligus, Al Azhar dan Ma’had Mu’allimin al-Misai. Tidak sulit bagi anak yang terkenal rajin itu untuk  lulus dari dua sekolah tersebut.

Kemudian beliau melanjutkan studi ke tingkat tsanawiyah di Al Azhar. Tahun 1928 beliau dinyatakan lolos, setelah menempuh pendidikan hanya dalam kurun waktu dua tahun, dari standar umum empat tahun.

Empat tahun berikutnya Syekh Abdul Halim menyelesaikan tingkat aliyahnya di sekolah yang sama. Lalu melanjutkan ke pendidikan tinggi di Sorbonne, Prancis. Beliau mengambil konsentrasi di bidang sejarah agama, filsafat dan ilmu sosiologi.

Di penghujung tahun 1937, guru dari Pak Quraisy Syihab itu menulis desetasi tentang seorang tokoh sufi dari Baghdad, al-Harist bin Asad al-Muhasibi. Nahas, di tengah perjuangannya menyelesaikan desertasi, perang dunia meletus.

Karib seperjuangannya memutuskan untuk pulang kampung. Berbeda dengan Syekh Abdul Halim, beliau teguh untuk tetap merampungkan apa yang telah beliau mulai. Tanggal 8 Juni 1930 M, beliau menghadiri sidang dan mendapat gelar doktornya. Karyanya diabadikan dan dicetak dalam bahasa Prancis.

Baca Juga :  Karl von Smith, Murid K.H Hasyim Asy’ari yang Tertuduh Orientalis

Perjalanan Karir

Sepulangnya dari Prancis beliau mengabdikan diri sebagai pengajar di Fakultas Bahasa Arab. Lalu pindah sebagai dosen filsafat di Fakultas Ushuluddin. Karir beliau terus melonjak, tahun 1964 beliau dipilih sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin.

Empat tahun berikutnya, beliau diamanahi sebagai wakil pimpinan tertinggi Al Azhar. Puncak karirnya terjadi pada tanggal 27 Maret 1973, saat beliau dilantik sebagai Grand Syaikh Al Azhar dan pada 15 Oktober 1978, saat beliau dipercaya pemerintahan untuk menjabat sebagai menteri wakaf.

Selain aktif melakukan sejumlah perubahan di dalam negeri, beliau juga cekatan menghadiri muktamar lintas benua, Asia, Afrika ataupun Eropa. Tercatat beliau pernah mengunjungi Iraq, Tunisia, Libia, Filipina, Pakistan, Sudan, Malaysia, Yugoslavia, India, Inggris, Arab Saudi, UEA dan Kwait. Beliau juga pernah mengunjungi Indonesia sebanyak dua kali lawatan.

Dalam sederet petualangannya, Syekh Abdul Halim menekankan pentingnya ekonomi syariah untuk kestabilan ekonomi dunia. Terkhusus warga muslim, beliau menegaskan pentingnya membumikan kembali bahasa Arab yang mulai terkikis pasca penjajahan Eropa. Menurutnya bahasa Arab adalah bahasa Al Qur’an dan kunci inti untuk mendalami agama dan syariat Islam.

Tidak hanya soal pendidikan, beliau juga mencermati sosial politik dunia. Dalam sebuah pertemuan beliau menyatakan bahwa umat Islam baik itu di Timur maupun di Barat, semuanya adalah saudara. Tidak ada perbedaan atas dasar ras, warna kulit atau bangsa. Sehingga umat Islam wajib saling menjaga antara satu sama lainnya.

Kontribusi Pemikiran dalam Konflik Perang Saudara di Libanon

Pada tahun 1975 hingga 1990, di Libanon perang saudara pecah. Huru hara terjadi dimana – mana, baku tembak serta saling serang mewarnai kehidupan warga setiap harinya. Akibat tragedi mengerikan itu, nyawa ratusan ribu orang melayang begitu saja.

Baca Juga :  Hak-hak Anak dalam Islam

Sebagai ulama yang menjunjung tinggi perdamain dan nilai – nilai ukhuwah, beliau menyayangkan terjadinya konflik komunal tersebut. Dengan segenap tenaganya, beliau atas nama Grand Syaikh Al Azhar mengultimatum semua pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung agar segera menghentikan perang tersebut.

Sesungguhnya Al Azhar, baik dari masyayikh, ulama, pelajar ataupun para pekerja di dalamnya, sangat mengingkari atas meletusnya dan berlanjutnya fitnah hingga sampai di tahapan ini. Kami menghimbau kepada seluruh raja dan pimpinan negara – negara Arab beserta Liga Arab agar segera bergerak atas nama reformasi dan perdamaian”, tutur Syekh Abdul Halim.

Memediasi Perang Pasir antara Al-Jazair dan Maroko

Konflik antara Al Jazair dan Maroko dipicu oleh perebutan kekuasaan di wilayah perbatasan. Keduanya saling mengklaim bahwa wilayah Sahara Barat merupakan wilayah kedaulatan mereka. Konflik ini memanas pasca keduanya berhasil merdeka dari jeratan penjajahan Prancis.

Karena upaya rekonsiliasi melalui perundingan gagal, keduanya terancam adu hantam di medan perang. Ini cukup tragis, sebab sebenarnya keduanya bak dua saudar kembar dimana keduanya memiliki darah keturunan yang sama, dan sama – sama mayoritas beragama Islam.

Isu krusial ini terdengar sampai telinga Syekh Abdul Halim. Beliau tidak mau keduanya bertikai dan saling menumpahkan darah, apalagi kedua belah pihak sama – sama muslim, yang seharusnya saling membantu dan saling bersatu padu sebagaimana yang sering beliau sampaikan dalam ceramah – ceramahnya.

Tidak mau hal itu terjadi, Syekh Abdul Halim segera melakukan tindakan preventif. Melansir aljarida, beliau mengirim surat kepada Raja Maroko Hasan II dan Presiden Al Jazair Houari Boumediene.

Dalam surat tersebut Syekh Abdul Halim meminta kedua belah pihak agar tidak melakukan hal-hal yang akan berimbas pada perpecahan. Beliau harap keduanya bisa berinisiatif untuk menyamakan persepsi melalui jalur kekeluargaan dengan kepala dingin.

Baca Juga :  Akibat Meremehkan Hal Sepele

Untuk memperkuat gagasannya, Syekh Abdul Halim juga memohon Presiden Mesir, Anwar Sadat, agar ikut memediasi pertikaian antara kedua negara.

Jiwa dan raga kaum muslimin dan bangsa Arab tergantung pada kepemimpinan anda, mereka sedang menunggu sikap mulia anda untuk meredam konflik bersenjata antara dua negara bersaudara, Aljazair dan Maroko”, tulis Syekh Abdul Halim kepada Anwar Sadat.

Niatan baik Syekh Abdul Halim mendapat respon baik dari Anwar Saddad, “Saya sudah menerima surat anda perihal upaya penyelesaian konflik antara Al Jazair dan Maroko. Dan saya sampaikan bahwa Mesir akan melaksanakan kewajibannya demi tercapainya kemaslahatan bangsa Arab dan kaum muslimin”, balas Saddad.

Di waktu yang sama, Syekh Abdul Halim mengirim surat kepada Raja Arab Saudi, Khalid bin Abdul Aziz agar dia turut terlibat dalam upaya rekonsiliasi dua negara yang hampir saling menumpahkan darah tersebut. Berkat diplomasi yang dilakukan beliau, konflik Sahara Barat mereda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here