As-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal; Teladan Ideal Guru dan Murid

0
611

BincangSyariah.Com – Muhammad bin Idris As-Syafi’i, atau lebih dikenal dengan Imam As-Syafi’i sebagaimana kita ketahui adalah satu dari empat imam Mazhab. Tidak satu pun meragukan kapasitas keilmuan beliau. Beliau adalah guru dari Imam Ahmad bin Hanbal, yang juga merupakan salah satu dari empat Imam Mazhab.

Suatu hari, Imam Al-Syafi’i berkunjung ke kediaman Imam Ahmad. Imam Ahmad mempunyai seorang putri yang sangat mengagumi Imam As-Syafi’i, hal ini karena Imam Ahmad sering menceritakan betapa alim, zuhud, dan hebatnya gurunya tersebut, hingga membuat putrinya penasaran seperti apa tokoh yang dikagumi dan dimuliakan ayahnya itu. Tak pelak kedatangan Imam As-Syafi’i ke kediamannya menjadi momen yang menggembirakan baginya, karena dengan kunjungan beliau, ia bisa tahu lebih jauh sosok ulama yang dikagumi ayahnya.

Sesampainya di kediaman Imam Ahmad, Imam As-Syafi’i dijamu dengan makan malam, beliau makan dengan lahap, tak seperti biasanya, porsi makan beliau bertambah. Hal ini membuat putri Imam Ahmad terkejut, karena berdasarkan cerita yang ia dapat, Imam As-Syafi’i bukanlah orang yang suka makan, beliau makan sekedarnya saja. Sehabis jamuan makan malam, kedua ulama besar ini berpisah: Imam Ahmad melaksanakan sholat dan dzikir sepanjang malam, Imam As-Syafi’i berbaring di kamar tidur.

Kejutan kedua. Putri Imam Ahmad makin dibuat heran, bagaimana bisa ayahnya mengidolakan orang yang tidur sepanjang malam sedangkan beliau sendiri menghabiskan malamnya dengan qiyamullail, atau apa yang sebenarnya terjadi? Ia bertanya-tanya. Hingga terbit fajar, mereka bertiga sholat berjamaah dipimpin Imam As-Syafi’i. Dan, yang lebih mengagetkan, Imam As-Syafi’i yang sepanjang malam terbaring, begitu bangun dari tempat tidur langsung melaksanakan sholat tanpa wudhu’.

Akhirnya sang putri yang merasa tidak paham apa yang sebenarnya terjadi meminta pencerahan dari ayahandanya, Imam Ahmad. Ia berkata: “Ayah, apakah ini sosok yang engkau idolakan?  saat makan malam, ia makan dengan porsi banyak, setelah itu pergi ke kamar tidur tidak mengisi malam dengan sholat dan dzikir, lalu begitu bangun langsung melaksanakan sholat tanpa berwudhu’. Lalu ketika beliau berdua bercakap-cakap, Imam Ahmad menyampaikan apa yang ditanyakan putrinya itu pada sang guru. Imam As-Syafi’i menjawab “Mengenai porsi makanku yang bertambah pada jamuan semalam, itu karena aku tahu makananmu pasti makanan yang halal, dan engkau adalah orang yang dermawan,

طعام الكريم دواء وطعام البخيل داء

Baca Juga :  Wasiat Nabi tentang Meredam Amarah

“Makanan orang dermawan bisa menjadi obat, dan makanan orang kikir akan melahirkan penyakit”

maka aku memakannya untuk mengobati sakitku, bukan mengenyangkan perutku. Lalu saat aku terbaring, di hadapanku seolah ada puluhan permasalahan fikih, maka aku memecahkannya sepanjang malam, itulah yang membuatku tak sempat melaksanakan sholat sunnah. Dan mengapa aku tidak wudhu saat sholat subuh, itu karena semalam suntuk aku tenggelam dalam memecahkan permasalahan-permasalahan fikih tadi, dan tidak tidur sama sekali, maka wudhu’ku sewaktu sholat Isya’ belum batal”. Jawaban sang guru ini kemudian diceritakan pada putrinya seraya berkata “Lihatlah, apa yang beliau lakukan saat berbaring di tempat tidur pun lebih mulia dari apa yang aku lakukan dalam keadaan terjaga (sholat dan dzikir sepanjang malam)”. Sebagaimana diketahui, bahwa belajar ilmu agama lebih utama daripada melaksanakan sholat sunnah.

Begitu indahnya akhlak dua ulama kebanggaan Islam ini, kealiman Imam Ahmad tidak membuat beliau merasa pandai sehingga tidak menghormati gurunya, begitu pula Imam As-Syafi’i, kealiman beliau serta statusnya sebagai guru tidak membuat beliau malu apalagi gengsi mengakui keluhuran derajat muridnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here