Surga dan Neraka itu Tidak Penting bagi Rabi’ah al-‘Adawiyah, Mengapa?

0
254

BincangSyariah.Com—Bagi setiap manusia, surga dan neraka adalah satu hal yang sangat diinginkan dan satu hal yang sangat tidak diinginkan. Untuk meraih surga, sesuatu yang sangat diinginkannya, mereka cenderung akan melakukan ibadah secara tekun, siang dan malam, dimanapun dan kapanpun ia berada. Sebaliknya, bagi yang tidak melakukan ibadah, neraka adalah balasan yang setimpal.

Namun demikian, hal ini sangat berbeda dengan apa yang kemudian dikatakan oleh Rabi’ah al-Adawiyah. Seorang wanita sufi terkemuka dari Bashrah, Irak yang kecintaannya terhadap Allah SWT tidak dapat diragukan lagi. Allah Yarham. (Baca: Kisah Sufi Wanita Rabi’ah al-‘Adawiyah: Pernah Jadi Budak Sampai Tidak Menikah)

Sebagaimana termaktub dalam Jejak-jejak para Sufi yang dituliskan Imam Musbikin dan Miftahul Asror, pernah suatu saat Rabi’ah al-‘Adawiyah didapati sedang berlarian di seputaran Kota Basrah dengan membawa satu ember berisikan air penuh dan sebuah obor dengan api yang menyala-nyala di tangannya.

Tak elak, apa yang kemudian dilakukan oleh Rabi’ah al-‘Adawiyah ini membuat orang yang melihat tercengang. Orang-orang yang tadi sedang melakukan aktivitas seperti biasa serentak berhenti untuk melihat Rabi’ah al-‘Adawiyah.

Setelah beberapa saat mengitari kota Basrah, dan tidak ada yang berani menegur Rabi’ah al-‘Adawiyah, datanglah salah seseorang warga Kota Basrah penuh dengan rasa penasaran seraya berkata, “Wahai Rabi’ah! Alasan apa yang kemudian menjadikanmu perbuat demikian?”.

Sontak mendengar hal tersebut, Rabi’ah al-‘Adawiyah kemudian memberhentikan langkahnya. Jawabnya: “Aku hendak menuangkan air dalam ember yang kubawa ini ke dalam neraka dan mengobarkan api di dalam surga!”.

“Mengapa demikian?”, tanya seseorang dengan penuh kebingungan.

“Ya! Aku ingin menuangkan air ke dalam api neraka dan mengobarkan api di surga sehingga kedua selubung ingin hancur dan hilang dan tidak lagi ada orang yang menyembah Tuhan-nya karena takut akan pedihnya siksaan api neraka dan mengharapkan nikmatnya surga atas segala ibadahnya”, jawab Rabi’ah al-‘Adawiyah.

Baca Juga :  Kisah Imam Al-Ghazali Dibegal

“Surga dan neraka itu tidak penting! Dengan hilangnya kedua selubung ini, orang akan beribadah semata-mata demi keindahan-Nya yang abadi”, lanjut Rabi’ah al’Adawiyah.

Mendengar hal tersebut, orang yang tadinya bertanya hanya bisa terdiam. Sesaat setelah itu, Rabi’ah al-‘Adawiyah pun merapalkan sebuah doa dengan penuh haru.

“Ya Allah! Apabila diriku menyembah-Mu hanya karena takut akan pedihnya siksaan api neraka yang tiada habisnya, bakarlah habis seluruh tubuh ini di dalamnya. Dan apabila diriku menyembah-Mu karena mengharap nikmatnya kehidupan surga, maka campakkanlah diriku saat berada di dalamnya. Namun, jika diriku beribada semata-mata demi Engkau ya Allah, maka janganlah Engkau sesekali enggan untuk memperlihatkan keindahan-Mu yang adabi kepada diriku”, doa Rabi’ah al-‘Adawiyah.

Melalui kisah tersebut, mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing, sudahkah kita beribadah semata-mata demi kecintaan dan rasa bersyukur kita kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan?. Semoga kita termasuk orang-orang yang demikian. Amin.

Wallahu’alam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here