Surat Umar bin Khattab untuk Abu Ubaidah di Tengah Wabah Amwas

0
1685

BincangSyariah.Com – Wabah yang sedang menjangkit dunia saat ini adalah kegelisahan seluruh umat manusia. Manusia tak henti-hentinya berusaha semaksimal mungkin untuk berlindung dari ancaman ini, bahkan dalam beberapa kasus manusia rela menanggalkan kemanusiannya demi bertahan hidup di tengah-tengah lingkaran maut tanpa mau memikirkan yang lain.

Masing-masing dari kita pasti punya orang yang kita sayangi, entah itu orang tua, saudara, pasangan, ataupun anak dan teman. Tentu kita ingin yang terbaik untuk orang-orang yang kita sayangi. Tantangan yang sangat berat adalah apa yang kita hadapi saat ini. Kita dengan sadar tahu bahwa orang yang kita sayangi sedang berada di daerah yang dinyatakan Red Zone atau wilayah berbahaya terjangkit Covid-19, beberapa instansi meminta para perantau untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. Sedangkan beberapa lainnya malah melarang untuk pulang kampung, dengan alasan menjaga penyebaran virus.

Anjuran Rasulullah, seperti yang tertulis dalam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim adalah tidak masuk dan keluar dari area Red Zone tersebut. Maksudnya, dianjurkan bagi para perantau agar tidak pulang, dan bagi para pelancong agar tidak datang. Menunggu situasi membaik, dan meminimalisir potensi ledakan jumlah korban. Namun kadang karena rasa cinta dan sayang kita, kita mengabaikan anjuran ini.

Kegelisahan seperti ini pun pernah dialami oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA. Pada masa pemerintahannya di tahun 18 Hijriah, Muncullah sebuah wabah bernama Tha’un ‘Amwas, dinamakan Amwas karena wabah ini muncul dari sebuah daerah bernama Amwas  di wilayah Syam atau lebih dikenal sekarang dengan sebutan Suriah. Wabah ini muncul, sesaat setelah peperangan melawan tentara Romawi, sebagaimana dicatat dalam al-Kamil fit Tarikh. (Baca: Belajar Cara Menghadapi Wabah dari Umar bin Khattab)

Baca Juga :  Abdullah bin Umar bin Khattab: Putra Khalifah yang Menolak Kekuasaan

Ketika kemunculan wabah tersebut, Amirul Mukminin sedang dalam perjalanan menuju Syam, ketika mendengar ada kemunculan wabah di daerah Syam, Amirul Mukminin memutuskan untuk kembali ke Madinah, demi melakukan langkah-langkah preventif terhadap wabah ini. Namun sebelum pulang, ada 1 hal yang sangat mengganggunya, yakni Temannya yang ia kasihi, yang ingin ia selamatkan dari wabah itu, Gubernur Syam Abu Ubaidillah bin Jarrah.

Tanpa pikir panjang, Sebelum kembali ke Ibukota, Umar mengeluarkan secarik kertas dan mulai menulis surat kepada Abu Ubaidah. Begini isi suratnya:

“أن سلام عليك، أما بعد فقد عرضت لي إليك حاجة أريد أن أشافهك. فعزمت عليك إذا أنت نظرت في كتابي هذا ألا تضعه من يدك حتى تقبل إلي”

Artinya: “Salam bagimu wahai Gubernur, Aku punya urusan yang harus aku bicarakan denganmu. maka aku putuskan, bahwa janganlah engkau abaikan surat ini setelah membacanya, temuilah aku”

Membaca surat itu, Abu Ubaidah tau, bahwa Umar berusaha mengeluarkannya dari Syam, berusaha menyelamatkannya dari wabah yang ia dengar kabarnya. Surat itu seakan – akan adalah surat tugas yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Padahal, sebenarnya surat itu adalah surat kasih seorang sahabat yang tak rela melihat sahabatnya berada di ambang kematian. Karena Umar adalah Khalifah, dan Abu Ubaidah adalah bawahannya, maka wajib baginya untuk tidak mengabaikan perintah. Abu Ubaidah mengeluarkan secarik kertas dan membalas surat Umar, sebagai seorang Gubernur.

يا أمير المؤمنين، قد عرفت حاجتك إلي وإني في جند من المسلمين لا أجد بنفسي رغبة عنهم. فلست أريد فراقهم حتى يقضي الله في وفيهم أمره وقضاءه، فحللني من عزيمتك.

Artinya: “Wahai Amirul Mukminin, aku sudah tahu urusan yang engkau maksud, sedangkan aku tidak setitikpun menemukan rasa benci dalam hati kepada para pasukan Allah ini (Tha’un Amwas). Aku tak mau meninggalkan mereka hingga takdir Allah benar – benar menggoncang loyalitas mereka terhadap perintah dan takdirNya. Aku mohon bebaskanlah aku dari keputusanmu wahai Amirul Mukminin”

Ketika surat itu sampai di tangan Amirul Mukminin, beliau dan orang-orang di sekitarnya menangis. beliau menyadari bahwa sahabatnya itu tidak mau meninggalkan wilayahnya. Amirul Mukminin tahu bahwa ajal sahabatnya tak lama lagi akan tiba. Di tengah-tengah tangisannya itu, Amirul Mukminin mulai melakukan evakuasi terhadap warga Madinah, memerintahkan masyarakat untuk melakukan upaya-upaya preventif terhadap serangan Tha’un Amwas ini.

Baca Juga :  Banyak Dikaitkan dengan Covid-19, Kapan Bintang Tsurayya itu Muncul?

Wabah ini menelan korban hingga 15.000 Jiwa termasuk di antaranya adalah Abu Ubaidah bin Jarrah yang tidak mau meninggalkan Rakyatnya berjuang sendiri menghadapi wabah itu, selain itu dari golongan sahabat ada Mu’adz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan, Al-Harits bin Hisyam, Suhail bin Amr, dan Amir bin Ghilan Ats-Tsaqafi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here