Tafsir Surah Yusuf 7-10; Kebencian dan Rasa Hasud Saudara Nabi Yusuf

2
1043

BincangSyariah.Com – Setan merupakan musuh untuk anak adam. Dengan berbagai cara, setan akan selalu berupaya menggoda dan menyesatkannya. Di antara cara setan menggoda manusia itu dengan kebencian dan rasa hasud. Terkait hal ini, Allah Swt. menceritakan kebencian dan rasa hasud saudara Nabi Yusuf:

لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِلسَّائِلِينَ . إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ . اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ . قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ

Laqad kāna fī yụsufa wa ikhwatihī āyātul lis-sā`ilīn. Iż qālụ layụsufu wa akhụhu aḥabbu ilā abīnā minnā wa naḥnu ‘uṣbah, inna abānā lafī ḍalālim mubīn. Uqtulụ yụsufa awiṭraḥụhu arḍay yakhlu lakum waj-hu abīkum wa takụnụ mim ba’dihī qauman ṣāliḥīn. Qāla qā`ilum min-hum lā taqtulụ yụsufa wa alqụhu fī gayābatil-jubbi yaltaqiṭ-hu ba’ḍus-sayyārati ing kuntum fā’ilīn (Baca: Tafsir Surah Yusuf 4-6; Rahasia di Balik Sebuah Mimpi)

Artinya: “Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.  (Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak di kenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik”. Seorang diantara mereka berkata: “janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukanlah dia ke dasar sumur supaya dia di pungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat” (Q.S.Yusuf: 7-10)

Maksud dari saudara-saudaranya ialah saudara-saudar Yusuf, yaitu Rubil, Syam’un, Lawa, Yahudza, Zayalun, Yasyajir, Dzan, naftali, Jad, Asyar dan Bunyamin sebagaimana disampaikan oleh  Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi.

Abu Hayan al-Andalusi dalam karyanya al-Bahru al-Muhith mengarikan  kata tanda-tanda dengan makna tanda dan dalil atas kekuasaan serta hikmh dari Tuhan. Disisi lain ia menampilkan pendapat sebagian ulama, yaitu tanda kenabian Muhammad Saw.

Maksud dari kalimat  bagi orang-orang yang bertanya ialah bagi mereka yang bertanya dan menginginkan kisah Yusuf dan saudara-saudaranya sebagaimana penyampaian Abu Hayan al-Andalusi. Dalam karyanya ia menyebutkan pendapat lain dari sebagian ulama, yaitu bagi orang-orang Yahudi yang bertanya dari kisah tersebut. Pendapat kedua ini ditanggapi oleh Ibnu’Asyur al-Tunisi dalam karyanya al-Tahrir wa al-Tanwir sebagai berikut:

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 93-98; Penderitaan Nabi Ya’qub Berakhir

وهذا لا يستقيم لأن السورة مكية ولم يكن لليهود مخالطة للمسلمين بمكة

“Pendapat (kedua) ini tidak dianggap benar sebab surat ini diturunkan di tanah Makkah, dan orang Yahudi tidak bercampur dengan kaum muslimin di tanah Makkah”.

Dan Abu Hayan al-Andalusi kembali menampilkan pendapat lainya lagi, yaitu:

وقيل : المعنى لمن سأل ولمن لم يسأل

“Disampaikan (oleh ulama lain) artinya bagi mereka yang bertanya dan tidak tertanya”.

Tidak hanya Abu Hayan, Ibnu ‘Asyur al-Tunisi mengartikanya:

والسائلون: مراد منهم من يتوقع منه السؤال عن المواعظ والحكم

“Orang-orang yang bertanya ialah mereka yang mengarapkan petuah dan hikam”.

Ibnu ‘Athiya menambahkan alasan ayat tersebut menyebutkan adanya tanda-tanda dalam kisah Yusuf beserta saudara-saudaranya bagi yang bertanya sebab selayaknya bagi setiap orang hendaknya bertanya tenang kisah tersebut yang penuh dengan petuah dan nasihat.

Saudara kandungnya ialah saudara Yusuf se-ibu (Bunyamin) menurut Imam al-Thabari dalam karyanya Tafsir al-Thabari.

Kamu menjadi orang-orang yang baik dipahami oleh Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi dengan makna mereka bertaubat kepada Allah dan Dia akan menerimanya. Dalam satu pendapat lain yang disampaikan al-Qurthubi artinya adalah mereka berbuat baik disisi ayah mereka.

Maksud dari orang yang berkata pada kalimat  Seorang diantara mereka berkata adalah Rubil dalam pandangan Qatadah dan Ishak. (Yang dimaksud) adalah Syam’un atau Yahudza menurut Mujahid dan al-Saddi mengarahkanya kepada Dzan. Perselisihan ini disampaikan oleh Abu Hayan al-Andalusi.

Dasar sumur yang dimaksud adalah sumur di Baitul Maqdis menurut sebagian ulama, menurut Wahab bin Munabah adalah sumur di tanah Yordania dan Muqatil memahaminya sebagai sumur yang berada pada jarak tiga farsakh dari kediaman Ya’qub. Perselisihan Pendapat tersebut disampaikan  Imam al-Razi dalam karyanya Mafatihu al-Ghaib.

Yusuf, merupakan salah satu dari putra Ya’qub.       Secara garis persaudaraan, Yusuf memiliki sebelas saudara. Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi menyampaikan garis persaudaraan mereka sebagai berikut:

Istri pertama Ya’qub adalah Liya, dia adalah putri dari pernikahan bibi Ya’qub (Liyan) dengan Nahir. Dari pernikahan Ya’qub dengan Liya, ia dikaruniai enam anak yaitu Rubil, Syam’un, Lawa, Yahudza, Zayalun dan Yasyajir. Ya’qub memiliki dua budak perempuan dan bersama dua budaknya, dia mendapatkan empat buah hati yaitu Dan, naftali, Jad dan Asyar. Setelah Liya istri pertama Ya’qub meninggal, Ya’qub menikahi saudara perempuan Liya yaitu Rahil. Dalam pernikahanya dengan Rahil, Ya’qub dikaruniai dua buah hati yaitu Yusuf dan Bunyamin dan Rahil meninggal dunia disaat nifas melahirkan Bunyamin.

Baca Juga :  Pengantar Tafsir Surah Yusuf; Nama dan Manfaat Membacanya

Kisah Yusuf beserta saudaranya menyimpan banyak nasihat, menunjukan kekuasaan Tuhan dan kebenaran seorang utusan. Dalam kisahnya, saudara-saudar Yusuf (selain Bunyamin) menganggap bahwa ayah mereka (Ya’qub) lebih mencintai Yusuf dan Bunyamin dari pada kepada diri mereka. Padahal dengan jumlah mereka yang lebih banyak, Ya’qub akan dapat memetik dan memperoleh bantuan dan kemanfaatan yang lebih besar dari mereka dibandingkan dari Yusuf dan Bunyamin. Oleh karenanya mereka menganggap bahwa ayah mereka berada dalam pemikiran yang salah.

Pujian dan tumpahan kasih saying dari Ya’qub kepada Yusuf dan saudara kandungnya disebab posisi mereka berdua sebagai anak kecil yang telah ditinggal oleh ibunya. Dengan hati yang diselimuti rasa iri dan dengki atas kesempurnaan Yusuf, tumpahan kasih sayang Ya’qub menambah dan menyebabkan meluapnya kecemburuan dalam hati saudara-saudara mereka berdua dan pada akhirnya munculah anggapan yang salah dari mereka, yaitu mereka menganggap bahwa kecintaan Ya’qub kepada Yusuf dan saudara kandungya melebihi kecintaanya kepada mereka.

Dalam versi Ibnu ‘Asyur al-Tunisi, anggapan saudara-saudara Yusuf kepada mereka berdua memang sesuai  kenyataan. Kecintaan Ya’qub kepada mereka berdua yang melebihi lainya merupakan suara dan perasaan hati yang tidak dapat dikuasai dan dikendalikan oleh seorang ayah serta bukan hal yang tercela. Walaupun perasaan hati Ya’qub yang demikian, namun hal tersebut tidak mempengaruhinya dalam memberikan pelayanan lahiriyah kepada anak-anaknya. Anak-anaknya mengetahui suara hati Ya’qub melalui tanda-tanda yang ada dan bukan dari pelayanan Ya’qub kepada Yusuf dan Bunyamin yang melebihi lainya, sebab dia adil dalam memberikan pelayanan dan tidak melakukan sesuatu yang menyebabkan kebencian di antara anak-anaknya.

Saudara-saudara Yususf selain Bunyamin bermusyawarah dan sebagian dari mereka berpendapat bahwa Yusuf lebih baik dibunuh atau buang jauh dari keramaian hingga dia tidak akan mampu kembali kepada ayahnya, dengan demikian maka perhatian sang ayah akan tertumpah kepada mereka. Setelah Yusuf terbunuh atau dibuang jauh mereka akan  berbuat baik kepada Ya’qub sebagai ayahnya dan bertaubat atas perbuatanya sehingga ayah dan Tuhanya memberikan keridloan kepada mereka.

Dalam satu versi bahwa pendapat untuk membunuh Yusuf merupakan ide dari salah seorang yang mereka mintai pertimbangan, sebagaimana pemahaman ini telah disampaikan oleh sebagian ulama yang dinukil dalam karya Abu Hayan al-Andalusi.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 31: Alasan Disebutkannya Jumlah Malaikat Zabaniyah

Dalam diskusinya, salah seorang dari mereka melarang untuk membunuh Yusuf sebab pembunuhan itu dalah dosa besar dan Yusuf adalah saudara, lalu memberikan pendapat untuk membuangnya ke dasar sumur dan nantinya akan ditemukan oleh orang-orang yang melewati tempat tersebut. Sehingga tujuan menjauhkan Yusuf dari ayahnya akan tercapai tanpa harus membunuhnya.

Abu Hayan al-Andalusi menyampaikan sumur tersebut adalah sumur yang didalamnya terdapat air sehingga orang-orang yang melewatinya akan menemukan Yusuf didalamnya. Abu Hayan dalam karyanya menyampaikan pendapat lain:

وقيل : كان فيه ماء كثير يغرق يوسف ، فنشز حجر من أسفل الجب حتى ثبت يوسف عليه. وقيل : لم يكن ماء فأخرجه اللّه فيه حتى قصده الناس

“Disampaikan (oleh ulama lain) bahwa di dalam sumur tersebut terdapat air dan batu sehingga Yusuf berdiri di atasnya. Disampakan (dalam versi lain) bahwa sumur tersebut tidak berisi air dan Allah Swt. mengeluarkan Yusuf dari dalam sumur sehingga ia ditemukan oleh orang lain”.

Dari kisah Yusuf yang telah disampaikan pada ayat-ayat di atas, para ulama seperti Wahbah al-Zuhaili dan lainya dalam karyanya al-Tafsir al-Munir dan lain sebagainya menyampaikan hal-hal penting yang dapat diambilkan dari ayat di atas sebagai berikut:

Pertama, kisah Yusuf menunjukan kebenaran para utusan-Nya dan nasihat serta peringatan atas akhir dari sebuah kehasudan dan kezaliman serta menunjukan kebenaran arti sebuah mimpi yang telah di artikan oleh seorang nabi atau orang saleh yang berkompenten dalam memberikan nasihat.

Kedua, sebagai orang tua harus memberikan pelayanan lahiriyah kepada anak-anaknya secara adil. Sebagaimana sabda nabi:

اتقوا اللّه، واعدلوا بين أولادكم

“Bertaqwalah kepada Allah Swt. dan berlaku adil-lah diantara anak-anak kalian” (HR.Bukhari Muslim dan Al-Ashhabu al-Sunan kecuali Ibnu Majah).

Ketiga, Perlakuan tidak adil dari orang tua kepada anaknya akan menimbulkan kebencian, kezaliman serta permusuhan.

Keempat,orang tua tidak wajib memberikan rasa cinta yang adil kepada anaknya sebab perasaan hati tidak dapat dikendalikan oleh manusia.

والمحبة ليست في وسع البشر، فكان معذورا فيه، ولا لوم عليه

“Rasa cinta bukanlah kekuasaan manusia, oleh karenanya dia tidak mungkin dapat mengendalikanya dan tidak ada celaan untuknya”.

Kelima, Allah Swt. tidak mengingkari ucapan saudara-saudara Yusuf ”Dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik” (Q.S.Yusuf: 9), hal ini menunjukan bahwa penyesalan dan taubat dari seorang pembunuh dapat diterima oleh-Nya.

Wallahu A’lam.

2 KOMENTAR

  1. […] Tidak hanya berhenti dalam satu arti, Imam al-Thabari menampilkan pemahaman lain dari para ulama. Dalam penyampaianya bahwa sebagian ulama mengartikanya dengan makna mereka (saudara Yusuf) tidak mengetahui dengan adanya wahyu (bahwa Yusuf kelak akan menceritakan perlakuan saudara-saudaranya kepada mereka sendiri) dari Tuhan kepada Yusuf. Versi ulama lain mengarahkanya dengan makna mereka tidak mengetahui atas pemberitahuan Tuhan kepada Yusuf bahwa nantinya dia akan menceritakan semua perbuatan saudara-saudaranya kepada mereka sendiri. (Baca: Tafsir Surah Yusuf 7-10; Kebencian dan Rasa Hasud Saudara Nabi Yusuf) […]

  2. […] Tidak hanya berhenti dalam satu arti, Imam al-Thabari menampilkan pemahaman lain dari para ulama. Dalam penyampaianya bahwa sebagian ulama mengartikanya dengan makna mereka (saudara Yusuf) tidak mengetahui dengan adanya wahyu (bahwa Yusuf kelak akan menceritakan perlakuan saudara-saudaranya kepada mereka sendiri) dari Tuhan kepada Yusuf. Versi ulama lain mengarahkanya dengan makna mereka tidak mengetahui atas pemberitahuan Tuhan kepada Yusuf bahwa nantinya dia akan menceritakan semua perbuatan saudara-saudaranya kepada mereka sendiri. (Baca: Tafsir Surah Yusuf 7-10; Kebencian dan Rasa Hasud Saudara Nabi Yusuf) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here