Tafsir Surah Yusuf 69-76; Nabi Yusuf Menjadi Raja Mesir

1
119

BincangSyariah.Com – Beberapa ayat di bawah ini mengisahkan pertemuan Nabi Yusuf menjadi raja Mesir dengan saudara-saudaranya yang dahulu pernah menyakitinya. Bunyamin, saudara kandung Yusuf pun ikut serta bersama rombongan tersebut. Ini berkat doa dan keridhoan seorang ayah, Nabi Ya’qub. Terkait kisah ini, Allah Swt. menceritakan di dalam Al-Qur’an demikian:

وَلَمَّا دَخَلُوا عَلى يُوسُفَ آوى إِلَيْهِ أَخاهُ قالَ إِنِّي أَنَا أَخُوكَ فَلا تَبْتَئِسْ بِما كانُوا يَعْمَلُونَ 69

 فَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهازِهِمْ جَعَلَ السِّقايَةَ فِي رَحْلِ أَخِيهِ ثُمَّ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ أَيَّتُهَا الْعِيرُ إِنَّكُمْ لَسارِقُونَ 70

قالُوا وَأَقْبَلُوا عَلَيْهِمْ ماذا تَفْقِدُونَ  71

قالُوا نَفْقِدُ صُواعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ وَأَنَا بِهِ زَعِيمٌ 72

قالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُمْ ما جِئْنا لِنُفْسِدَ فِي الْأَرْضِ وَما كُنَّا سارِقِينَ 73

قالُوا فَما جَزاؤُهُ إِنْ كُنْتُمْ كاذِبِينَ 74

قالُوا جَزاؤُهُ مَنْ وُجِدَ فِي رَحْلِهِ فَهُوَ جَزاؤُهُ كَذلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ 75

فَبَدَأَ بِأَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعاءِ أَخِيهِ ثُمَّ اسْتَخْرَجَها مِنْ وِعاءِ أَخِيهِ كَذلِكَ كِدْنا لِيُوسُفَ ما كانَ لِيَأْخُذَ أَخاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلاَّ أَنْ يَشاءَ اللَّهُ نَرْفَعُ دَرَجاتٍ مَنْ نَشاءُ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ 76

Artinya:

Tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf, Yusuf membawa saudaranya (Bunyamin) ke tempatnya, Yusuf berkata: “Sesungguhnya aku (ini) adalah saudaramu, maka janganlah kamu berdukacita terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (69).

Tatkala telah disiapkan untuk mereka bahan makanan mereka, Yusuf memasukan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan: “Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri”(70).

Mereka menjawab, sambil menghadap kepada penyeru-penyeru itu: “Barang apakah yang hilang dari kamu?” (71). (Baca: Tafsir Surah Yusuf 67-68; Nabi Ya’qub Izinkan Bunyamin Bertemu Yusuf)

Penyeru-penyeru itu berkata: “Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikanya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya” (72).

Saudara-saudar Yusuf menjawab: “Demi Allah sesungguhnya kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah para pencuri” (73).

Baca Juga :  Guru Marzuki: Ulama Betawi yang Produktif

Mereka berkata: “Tetapi apa balasanya jikalau kamu betul-betul pendusta?” (74).

Mereka menjawab: “Balasanya, ialah pada siapa ditemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasanya (tebusanya). Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang zalim” (75).

Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudara-saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendakinya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki: dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui (76).

Kandungan Ayat

Menurut Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir bahwa maksud dari kalimat Terhadap apa yang telah mereka kerjakan ialah kedengkian mereka kepada kami.

Dalam pandangan Wahbah al-Zuhaili, piala (tempat minum) tersebut merupakan bekas wadah minuman raja yang telah dijadikan alat untuk menimbang makanan masyarakat umum.

Pada saat saudara-saudara Yusuf mendatanginya dengan membawa Bunyamin kehadapanya, Nabi Yusuf menjadi raja mesir itu memberikan penghormatan kepada mereka dengan mempersilahkan semua saudara-saudaranya untuk duduk dengan posisi setiap dua orang duduk bersama dengan satu hidangan. Oleh karenanya mereka duduk sesuai posisi yang telah diatur (setiap dua orang duduk bersama) dan tersisalah Bunyamin yang duduk sendiri.

Dengan melihat saudara-saudaranya duduk berduaan dengan satu meja hidangan, Bunyamin menangis dan berkata “Andaikan saudaraku Yusuf masih hidup, pastilah raja akan mendudukan aku bersamanya”. Kemudian Yusuf mendudukan Bunyamin berdua bersama dirinya dengan satu meja hidangan.

Kemudian Yusuf menyiapkan serta memerintah mereka untuk bersinggah pada rumah yang telah disediakanya dengan satu rumah untuk dua orang. Maka Bunyamin harus singgah dalam satu rumah sendirian. Yusufpun berkata kepada saudara-saudaranya “Ini (Bunyamin) tidak ada yang menemaninya, tinggalkan dia bersamaku”.

Nabi Yusuf menjadi raja Mesir ini membawa Bunyamin ke tempatnya. Pada saat Yusuf melihatnya penuh kesedihan atas kematian saudaranya, dia berkata “Apakah kamu ingin menjadikan aku sebagai saudaramu sebagai pengganti saudaramu yang telah tiada?”.

Bunyamin menjawab “Siapa yang memiliki saudara sepertimu, sedangkan Ya’qub dan Rahil tidaklah melahirkanmu!”. Kemudian Yusuf menangis dan berdiri serta memeluk Bunyamin seraya membisikinya “Sesungguhnya aku adalah saudaramu, janganlah bersedih sebab perbuatan mereka”. Dan pada akhirnya Bunyamin mengetahui bahwa raja (Yusuf) ialah saudaranya.

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 11-18; Kisah Tragis Nabi Yusuf, Dibuang di Dasar Sumur

Bisikan Yusuf kepada Bunyamin selain untuk memberi tahunya bahwa dia adalah saudaranya, juga bertujuan agar hati Bunyamin bersih dari rasa permusuhan terhadap saudara-saudaranya sebagaimana Yusuf telah membersihkan hatinya dari perasaan tersebut.

Dalam versi lain, bahwa saudara-saudara Yusuf telah melakukan tindakan tidak terpuji kepadanya sebab mereka iri dan dengki terhadap Yusuf atas perlakuan yang lebih dari Ya’qub kepadanya, oleh karenanya Bunyaminpun merasa takut dan khawatir saudara-saudaranya akan melakukan tindakan tidak terpuji kepada Bunyamin sebab perlakuan lebih dari raja kepadanya. Dan pada akhirnya Yusuf menenangkannya agar Bunyamin tidak khawatir dengan semua itu.

Setelah Bunyamin mengetahui bahwa raja adalah saudaranya (Yusuf), Bunyamin berkata kepadanya “Jangan kamu kembalikan aku kepada mereka”. Yusuf berkata “Kamu telah mengetahui keperihatinan Ya’qub sebab aku, dengan demikian (kamu tidak kembali kepada mereka) maka keperihatinanya akan semakin bertambah”.

Lalu Bunyamin tetap tidak ingin kembali bersama saudara-saudaranya. Pada akhirnya Yusuf berkata “Tidak mungkin menahanmu (di sini) kecuali aku berbuat sesuatu yang tidak layak bagimu”. Bunyamin menjawab “Aku tidak peduli!”.

Perbuatan kurang layak itu ialah menempatkan wadah yang dipakai sebagai alat untuk menimbang makanan masyarakat umum, menempatkannya pada karung milik Bunyamin tanpa sepengetahuan saudara-saudaranya. Tindakan tersebut dilakukanya atas keridloan dan kesepakat dari Bunyamin sehingga Yusuf terhindar dari dosa.

Pada akhirnya para pihak kerajaaan kehilangan wadah tersebut dan semua yang ada diperiksa oleh Yusuf, dalam pemeriksaanya dia memulai dengan membuka dan memeriksa selain saudara-saudaranya.

Dengan disaksikan oleh banyak pihak, Yusuf akhirnya sampailah memeriksa karung saudara-saudaranya dan wadah tersebut ditemukan berada dalam karung milik Bunyamin; dan pada akhirnya dia sebagai tersangka pencurian.

Seoranmg pencuri seharusnya dikenakan hukuman kerajaan yaitu dipukul dan harus menggantinya dengan jenis dan macam yang sama, namun Allah berkehendak lain dan pada akhirnya dia dikenakan hukuman untuk tetap berada di dalam kerajaan dan sebagai budak. Dengan alasan adanya hukuman tersebut, Bunyamin dapat tetap bersama Yusuf.

Baca Juga :  Ruang Kezuhudan Gus Dur

Dari ayat di atas, Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir menyampaikan beberapa hal diantaranya:

Pertama, walaupun Nabi Yusuf menjadi raja Mesir, ia tetaplah seorang yang memiliki jiwa pemaaf dan rasa kasih sayang kepada saudaranya. Kedua, Yusuf menaruh wadah pada karung Bunyamin merupakan ilham dan wahyu dari Allah Swt.

Ketiga, menetapkan Bunyamin dalam kerajaan sebagai balasan, merupakan sebuah aturan dalam syari’ah Ibrahim dan Ya’qub. Keempat, diperbolehkan berbuat atau melakukan sebuah sesuatu sebagai perantara tercapainya sebuah tujuan selama perantara tersebut tidak bertentangan dengan hukum asal.

Kelima, Allah Swt. akan mengangkat derajat seseorang sebab sebuah ilmu dan iman, termasuk proses Nabi Yusuf menjadi raja Mesir. Keenam, Ibnu Abbas:

يكون ذا أعلم من ذا، وذا أعلم من ذا، واللّه فوق كل عالم. وقال أيضا: اللّه العليم، وهو فوق كل عالم

“Orang ini lebih ‘Alim dari pada orang ini, dan orang itu lebih ‘Alim dari pada orang itu. Allah Swt. adalah dzat Yang Maha Mengetahui, Dia di atas semua yang ‘Alim”. Ayat-ayat di atas menunjukan bahwa ilmu adalah derajat paling tinggi dan mulia. Akhirnya Nabi Yusuf menjadi raja Mesir dan dipertemukan dengan saudara-saudaranya. Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here