Tafsir Surah Yusuf 4-6; Rahasia di Balik Sebuah Mimpi

2
201

BincangSyariah.Com – Tuhan sebagai dzat yang Maha Kuasa. Dengan kekuasaan-Nya, Dia mengatur perjalanan hidup hamba-Nya. Rencana itu pun terkadang terungkap dari rahasia di balik sebuah mimpi. Allah Swt. berfirman dalam surah Yusuf 4 hingga 6:

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ . قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ . وَكَذَلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَى أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Iż qāla yụsufu li`abīhi yā abati innī ra`aitu aḥada ‘asyara kaukabaw wasy-syamsa wal-qamara ra`aituhum lī sājidīn. Qāla yā bunayya lā taqṣuṣ ru`yāka ‘alā ikhwatika fa yakīdụ laka kaidā, innasy-syaiṭāna lil-insāni ‘aduwwum mubīn. Wa każālika yajtabīka rabbuka wa yu’allimuka min ta`wīlil-aḥādīṡi wa yutimmu ni’matahụ ‘alaika wa ‘alā āli ya’qụba kamā atammahā ‘alā abawaika ming qablu ibrāhīma wa is-ḥāq, inna rabbaka ‘alīmun ḥakīm (Baca: Tafsir Surah Yusuf 1-3; Kesempurnaan Kitab Suci Al-Qur’an)

Artinya:

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesunguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku. Ayahnya berkata: ‘Hai anakku, janganlah kamu menceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuatmu makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan di ajarkan-Nya kepadamu sebagian dari ta’bir mimpi-mimpi dan di sempurnakan-Nya ni’mat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebaimana dia telah menyempurnakan ni’mat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu maha mengetahui lagi maha bijaksana” (Q.S.Yusuf: 4-6)

Pada surah Yusuf 4, Abu Hayan al-Andalusi dalam karyanya al-Bahru al-Muhith mamahami arti sujud yang dimaksud ialah sujud penghormatan. Pemahaman serupa disampaikan oleh Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir:

والسجود المراد هنا: هو الانحناء، مبالغة في الاحترام، وليس سجود عبادة لأن سجود العبادة لا يكون إلا بنية التقرب لمن يعتقد أن له عليه سلطانا غيبيا فوق السلطان المعتاد

“Sujud yang dimaksud adalah membungkuk sebagai bentuk penghormatan yang sempurna dan bukanlah sujud ibadah, sebab sujud dengan niat mendekatkan diri kepada dzat yang diyakini memiliki kekuasaan diatas kekuasaan yang biasa”.

Imam al-Thabari dalam karyanya Tafsir al-Thabari menyampaikan pendapat sebagian ulama tentang arti sebelas bintang, matahari, dan bulan dengan makna sebelas saudara, ayah dan ibu yusuf. Hal ini berdasarkan riwayat dari Qatadah:

قال: الكواكب: إخوته ، والشمس والقمر: أبواه

“(Qatadah) berkata; bintang-bintang tersebut ialah saudar-saudar Yusuf, matahri dan bulan adalah kedua orang tuanya”.

Lain halnya dengan riwayat Qatadah dalam memahami matahari, Ibnu Abas meriwayatkanya dengan arti sebelas saudara-saudara Yusuf, ayah dan saudara perempuan dari ibu Yusuf”. Riwayat tersebut dialasi:

لأن أمه كانت قد ماتت ، وكانت خالته تحت أبيه

“Karena sesungguhnya ibu Yusuf telah meninggal dan saudara perempuan dari ibunya ada pada penjagaan ayahnya”.

Ta’bir mimpi-mimpi yang dimaksud adalah ma’na kitab-kitab Allah Swt, perjalanan (sejarah) para nabi dan sesuatu yang sulit dimengerti tujuannya oleh manusia. Hal ini merupakan pemahaman Abu Hayan al-Andalusi. Disisi lain, Abu Hayan menampilkan pendapat ulama lain terkait arti tersebut:

Baca Juga :  Baca Surah Yusuf Saat Hamil, Anaknya Bisa Tampan?

قال مجاهد والسدي : تأويل الأحاديث عبارة الرؤيا. وقال الحسن : عواقب الأمور ، وقيل : عامة لذلك ولغيره من المغيبات ، وقال مقاتل : غرائب الرؤيا ، وقال ابن زيد : العلم والحكمة

“Mujahid mengatakan bahwa ta’bir mimpi adalah kandungan sebuah mimpi. al-Hasan mengartikanya sebagai akhir dari sesuatu dan disampaikan (ulama lain) hal itu lebih umum untuk beberapa hal yang gaib. Muqatil mengatakan bahwa artinya mimpi yang asing dan Ibnu Zaid memahaminya sebagai ilmu dan hikmah”.

Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi mengartikan ni’mat-Nya kepadamu dengan makna sebuah kenabian. Dan disampaikan olehnya pendapat ulama lain dalam memahaminya:

وقيل : بإخراج إخوتك ، إليك ؛ وقيل : بإنجائك من كل مكروه

“Disampaikan (oleh ulama lain) artinya dikeluarkanya saudara-saudara Yusuf, disampaikan lagi (oleh ulama lainya) artinya adalah diselamatkanya Yusuf dari setiap kesusahan”.

Maksud dari ni’mat-Nya pada kalimat ni’mat-Nya kepada dua orang bapakmu dipahami oleh Imam al-Qurthubi dengan makna ni’mat untuk Ibrahim sebagai kekasih-Nya dan diselamatkanya dari api. Dan ni’mat untuk Ishak adalah kedudukanya sebagai nabi, dan menurut satu versi ialah diselamatkanya Ishak dari penyembelihan dirinya.

Allah Swt. memerintahkan Muhammad untuk menceritakan kisah nabi Yusuf As. kepada umatnya. Dalam kisahnya, Yusuf mengadu kepada ayahnya Ya’qub bahwa dia bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan rembulan. Semuanya itu bersujud sebagai bentuk penghormatan kepada Yusuf.

Untuk nama dari sebelas bintang tersebut, disampaikan dalam sebuah riwayat dari Jabir bahwa suatu ketika nabi Saw. didatangi oleh seorang laki-laki dari kaum Yahudi yang bernama Bustanah, dia menanyakan nama-nama bintang yang bersujud kepada Yusuf. Nabipun terdiam tidak menjawabnya dan Jibril turun mengakabarkan nama-nama tersebut. Kemudian nabi Saw. bertanya “Apakah kau akan beriman bila aku mengkabarkanya kepadamu?”. Bustanah menjawab “Iya”. Nabi Saw. bersabda:

جريان، والطارق والذيال، وذو الكنفات، وقابس، ووثاب، وعمودان، والفليق، والمصبح، والضروح، ودو الفرغ، والضياء والنور

“(Nama-nama bintang tersebut) adalah Jaryan, al-Thariq, al-Dzayyal, Dzulkanifat, Qabis, ‘Amudan, al-Faliq, al-Mishbah, al-Dharuh, Dulfurugh, al-Dhiya’ dan al-Nur”.

Kemudian orang Yahudi itu berkata “Demi Allah, itu adalah nama-namanya”.

Disaat Yusuf menceritakan mimpinya, sang ayah kemudian menyahutnya dan memberikan nasihat kepadanya bahwa dia (Yusuf) dilarang oleh ayahnya untuk menceritakan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya sebab Ya’qub mengetahui kandungan dari mimpi Yusuf, yaitu mereka saudara-saudara Yusuf menghormati dan memulyaka serta mengagungkanya. Dan disisi lain Ya’qub mengetahui kedengkian saudara-saudara Yusuf atas anugerah Tuhan kepadanya, yaitu fisik dan akhlak Yusuf yang melebihi lainya dan mereka akan menafsiri serta memahami secara detail arti dari mimpi tersebut, oleh karenanya Ya’qub hawatir kedengkian mereka akan bertambah besar dengan Yusuf menceritakan mimpinya sebab syaithan adalah musuh adam beserta anak turunya dan dia akan menyebarkan fitnah di antara manusia.

Baca Juga :  Pengantar Tafsir Surah Yusuf; Nama dan Manfaat Membacanya

Tidak hanya larang dari Ya’qub untuk menceritakan mimpi tersebut, Yusuf mendapatakan petuah panjang dari ayahnya bahwa sebagaimana Tuhan telah memberinya mimpi tersebut, Tuhan memilih Yusuf sebagai nabi untuk keluarga dan orang lain serta mengajarinya arti kandungan sebuah mimpi dan Dia menyempurnakan ni’mat-Nya kepada Yusuf sebagai utusan dan nabi, sebagaimana ni’mat tersebut telah disempurnakan kepada Ibrahim dan Ishak sebagai leluhurnya.

Yusuf mendapatkan mimpi tersebut di malam Lailatu Qodar yang jatuh pada malam jum’at. Pada waktu tersebut ia berumur dua belas bulan. Muhamad bin Ahmad al-Syirbini dalam karyanya Tafsir al-Siraj al-Munir menyampaikan pendapat lain dari para ulama tentang umur Yusuf disaat menerima mimpi tersebut dari Tuhan:

وقيل : سبع عشرة ، وقيل : سبع سنين

“Disampaikan (umur Yusuf semasa menerima mimpi) adalah tujuh belas tahun dan (ulama lain) mengatakan tujuh tahun”.

وروي أن رؤيا يوسف كانت ليلة القدر ليلة جمعة

“Diriwayatkan bahwa mimpi yang diterima Yusuf jatuh pada malam Lailatul Qadar yang jatuh pada malam jum’at” (al-Bahru al-Muhith).

Mimpi merupakan keadaan yang mulia, sebab nabi Saw. menyampaikan:

الرؤيا من الله والحلم من الشيطان

“Mimpi dari Allah Swt dan mimpi basah dari syathan”.

لم يبق بعدي من المبشرات إلا الرؤيا الصالحة الصادقة يراها الرجل الصالح أو ترى له

“Tidak ada kabar baik (kegembiraan) setelahku kecuali mimpi baik dan nyata yang dilihat oleh seorang laki-laki yang saleh atau mimpi tersebut diperlihatkan kepadanya”.

Dan nabi Saw. menyatakan bahwa mimpi merupakan sebagian dari empat puluh enam bagian dari kenabian.

روى عوف بن مالك عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : الرؤيا ثلاثة منها أهاويل الشيطان ليحزن ابن آدم ومنها ما يهتم به في يقظته فيراه في منامه ومنها جزء من ستة وأربعين جزءا من النبوة

Diriwayatkan dari ‘Auf bin Malik dari rasul Saw, beliau bersabda “Mimpi ada tiga macam, (pertama) merupakan ancaman dari syaithan agar anak adam bersedih, (kedua) merupakan sesuatu yang dipikirkan (diperhatikan) dalam keadaan sadar, (ketiga) merupakan bagian dari empat puluh enam bagian dari kenabian)”.

Mimpi yang termasuk sebagian dari empat puluh enam bagian dari kenabian ialah mimpi dari seorang yang selalu menyempurnakan wudlunya di pagi yang dingin, penuh kesabaran dalam mengahadapi musibah dan selalu memperhatikan shalatnya. Hal ini adalah penyampaian Abu Bakar yang dinukil oleh Imam al-Qurhubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi. Dalam sebuah hadis disampaikan:

وقال : “أصدقكم رؤيا أصدقكم حديثا” .

“Dan nabi berkata “Paling nyata dari mimpi kalian adalah paling jujur dari kalian dalam berbicara”.

Abu Umar bin Abdi al-Bar menyampaikan bahwa kebenaran mimpi seseorang berbeda-beda sesuai tingkat kejujuran dalam berkata, nilai agama pada diri dan keyakinanya.

فمن خلصت نيته في عبادة ربه ويقينه وصدق حديثه كانت رؤياه أصدق وإلى النبوة أقرب

“Barang siapa memurnikan niat dalam ibadah kepada Tuhan, keyakinan dan kejujuran dalam berbicara maka mimpinya lebih benar dan lebih dekat kepada kenabian”.

Keberadaan mimpi yang benar pada dasarnya merupakan kabar gembira dari Tuhan, namun terkadang mimpi tersebut adalah sebuah peringatan dari-Nya agar seorang yang menerima mimpi tersebut memohon perlindungan kepada Allah Swt. sebelum cobaan tersebut menimpanya. Seperti dalam kisah Imam Syafi’I dan Ahmad bin Hanbal:

Baca Juga :  Tidak Semua Lagu Arab Merupakan Shalawat

وقد رأى الشافعي رضي الله عنه وهو بمصر رؤيا لأحمد بن حنبل تدل على محنته فكتب إليه بذلك ليستذ لذلك

Saat Imam Syafi’i bberada di Mesir, dia bermimpi bahwa Imam Ahmad bin Hanbal mendapatkan cobaan, kemudian Syafi’i mengirimkan surat kabar tenang mimpinya kepada Ahmad  agar Ahmad bin Hanbal memohon perlindungan kepadan-Nya atas cobaan tersebut”.

Dalam hal mimpi, islam memberikan perhatian kepada orang yang menerimanya. Artinya, disaat seseorang bermimpi tentang hal yang baik maka islam menganjurkanya untuk menceritakan mimpinya dan ketika mengalami mimpi yang kurang baik maka jangan menceritakan kepada orang lain. Nabi Saw.bersabda:

الرؤيا الحسنة من الله فإذا رأى أحدكم ما يحب فلا يحدث به إلا من يحب وإذا رأى ما يكره فليتعوذ بالله من شرها وليتفل ثلاث مرات ولا يحدث بها أحدا فإنها لن تضره

“Mimpi yang baik dari Allah, ketika salah satu dari kalian bermimpi hal yang disenangi maka janganlah menceritakanya kecuali kepada orang yang disenanginya dan disaat bermimpi sesuatu yang tidak disukai maka meminta perlindungan kepada Allah, meludah tiga kali dan tidak menceritakanya kepada seseorang maka mimpi buruk tersebut tidak akan membahayakanya” (HR.al-Bukhari).

Dalam menceritakan mimpi, agama memberikan tempat untuk menampungnya. Artinya seseorang dalam menceritakan mimpinya kepada orang lain maka orang lain tersebut harus memenuhi kriteria yang ditentukan oleh agama, yaitu seorang yang penuh kasih sayang, mampu memberikan nasihat dan mampu mengartikan mimpi tersebut. Hal ini adalah penyampaian Imam Malik yang dinukilan oleh Imam al-Qurthubi .

Sebagai penutup, kami sampaikan beberapa poin penting dari ayat di atas yang dipahami oleh Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir:

Pertama, Mimpi seorang nabi adalah hal yang hak dan mimpi dari seorang yang saleh merupakan bagian dari kenabian.

قال الحكماء: إن الرؤيا الرديئة يظهر تعبيرها عن قريب، والرؤيا الجيدة إنما يظهر تعبيرها بعد حين

“Ahli Hikmah berkata; sesungguhnya mimpi buruk akan terjadi dan muncul pada waktu yang dekat (dari mimpi tersebut) dan mimpi baik akan terjadi dan muncul dalam waktu yang lama (dari mimpi tersebut)”.

Kedua, jangan menceritakan sebuah mimpi selain orang yang ‘alim, dicintai, pemberi nasihat dan ahli mengartikan mimpi.

Ketiga, dianjurkan menyembunyikan nikmat di depan seseorang yang khawatir akan menghasudnya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Umar disampaikan:

استعينوا على إنجاح الحوائج بالكتمان، فإن كل ذي نعمة محسود

“Tolonglah keberhasilan dengan menyembunyikanya, sebab disetiap kenikmatan pasti ada kehasudan”.

Keempat, diperbolehkan memberikan peringatan kepada seseorang agar tidak terjerumus dan terjebak pada kejahatan atau perbuatan buruk orang lain. Dan hal ini tidak dikategorikan Ghibah.

Wallahu A’lam.

2 KOMENTAR

  1. […] Laqad kāna fī yụsufa wa ikhwatihī āyātul lis-sā`ilīn. Iż qālụ layụsufu wa akhụhu aḥabbu ilā abīnā minnā wa naḥnu ‘uṣbah, inna abānā lafī ḍalālim mubīn. Uqtulụ yụsufa awiṭraḥụhu arḍay yakhlu lakum waj-hu abīkum wa takụnụ mim ba’dihī qauman ṣāliḥīn. Qāla qā`ilum min-hum lā taqtulụ yụsufa wa alqụhu fī gayābatil-jubbi yaltaqiṭ-hu ba’ḍus-sayyārati ing kuntum fā’ilīn (Baca: Tafsir Surah Yusuf 4-6; Rahasia di Balik Sebuah Mimpi) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here