Tafsir Surah Fathir Ayat 28; Kriteria Ulama yang Takut pada Allah

2
3682

BincangSyariah.Com – Kitab Minhaj al-‘Abidin ila Jannah Rabb al-‘Alamin merupakan karya terakhir Imam al-Gazali. Beliau tidak hanya dikenal sebagai hujjatul Islam yang mengerti persoalan-persoalan jiwa dan pembimbing ternama dalam dunia sufistik (tasawuf), tetapi juga dikenal sebagai mujaddid (pembaharu) dalam kancah pemikiran Islam.

Dalam kitab Minhaj al-‘Abidin ini, beliau membahas pertama kali masalah pentingnya ilmu bagi para pencari kemurnian dan penghambaan (ibadah). Menurutnya, ilmu dan ibadah adalah dua mutiara. Sebab, langit-bumi beserta segala isinya diciptakan, para nabi diutus, kitab-kitab suci diturunkan, buku-buku dikarang, dan orang-orang alim mengajar, para penceramah berdakwah adalah semata-mata untuk dua hal ini, yaitu: ilmu dan ibadah. Kenyataan ini disebutkan dalam beberapa ayat, seperti ath-Thalaq (65): 12 dan adz-Dzariyat (51): 56 (2016: 44).

Dalam kesempatan lain, ar-Raisuni (tokoh maqasidi kontemporer) menyebutkan bahwa tujuan umum diutusnya para rasul adalah dalam rangka mendidik, membimbing, dan menyucikan jiwa manusia. Hal ini banyak disebutkan dalam al-Qur’an, seperti al-Baqarah (2): 129 dan 151 (al-Fikr al-Maqashidi, 1999: 19-20).

Menurut Imam al-Gazali, ilmu adalah lebih mulia dan utama daripada ibadah. Hal ini karena seorang hamba wajib melaksanakan ibadah berdasarkan ilmu pengetahuan. Ibarat pepohonan, maka ilmu adalah batangnya dan ibadah adalah buahnya. Sehingga pohon lebih mulia daripada buahnya, karena ia merupakan asal. Namun demikian, penting juga memerhatikan dan menikmati kenikmatan buah pohon tersebut. Sehingga orang berilmu harus melaksanakan ibadah agar melindungi kemuliaan ilmu tersebut. Sebab, apabila orang berilmu tidak beribadah, maka ilmunya seperti debu yang beterbangan (hlm. 44-45).

Hal senada juga diungkapkan oleh Imam Utsman al-Khawbawi dalam Durrah an-Nashihin. Menurutnya, ilmu lebih utama daripada ibadah, karena amal yang sedikit bisa sangat bermanfaat dengan adanya ilmu dan amal yang banyak bisa tidak bermanfaat sama sekali dengan kebodohan. Namun demikian, orang-orang berilmu harus senantiasa beribadah kepada Allah. Sebab, apabila mereka meninggalkan ibadah, maka ilmunya seperti debu yang beterbangan. Dalam hal ini, Rasulullah saw. bersabda agar menghindari tiga golongan manusia, yaitu: ulama yang lalai, fakir yang penjilat, dan sufi yang bodoh (hlm. 17).

Dengan demikian, seorang hamba harus memiliki dua hal tersebut, yaitu ilmu dan ibadah. Hasan al-Bashri pernah berkata: “tuntutlah ilmu pengetahuan, tetapi jangan sampai meninggalkan ibadah; dan laksanakanlah ibadah, tetapi jangan sampai meninggalkan ilmu pengetahuan.” Namun demikian, ilmu tetap harus lebih diutamakan karena merupakan asal dan dalil. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah saw. bahwa: “ilmu adalah pedomannya amal (perbuatan) dan amal harus mengikuti ilmu (Minhaj al-‘Abidin, hlm. 45).”

Menurut Imam al-Gazali, ilmu harus lebih diutamakan daripada ibadah karena dua faktor: pertama, untuk menghasilkan dan menyelamatkan ibadah (dari kesalahan-kesalahan). Sebab, seorang hamba yang ingin menyembah Sang Pencipta, maka dia harus mengetahui terlebih dahulu siapa yang ingin disembah, seperti melalui nama dan sifat-sifatnya. Sebab, apabila beribadah tanpa ilmu (pengetahuan), maka ibadanya bisa seperti debu yang bertebaran (tidak ada gunanya).

Kedua, ilmu yang bermanfaat akan membawa (pemiliknya) rasa takut kepada Allah, sebagaimana ditegaskan dalam Fathir (35): 28. Oleh karena itu, orang yang tidak mengenali dan mengetahui Allah secara baik dan benar tidak akan bisa mengangungkan dan menghormati-Nya secara baik dan benar. Namun, apabila seseorang memiliki pengetahuan tentang Allah secara baik dan benar, maka dia akan mengagungkan dan menghormati-Nya secara baik dan benar. Sebab, atas pertolongan Allah pengetahuan (ilmu) tersebut melahirkan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan (hlm. 45 & 48).

Baca Juga :  Tiga Surah Al-Quran yang Diawali dengan Doa Buruk

Baiklah, saya meyakini bahwa setiap orang memiliki hak menafsirkan al-Qur’an. Namun demikian, hak ini harus disertai dengan kewajiban memiliki ilmu pengetahuan. Artinya, sebelum melakukan proses penafsiran, maka kewajiban utama yang harus dipenuhi adalah pengetahuan tentang syarat dan cara menafsirkan al-Qur’an. Hal ini diperlukan agar penafsiran al-Qur’an tidak dilakukan secara sembarangan, serampangan, dan ugal-ugalan. Sehingga melahirkan tafsir-tafsir ngawur yang tidak hanya bertentangan dengan spirit al-Qur’an, tetapi juga menabrak pesan suci Allah.

Kalau boleh diibaratkan, maka al-Qur’an adalah seperti samudra luas yang tidak sembarang orang dapat mengarunginya tanpa perbekalan yang cukup. Artinya, meskipun setiap orang memiliki hak untuk mengarungi samudra, tetapi dikhawatirkan tersesat dan tenggelam apabila sembarangan terjun bebas tanpa perbekalan yang cukup. Perbekalan ini bisa berupa kemampuan berenang, atau sampan, atau perahu, atau bahkan kapal. Kalau sekiranya tidak mampu berenang, maka bisa menggunakan kapal untuk mengarungi samudra tersebut.

Dalam dunia tafsir, barangkali perbekalan tersebut adalah beberapa ilmu yang harus dipenuhi ketika hendak menafsirkan al-Qur’an, seperti mengetahui bahasa Arab dengan segala peralatannya, asbabun nuzul, nasikh-mansukh, ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu fikih-ushul fikih, mengetahui tafsir-tafsir terdahulu, dan maqasid asy-syari‘ah (tujuan syariat Islam).

Selain itu, menurut H. Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), ada beberapa syarat lain yang sepatutnya dimiliki oleh mufasir, seperti ilmu tentang alam, lautan, perkapalan, bumi, pertanian, tumbuh-tumbuhan, angin, hujan, matahari, dan bulan. Sebab, al-Qur’an banyak menyebutkan beberapa hal tersebut selain masalah akidah, hukum, dan akhlak (Tafsir al-Azhar, jilid 1: 3-4).

Dalam hal ini, beberapa waktu lalu Sugi Nur Raharja berceramah secara semangat dan menafsirkan surat Fathir (35): 28, yaitu: “dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Menurut Sugi Nur, ayat tersebut menegaskan bahwa siapapun (baik manusia, hewan, maupun gunung) yang takut kepada Allah, maka dia adalah ulama. Dengan demikian, istilah ulama tidak hanya terbatas kepada makhluk berakal (manusia), tetapi juga meliputi makhluk lain yang tidak berakal, seperti kambing, ayam, ular, gunung, dan makhluk lain yang takut kepada Allah. Pendek kata, apabila ada seekor kambing takut kepada Allah, maka ia adalah ulama. (Baca: Masa Hewan Bisa Jadi Ulama? Ini Penjelasan Ustaz Ahong)

Saya menganggap tafsir semacam ini merupakan tafsir “ugal-ugalan”. Sebab, Sugi Nur tidak memerhatikan kaidah atau rambu-rambu dasar dalam menafsirkan al-Quran. Sehingga hasil penafsirannya tidak hanya saja aneh dan menggetarkan logika, tetapi juga sangat sulit dipertanggungjawabkan secara keilmuan tafsir.

Baca Juga :  Asal Mula Penamaan Andalusia; Cikal Bakal Kota Peradaban Islam di Spanyol

Menurut Hamka, salah satu syarat yang harus dimiliki oleh orang yang ingin menafsirkan al-Qur’an adalah mengetahui bahasa Arab dan tafsir-tafsir terdahulu, baik dari Rasulullah saw., sahabat, tabi‘in, maupun dari ulama. Seseorang boleh menafsirkan al-Qur’an dengan pemahaman baru asalkan memerhatikan dua hal, yaitu: alasan pemahaman baru tersebut sesuai dengan dasar-dasar bahasa Arab yang merupakan bahasa al-Qur’an dan tidak bertentangan dengan dasar-dasar ajaran Islam yang bersifat qat‘i (pasti).

Oleh karena itu, apabila seseorang menafsirkan al-Qur’an secara tekstual dengan pemikirannya sendiri dan tidak melakukan penyelidikan sebelumnya (seperti memerhatikan pendapat dan penafsiran para ulama terdahulu), tidak mengetahui kebiasaan yang berlaku terhadap penggunaan tiap-tiap ayat, dan tidak mengetahui gaya bahasa dan susunannya, maka dia telah menafsirkan al-Qur’an secara ceroboh dan serampangan (Tafsir al-Azhar, hlm. 38-39).

Pertama, Sugi Nur tidak memerhatikan waqaf (tanda jeda baca) dalam ayat tersebut. Waqaf dalam kalimat bahasa Indonesia barangkali lebih dekat dengan istilah titik (.), koma (,), titik-koma (;), atau sejenisnya. Padahal, menurut saya, memahami waqaf juga sangat membantu dalam memahami ayat al-Qur’an. Sehingga kita bisa membedakan antara titik (.) dan koma (,) yang terdapat dalam sebuah kalimat atau ayat. Sebab, titik (.) dan koma (,) memiliki konsekuensi pemahaman yang berbeda.

Saya mencoba mengecek surah Fathir (35): 28 dalam mushaf al-Quran yang dicetak di Mekah dan Indonesia. Dalam ayat tersebut ditemukan dua waqaf, yaitu setelah kata kadzalika dan kata al-‘ulama. Jenis waqafnya adalah waqaf awla dengan tanda huruf qaf, lam, dan alif layyinah. Ilmu Tajwid menyebutkan bahwa waqaf awla bermakna boleh berhenti dan boleh terus ketika membaca ayat tersebut, tetapi lebih baik berhenti.

Sementara apabila kita melihat terjemahan waqaf awla Fathir (35): 28 tersebut versi Departemen Agama Republik Indonesia, maka kedua waqaf itu diterjemahkan dengan titik (.), bukan koma (,), yaitu: dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Oleh karena itu, apabila kita membuka lembaran-lembaran tafsir, maka kita menjumpai pembahasan ayat tersebut menajdi tiga bagian, yaitu: (1) makna ayat dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya).; (2) makna ayat sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.; dan (3) makna ayat sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Menurut Ibn Katsir, ayat dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya) berkaitan dengan ayat sebelumnya, yaitu: “tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat (Fathir (35): 27).

Dengan kata lain, apabila Fathir (35): 27 menyebutkan bahwa Allah menciptakan buah-buahan dan gunung-gunung yang memiliki aneka warna, maka begitu juga dengan manusia dan hewan yang diciptakan dengan aneka warna, sebagaimana disebutkan dalam Fathir (35): 28 (Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 2000: 1554). Menurut Hamka, setelah orang-orang memerhatikan dan mengetahui karya-karya Allah yang sungguh luar biasa tersebut (baik setelah melakukan perenungan maupun penyelidikan mendalam), maka mereka akan merasa takut kepada Allah Yang Maha Kuasa (Tafsir al-Azhar, jilid 8: 5931).

Baca Juga :  Akan Bebas dari Penjara, Abu Bakar Baasyir Masih Menolak Pancasila

Kedua, Sugi Nur tidak memerhatikan kamus bahasa Arab. Sebab, Allah menurunkan al-Quran dengan bahasa Arab, sebagaimana disebutkan dalam surat Yusuf (12): 2. Oleh karena itu, salah satu syarat primer yang harus dimiliki oleh orang yang ingin menafsirkan al-Qur’an adalah mengetahui dan memahami bahasa Arab. Dengan demikian, masyarakat Nusantara yang memiliki bahasa ajami (non Arab), maka seharusnya melihat kamus bahasa Arab ketika ingin mengetahui makna teks Arab tertentu.

Menurut Mu’jam al-Gani, kata ulama adalah jamak dari kata ‘âlim atau ‘alîm. Kata ‘âlim bermakna: (1) orang yang memiliki pengetahuan dalam bidang agama dan ilmu; dan (2) orang yang memiliki pengetahuan mendalam dan ahli di bidang ilmu-ilmu tertentu. Sedangkan kata ‘alîm bermakna orang yang memiliki pengetahuan di bidang ilmu agama dan dunia dan ahli di dalamnya.

Adapun Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia menyebutkan bahwa kata ulama adalah jamak dari kata ‘âlim yang bermakna: “yang terpelajar, sarjana, yang berpengetahuan, ahli ilmu” (Ahmad Warson Munawwir, 1997: 966). Dengan demikian, dari beberapa literatur Arab tersebut diketahui bahwa kata ulama merujuk kepada orang yang memiliki akal dan pengetahuan (baik di bidang agama maupun dunia), bukan merujuk kepada hewan, tetumbuhan, dan bebatuan yang memang tidak memiliki akal-pikiran.

Ketiga, Sugi Nur tidak memerhatikan tafsir-tafsir terdahulu tentang kata ulama yang terbentang luas dalam literatur tafsir, baik berbahasa Arab maupun berbahasa Indonesia. Dalam hal ini, para ulama tafsir, seperti Imam az-Zamakhsyari, pakar bahasa dan sastra Arab (Tafsir al-Kassyaf, 2009: 886), Ibn Katsir (Tafsir al-Qur’an al-Azhim, hlm. 1554), Ibn ‘Asyur (Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, XXII, 1984: 304-305), Wahbah az-Zuhaili (at-Tafsir al-Munir, XI, 2009: 598-599), dan Hamka (Tafsir al-Azhar, hlm. 5931) menafsirkan kata ulama adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan, terutama dalam hal ketuhanan dan syariat Islam. Sehingga pengetahuan tentang Allah tersebut melahirkan rasa rakut kepada-Nya.

Begitu pula dengan Al-Qur’an dan Terjemahnya versi Departemen Agama Republik Indonesia yang memaknai ulama sebagai “orang-orang yang mengetahui ilmu kebesaran dan kekuasaan Allah.” Dengan demikian, dari beberapa tafsir tersebut diketahuai bahwa istilah ulama hanya terbatas kepada manusia yang berakal dan berpengetahuan (terutama dalam hal ketuhanan dan syariat Islam), bukan hewan, tumbuhan, dan gunung yang memang tidak memiliki akal-pikiran. Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

2 KOMENTAR

  1. Alhamdulillah , Senang sekali dengan adanya website islam seperti bincang syariah ini . Mudahan website ini selalu allah permudah dalam dakwah dan kebaikannya .

  2. […] BincangSyariah.Com – Al-Qur’an surat Fathir (35): 28 menyebutkan secara jelas bahwa: “sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” Beberapa literatur bahasa Arab (seperti Mu’jam al-Gani dan Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia) dan tafsir (seperti Tafsir al-Kassyaf, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, at-Tafsir al-Munir, dan Tafsir al-Azhar) menyebutkan bahwa ulama hanyalah terbatas kepada orang yang memiliki ilmu pengetahuan, terutama di bidang ketuhanan dan syariat Islam. Sehingga binatang, tumbuhan, dan bebatuan tidak termasuk ulama meskipun merasa takut kepada Allah (lihat Tafsir Surah Fathir Ayat 28; Kriteria Ulama yang Takut pada Allah). […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here