Tafsir Surah an-Nur Ayat 6-10; Tragedi Saling Laknat Suami-Istri di Bulan Sya’ban

0
2087

BincangSyariah.Com – Bulan Sya’ban merupakan bulan yang Allah tetapkan sebagai ladang untuk memperbanyak amal kebaikan, keta’atan, ibadah, ampunan, dan keberkahan. Bulan ini dianggap sebagai bulan yang menjanjikan. Bahkan, Rasulullah menyebutkan sebagai bulan yang sering diabaikan manusia, padahal bulan ini merupakan bulan diangkatnya amal-amal manusia menuju Allah swt. (Baca: Kisah Perang Bani Musthaliq, Perang di Bulan Sya’ban)

Di samping keistimewaan bulan Sya’ban di atas, menurut al-Thabari, Abu Hatim dan Ibn Hibban sebagaimana dikutip oleh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Fathul Bari, ternyata bulan Sya’ban merupakan bulan di mana tragedi Li’an (perbuatan saling laknat antara suami-istri, akibat adanya tuduhan zina dari suami) itu terjadi. Tepatnya di akhir masa kehidupan Rasulullah. Meskipun tahun pastinya masih diperselisihkan ulama, tahun 9 atau 10 H.

Sekiranya, ada 2 kisah yang menjadi sebab turunnya Q.S. al-Nur [24]: 6-10,

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ (6) وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (7) وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَنْ تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ (8) وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ (9) وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ (10)

(6) Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), namun mereka tidak memiliki saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah bersumpah empat kali dengan nama Allah, bahwa sesungguhnya ia benar  (dalam tuduhannya). (7) Dan sumpah yang kelima, yaitu laknat Allah atasnya, jika ia termasuk orang-orang yang berdusta. (8) Dan istri itu terhindar dari hukuman apabila dia bersumpah empat kali atas nama Allah bahwa dia (suaminya) benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta. (9). Dan (sumpah) yang kelima bahwa kemurkaan Allah akan menimpanya (istri), jika dia (suaminya) itu termasuk orang yang berkata benar. (10) dan sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu (niscaya kamu akan menemui kesulitan). Dan sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat, lagi Maha Bijaksana.

  1. Kisah Hilal Ibn Umayyah
Baca Juga :  Abdul Qahir al-Baghdadi dan Puncak Penulisan Ilmu Kalam Mutakadimin

Kisah ini terekam dalam Shahih al-Bukhari, Sunan Abu Dawud dan al-Tirmidzi, melalui penuturan Ibn ‘Abbas.

Suatu waktu Hilal Ibn Umayyah menuduh istrinya melakukan zina dengan Syarik Ibn Samha dan membawa persoalan tersebut kehadapan Nabi saw. lalu Nabi saw. bersabda: “Bawalah bukti (empat orang saksi) atau kamu akan dihukum cambuk.” Hilal berkata: “Ya Rasulullah, jika salah seorang dari kita melihat seorang laki-laki lain bersama istrinya, haruskah ia mencari saksi?”, Nabi saw. bersabda: “Bawalah bukti (empat orang saksi) atau kamu yang akan dihukum cambuk.”

Hilal kemudian berkata: “Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku berkata benar dan Allah akan mewahyukan kepadamu suatu ayat yang akan menyelamatkanku dari hukuman cambuk. Lalu turunlah Q.S. al-Nur [24]: 6-10 di atas.

Kemudian Nabi saw. menyuruhnya untuk pergi menjemput istrinya. Hilal pulang dan kembali dengan membawa istrinya. Nabi saw. bersabda: “Allah tahu bahwa salah seorang dari kalian berdusta, jadi siapa diantara kalian yang akan bertaubat?” Kemudian istri Hilal bangun dan bersumpah dan ketika ia akan mengucapkan sumpah yang kelima, mereka (para sahabat) menghentikannya dan berkata: “Sumpah kelima itu akan membawa laknat kepadamu (jika kamu bersalah).”

Ia pun tampak ragu melakukannya, sehingga kami berpikir bahwa ia akan menyerah. Namun kemudian istri Hilal berkata: “Aku tidak akan menjatuhkan kehormatan keluargaku, dan melanjutkan mengambil sumpah. Nabi saw. kemudian bersabda: “Perhatikan ia. Jika ia melahirkan seorang bayi dengan mata hitam, berpantat besar, dan kaki yang gemuk, maka bayi itu adalah anak Syarik Ibn Samha. Di kemudian hari ia melahirkan bayi yang ciri-cirinya seperti yang digambarkan Nabi saw. (terbukti berzina). Maka Nabi saw. bersabda: “Jika persoalan ini tidak diputuskan Allah terlebih dahulu, maka tentu aku akan menjatuhkan hukuman yang berat terhadapnya.”

  1. Kisah ‘Uwaimir al-‘Ajlani
Baca Juga :  Hikmah Pagi: Indahnya Hadir di Bulan Sya'ban

Kisah ini dimuat dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim melalui jalur Sahl Ibn Sa’d al-Sa’idi.

Dikisahkan bahwa Uwaimir al-‘Ajlani datang kepada ‘Ashim Ibn Adi al-Anshari, lalu ia bertanya kepadanya, “Wahai ‘Ashim, bagaimana pendapatmu jika seorang laki-laki menjumpai laki-laki lain bersama isterinya, apakah ia boleh membunuhnya hingga kalian pun juga turut membunuh laki-laki itu? Atau apakah yang mesti dilakukannya? Wahai ‘Ashim, tanyakanlah pertanyaanku ini kepada Rasulullah saw.

Maka ‘Ashim pun menanyakan hal itu kepada Rasulullah saw. dan ternyata Rasulullah saw. tidak menyukai persoalan itu dan mencelanya hingga ‘Ashim pun merasa keberatan. Ketika ia pulang ke rumah keluarganya, ia pun didatangi oleh ‘Uwaimir dan berkata, “Wahai ‘Ashim apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah saw. kepadamu?” Lalu ‘Ashim berkata kepada ‘Uwaimir, “Keberuntungan belum berpihak kepadaku. Rasulullah saw. sangat membenci persoalan yang aku tanyakan.” Maka ‘Uwaimir pun berkata, “Demi Allah, aku tidak akan berhenti sehingga akan aku tanyakan sendiri.”

Akhirnya ‘Uwaimir menghadap Rasulullah saw. di tengah kerumunan orang-orang, ia pun berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda, bila seorang laki-laki menjumpai laki-laki lain bersama isterinya, apakah ia harus membunuhnya sehingga kalian juga akan membunuhnya? Atau apakah yang mesti ia lakukan?” Maka Rasulullah saw. pun bersabda: “Sesungguhnya telah diturunkan ayat terkait denganmu dan juga sahabatmu (isterimu). Pergi dan bawalah ia kemari.”

Sahl (perawi) berkata: “Akhirnya kedua orang suami-isteri itu pun saling melaknat (Li’an), sementara aku berada bersama orang-orang yang ada di sisi Rasulullah saw. Ketika keduanya selesai dari saling melaknat, maka ‘Uwaimir pun berkata, “Jika aku tetap mempertahankannya (tidak cerai), maka aku telah berdusta atas apa yang ia (istri) perbuat, wahai Rasulullah.”

Baca Juga :  Beberapa Kerajaan Islam Lainnya di Andalusia

Akhirnya ‘Uwaimir pun meceraikannya dengan talak tiga sebelum diperintahkan oleh Rasulullah saw.

Dari kedua kisah di atas, para ulama menempuh jalur kompromi untuk menetapkan latar belakang turunnya Q.S. al-Nur [24]: 6-10, di mana keduanya terjadi dalam waktu yang berdekatan. Beda hari, namun jatuh pada bulan yang sama, Sya’ban.

Demikianlah problematika yang terjadi di bulan Sya’ban pada masa Nabi. Bulan ini, selain menyimpan nasehat ibadah, juga terselip masalah. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here