Tafsir Surah an-Nisa Ayat 17; Syarat Taubat Diterima

0
1387

BincangSyariah.Com – Setiap orang pasti mempunyai dosa. Akan tetapi, ada orang yang mau mengakui kesalahan dan dosanya dengan cara bertaubat. Allah Swt. pun akan menerima taubat hamba-Nya yang sungguh-sungguh, dan tidak sampai tiba ajalnya, baru ia mau bertaubat. Allah Swt. berfirman:

إِنَّمَاالتَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيماً حَكِيماً

“Sesungguhnya taubat (diterima) di sisi Allah diperuntukkan bagi orang-orang yang mengerjakan keburukan dengan kebodohan, kemudian mereka bertaubat dalam waktu dekat. Maka mereka itulah yang diterima taubatnya oleh Allah. Allah itu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. an-Nisa:17). (Baca: Kritik Penafsiran Syahrur atas Ayat Istri Membangkang Suami; Tafsir Surah an-Nisa Ayat 34)

Dari ayat di atas, sedikitnya ada dua hal yang perlu dipahami yaitu maksud “dengan kebodohan”dan “dalam waktu dekat.”

Pertama, dikutip dari Tafsir Ibnu katsir arti “dengan kebodohan” dalam ayat di atas adalah semua insan yang melakukan kemaksiatan kepada Tuhan baik disengaja maupun tidak itu dianggap sebagai orang yang bodoh. Anggapan tersebut senada dengan riwayat Abu ‘Aliyah atas apa yang dikatakan para sahabat:

أن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم كانوا يقولون: كل ذنب أصابه عبد فهو بجهالة

Sesungguhnya para sahabat Rasulullah berkata, “Setiap dosa yang menimpa seorang hamba adalah sebab kebodohanya (Tafsir Ibnu katsir, juz 2, vol 235).

Muhammad bin Yusuf dalam karyanya Bahr al-Muhith menampilkan arti “ dengan kebodohan “ dalam ayat di atas:

وقال الكلبي : بجهالة أي لا يجهل كونها معصية ، ولكن لا يعلم كنه العقوبة

“Al-Kalibi berkata: “dengan kebodohan” artinya bukan tidak tahu akan perbuatan buruk itu dosa, akan tetapi dia tidak tahu subtansi sebuah siksaan.”

Ibnu ‘Asyur dalam karyanya al-Tahrir wa al-Tanwir (juz 4, vol 63) mengartikan:

Baca Juga :  Ini Lima Fase Perkembangan Mazhab Syafii

والجهالة تطلق على سوء المعاملة وعلى الإقدام على العمل دون روية

“Kebodohan merupakan keburukan sebuah amal serta menerjangnya tanpa pertimbangan.”

Demikian bentuk taubat dari perbuatan tercela yang diterima bukan berarti amal keburukan yang dilakukan insan dalam keadaan bodoh, melainkan semua perbuatan dosa dapat diampuni dengan bertaubat kepada-Nya sebagai bentuk belas kasihanya Tuhan untuk tidak menyakiti kepada mereka yang bertaubat.

Kedua, taubat dalam waktu dekat. Qatadah memahami arti “dekat” adalah keberadaan insan dalam keadaan sehat.

وقال قتادة والسدي: ما دام في صحته. وهو مروى عن ابن عباس

“Qatadah dan al-Saddi berpendapat (arti dekat) adalah selama seseorang dalam keadaan sehat. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abas”

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyampaikan maksud bertaubat dalam waktu dekat adalah pemberian batas waktu bertaubat bagi para pendosa, yaitu sebelum ruh berada pada tenggorokan.

 ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ، ما لم يُغَرْغر

“Kemudian mereka bertaubat dari waktu dekat.” Artinya sebelum ruh sampai ditenggorokan .

Pendapat ini didukung oleh sebuah hadis riwayat Ibnu Umar:

عن ابن عُمَرَ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “إنَّ الله يَقْبلُ تَوْبَةَ العبدِ ما لم يُغَرغِر”

Dari Ibnu Umar; dari Nabi saw yang bersabda: “Allah itu benar-benar menerima taubat seorang hamba sebelum ruh berada ditenggorokan.”

Dalam Tafsir al-Qurthubi disampaikan:

وقال الحسن أيضا : إن إبليس لما هبط قال : بعزتك لا أفارق ابن آدم ما دام الروح في جسده. قال الله تعالى : “فبعزتي لا أحجب التوبة عن ابن آدم ما لم تغرغر نفسه”

Hasan berkata: sesungguhnya semasa turun (dari langit ke bumi), iblis bertekad, ‘Demi kemuliaan-Mu, aku tidak akan berpaling dari anak Adam selama ruh masih berada dalam jasadnya.’ Allah menjawab, ‘Maka demi kemuliaan-Ku, Aku tidak akan menghalangi taubat anak Adam selama dirinya belum sakaratul maut.” Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here