Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 7-9; Adakah Ciptaan Tuhan yang Tak Sempurna?

1
111

BincangSyariah.Com – Kemampuan sempurna dalam menciptakan segala sesuatu hanyalah dimiliki oleh Allah. Kemampuan tersebut seakan menimbulkan pertanyaan saat dihadapkan dengan ciptaan Tuhan yang berwujud buruk. Allah Swt. berfirman:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ.  ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ . ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Allażī aḥsana kulla syai`in khalaqahụ wa bada`a khalqal-insāni min ṭīn. ṡumma ja’ala naslahụ min sulālatim mim mā`im mahīn. ṡumma sawwāhu wa nafakha fīhi mir rụḥihī wa ja’ala lakumus-sam’a wal-abṣāra wal-af`idah, qalīlam mā tasykurụn (Baca: Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 4-6; Masa Penciptaan Alam Semesta)

Artinya;

(Dia) yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunanya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (Q.S.al-Sajdah: 7-9)

Para ulama tafsir berbeda pendapat dalam mengartikan kalimat sebaik-baiknya sebagaimana disampaikan oleh Imam al-Thabari dalam karyanya Tafsir al-Thabari:

Pertama, sebagian ulama berbijak pada riwayat Ibnu Abbas mengartikanya dengan makna sangat sempurna.

Kedua, pendapat kedua mengarahkan kedalam arti sebaik-baiknya.

Ketiga, sebagian ulama lain mengartikanya dengan makna memberitahu.

Manusia yang dimaksud ialah Adam. Dan Tanah ialah tanah liat, namun Imam al-Razi dalam karyanya Mafatihul Ghaib memberikan pandangan luas bahwa tanah tersebut dapat diarahkan ke dalam arti debu dan air.

Pada ayat di atas, Allah Swt.  memberikan kabar bahwa semua ciptaan-Nya berada pada bentuk dan rupa sebaik-bainya. Dari kabar ini para ulama menampilkan perselisihan dalam menganggap serta mengartikan terhadap ciptaan-Nya yang memiliki rupa kurang baik, seperti halnya kera. Dengan rupanya yang sedikit berkesan buruk, kera (dan sesuatu yang jelek) dianggap oleh ulama berdasarkan  ayat di atas sebagai berikut:

Baca Juga :  Pada Usia Berapa Sebaiknya Orang Tua Memisahkan Tempat Tidur Anak?

Pertama, Ibnu Abbas menganggapnya sempurna. Artinya bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu yang memiliki rupa dan bentuk jelek, merupakan sesuau yang berada dalam keadaan dan rupa yang sempurna sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, seperti halnya dalam masalah kera ia berkata:

أما إن است القرد ليست بحسنة، ولكن أحكم خلقها

“Kera tidaklah baik (bagus) akan tetapi disempurnakan kejadian (bentuk)nya.”

جاء به على ما أراد ، لم يتغير عن إرادته

“Sesuai apa yang dikehendaki-Nya dan tidak berubah dari kehendak-Nya.”

Kedua, sebagian ulama tafsir berdasarkan ayat di atas menganggap bahwa kera atau segala sesuatu yang terkesan memiliki bentuk dan rupa jelek tetap dianggap dan diartikan sebagai hal yang baik (bagus) dengan alasan:

فلم يجعل خلق البهائم في خلق الناس، ولا خلق الناس في خلق البهائم ولكن خلق كلّ شيء فقدّره تقديرا

“Sebab bentuk binatang tidak dijadikan bentuk manusia dan bentuk manusia tidak jadikan bentuk binatang, akan tetapi segala bentuk sesuatu telah diperkirakan oleh-Nya.”

Ulama lain mengalasi:

لأنه لا يقدر أحد أن يأتي بمثله

“Karena tidak seorang mampu mendatangi (menciptakan) sesamanya.”

Imam Abu Hayan al-Andalusi dalam karyanya al-Bahru al-Muhith memberikan alasan lain:

لأنه ما من شيء خلقه إلّا وهو مرتب على ما تقضيه الحكمة. فالمخلوقات كلها حسنة ، وإن تفاوتت في الحسن ، وحسنها من جهة المقصد الذي أريد بها

“Karena sesungguhnya tidak ada sesuatu kecuali menyimpan hikmah, oleh karenanya semua makhluk adalah baik (bagus) walaupun berbeda-beda dalam kebaikan (kebagusan)nya. Dan kebaikan (kebagusan)nya sesuai apa yang dikehendaki-Nya.”

Abi Umamah menceritakan bahwa suatu ketika kami bersama rasul Saw, tiba-tiba bertemu Umar bin Zurarah dari kaum Anshor, ia mencaci pakaianya dan berkata “Ya rasul, aku akan memotong lengan kedua lengan (baju)”. Lalu rasul Saw. berkata:

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 18-20; Kebahagiaan Seorang Mukmin di Akhirat

يا عمرو بن زرارة ان الله أحسن كل شيء خلقه يا عمرو بن زرارة ان الله لا يحب المسبلين

“Hai Umar bin Zurarah, sesungguhnya Allah Swt. menjadikan sebaik-baiknya pada setiap ciptaanya. Hai Umar bin Zurarah, sesunggunya Allah Swt. tidak mencintai orang-orang yang mencaci.”

Berikutnya, ayat di atas memberikan pengertian bahwa nabi Adam diciptakan dari tanah serta keturunanya dari air mani dan disempurnakan oleh-Nya. Dalam arti air seperma tersebut dirubah menjadi segumpal darah lalu menjadi sepotong daging dan dibentuk dan disempurnakanlah anggota tubuhnya semasa masih dalam rahim, lalu Allah Swt. meniupkan ruh untuknya sehingga mampu mendengar, melihat dan mengetahui (berfifkir).

Beberapa hikmah dari ayat di atas yang dapat dipetik oleh para ulama tafsir seperti Wahbah al-Zuhaili dan ulama lain dalam Tafsir al-Munir serta lainya, diantaranya:

Pertama, memberikan ketegasan bahwa Tuhan memiliki kekuasaan yang begitu besar, sebab diantaranya Dia mampu mencipakan Adam dari tanah dan keturunanya dari air yang hina yaitu air mani dengan kuasanya.

Kedua, pada ayat di atas kalimat roh disandarkan kepada-Nya, hal ini memberikan pengertian bahwa tidak seorangpun yang mengetahui hakikat dari roh. Dan Imam al-Baidlawi dalam karyanya Tafsir Al-Baidlawi menyampaikan:

ولأجله قيل من عرف نفسه فقد عرف ربه

Oleh karenanya disebutkan bahwa barang siapa mengetahui dirinya maka ia mengetahui Tuhanya.”

Ketiga, atas diciptakanya manusia, memberikan isyarah bahwa manusia harus memiliki rasa syukur kepada-Nya.

Keempat, disebutkanya pendengaran, penglihatan dan hati secara tartib berurutan, memberikan hikmah bahwa hal pertama kali yang dikuasai manuia ialah pendengaran, sehingga ia mampu mendengar sesuatu lalu memahaminya kemudian ia dapat melihat. Setelah mampu mendengar dan melihat maka ia dapat mengerti dan menemukanya.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 23-24; Pentingnya Sebuah Kesabaran dalam Berjuang

Kelima, pendengaran disebutkan (pada ayat di atas) dalam bentuk kalimat tunggal dan lainya dengan kalimat yang menunjukan arti banyak (jama’), hal ini memberikan hikmah bahwa manusia hanya dapat mendengarkan satu ucapan dalam satu waktu sedangkan penglihatan mampu menembus dua bentuk dalam satu waktu lalu dua bentuk itu masuk kedalam hati.

Keenam, Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsir Ibnu Katsir berkata:

فالسعيد مَنْ استعملها في طاعة ربه عز وجل

“Orang yang beruntung ialah mereka yang menggunakanya (pendengaran, penglihatan dan hati) dalam keta’atan kepada Tuhanya.”

Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here