Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 1-3; Risalah Nabi Muhammad

1
1316

BincangSyariah.Com – Allah Swt. mengawali surah ini dengan penyampaian tetang risalah Nabi Muhammad Saw. dan berfirman:

الم . تَنْزِيلُ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ . أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أَتَاهُمْ مِنْ نَذِيرٍ مِنْ قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ

Alif lām mīm. Tanzīlul-kitābi lā raiba fīhi mir rabbil-‘ālamīn. Am yaqụlụnaftarāh, bal huwal-ḥaqqu mir rabbika litunżira qaumam mā atāhum min nażīrim ming qablika la’allahum yahtadụn (Baca: Pengantar Tafsir Surah al-Sajdah; Nama Lain dan Manfaat Membacanya)

Artinya:

Alif Laam Miim. Turunya al-Qur’an yang tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan semesta alam. Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: “Dia Muhammad mengada-adakanya”. Sebenarnya al-Qur’an itu adalah kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk. (Q.S.al-Sajdah: 1-3)

Alif Laam Miim termasuk huruf-huruf terputus yang berada pada permulaan surah. Sebagian ulama tafsir menganggapnya sebagai hal yang hanya Tuhan yang mengetahuinya sehingga mereka tidak mengartikan dan mengembalikan kepada Tuhan atas artinya. Pemaparan ini dipelopori oleh al-Qurthubi. Berbeda dengan al-Qurthubi, sebagian ulama lain menafsirinya seperti penyampaian dalam Tafsir Ibnu Katsir:

Pertama, Abdurahman bin Zaid menganggap bahwa  Alif Laam Miim termasuk asma’ suwar (nama-nama surah).

Kedua, Mujahid berkata :

الم، وحم، والمص، وص، فواتح افتتح الله بها القرآن

“Alif Laam Miim, Haa Miiim, Alif Laam Miim Shood dan Shood termasuk permulaan yang dibuat permulaan al-Qur’an oleh Allah.”

Ketiga, Alif Laam Miim adalah nama dari beberapa nama Tuhan. Pemahaman ini dipelopori oleh banyak ulama salaf seperti halnya sahabat Ibnu Abbas.

قال: أنا الله أعلم

Ibnu Abbas berkata “(arti Alif Laam Miim) aku Allah yang maha Mengetahui.”

Abu al-‘Aliyah berpendapat bahwa Alif Laam Miim termasuk salah satu dari dua puluh sembilan huruf yang tiap satu persatu dari huruf tersebut adalah permulaan dari nama Allah, mengandung nikmat dan cobaan dariNya dan menyimpan waktu. Isa bin Maryam terheran dan berkata :

Baca Juga :  Profil Abah Anom Suryalaya (2): Relasi Abah Anom dengan Pak Harto

وأعْجَب أنهم ينطقون بأسمائه ويعيشون في رزقه، فكيف يكفرون به؛ فالألف مفتاح اسم الله، واللام مفتاح اسمه لطيف والميم مفتاح اسمه مجيد  فالألف آلاء الله، واللام لطف الله، والميم مجد الله، والألف  سنة، واللام ثلاثون سنة، والميم أربعون سنة

Mengherankan, sebuah kaum yang menyebutkan nama-nama-Nya, hidup dalam rezeki dari-Nya. Maka bagaimana mereka akan mengufurinya sebab Alif adalah permulaan nama “Allah”, Laam permulaan namaNya “Latiif”, dan Miim permulaan namaNya “Majid”. Alif dalam satu tahun, Laam dalam tiga puluh tahun, Miim dalam empat puluh tahun.

Dari perselisihan dalam mengartikan Alif Laam Miim, Ibnu Jarir al-Thabari menyatukan perbedaan pandangan di atas dalam pernyataanya; Menyatukan (pendapat-pendapat tersebut) memungkinkan, (Alif Laam Miim) termasuk nama Allah yang dipakai untuk permulaan surah. Setiap huruf menunjukan nama, sifat  dari beberapa nama dan sifatNya.

ولا مانع من دلالة الحرف منها على اسم من أسماء الله، وعلى صفة من صفاته، وعلى مدة وغير ذلك، كما ذكره الرّبيع بن أنس عن أبي العالية؛ لأن الكلمة الواحدة تطلق على معان كثيرة

“Dapat juga setiap hurufnya menunjukan nama-nama Allah dan sifat-Nya serta waktu dan lain sebagainya seperti penyampaian al-Rabi’ bin Anas dari Abu al-‘Aliyah. Sebab satu kalimat dapat diarahkan ke beberapa arti.”

Tidak ada keraguan padanya” dipahami oleh Ibnu Katsir:

لا شك فيه ولا مرية أنه نزل

“Tidak ada keraguan didalamnya dan tidak ada kebimbangan bahwa sesungguhnya al-Qur’an diturunkan (dari-Nya).”

“Tuhan semesta alam” memiliki arti Tuhan yang menguasai manusia dan jin.

Maksud “Dia Muhammad mengada-adakanya” menururt Imam Ibnu Katsir ialah:

أي: اختلقه من تلقاء نفسه

“Berarti (Muhammad) menciptakanya dari dirinya sendiri.”

Dan “Mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk” dipahami dengan makna :

أي يتبعون الحق

“Mudah-mudahan (Agar) mereka mengikuti yang hak.”

Demikian memberikan arti bahwa sesungguhnya al-Qur’an diturunkan kepada Muhammad, tidak ada keraguan bahwasanya al-Qur’an itu dari sisi Allah SWT serta bukanlah sebuah sya’ir dan sajak dan bukanlah hal yang dibuat-buat sebagai kebohongan oleh Muhammad SAW. Dan Muhammad sebagai sesosok yang memberikan peringatan kepada kaum yang belum mendapatkan peringatan dari orang sebelumnya, agar mereka mengikuti kebenaran.

Baca Juga :  Pengantar Tafsir Surah al-Sajdah; Nama Lain dan Manfaat Membacanya

Ayat di atas (ayat kedua) memiliki arti yang sama dengan awal surah al-Baqarah hanya kedua ayat tersebut memiliki sedikit perbedaan seperti yang dipaparkan dalam al-Tahrir wa al-Tanwir :

لأن تلك السورة نازلة بين ظهراني المسلمين ومن يرجى إسلامهم من أهل الكتاب — وأما هذه السورة فقد جابه الله بها المشركين الذين لا يؤمنون بالإله الواحد ولا يوقنون بالآخرة فهم أصلب عودا، وأشد كفرا وصدودا.

“Karena sesungguhnya surah tersebut (awal surah al-Baqarah) diturunkan di antara kaum muslimin dan orang-orang yang diharapkan keislamanya dari kaum Yahudi. Dan surah ini (ayat ini) sebagai jawaban Allah SWT. kepada kaum Musyrikin yang tidak beriman dengan Tuhan yang tunggal serta tidak meyakini dengan adanya akhirat dan mereka memiliki kekufuran yang lebih keras.”

Ayat di atas sebagai penepis dari perkataan orang kafir; Dan mereka berkataDongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (Q.S.al-Furqan: 5) dan “Dan orang-orang kafir berkata: al-Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakna oleh Muhammad, dan dibantu oleh kaum yang lain.” (Q.S.al-Furqan: 4).

Pada ayat ke-3, kaum yang diperingatkan oleh Muhammad pada ayat di atas ialah mereka kaum Quraisy, mereka adalah kaum yang buta akan baca dan tulis serta tidak ada sosok yang memberikan peringatan kepada mereka sebelum Nabi Muhammad Saw. Hal ini disampaikan oleh Qatadah. Lain halnya dengan Qatadah, Ibnu Abbas berpendapat lain seperti yang disampaikan dalam Tafsir al-Qurthubi:

وقيل : المراد بالقوم أهل الفترة بين عيسى ومحمد عليهما السلام ؛ قاله ابن عباس ومقاتل

“(Disampaikan) bahwa yang dikehendaki dengan kaum (pada ayat di atas) ialah Ahlu Fatrah yang berada di masa antara ‘Isa dan Muhammad Saw. Pendapat ini dipelopori oleh Ibnu Abas dan Muqatil.”

Ibnu ‘Asyur dalam Al-Tahrir wa al-Tanwir memberikan pandangan bahwa kaum yang dimaksud ialah ahli Makkah dan sekitarnya, sehingga dakwah rasul meliputi ahli Yatsrib dan mereka semua adalah bangsa Arab. Dengan demikian bangsa arab yang dimaksudkan ialah orang Quraisy dan penduduk hijaz yaitu Makkah, Madinah dan para qabilah Hijaz seperti qabilah Jadzman, ‘Adnan dan Qahthan.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 28-30; Bertaubat Sebelum Ajal Mendekat

فأما العدنانيون فهم أبناء عدنان وهم من ذرية إسماعيل  –وهؤلاء لم يأتهم رسول منذ تقومت قوميتهم. وأما جدهم إسماعيل بن إبراهيم عليهما السلام فإنه وإن كان رسولا نبيا كما وصفه الله تعالى في سورة مريم فإنما كانت رسالته خاصة بأهله وأصهاره من جرهم ولم يكن مرسلا إلى الذين وجدوا بعده لأن رسالته لم تكن دائمة ولا منتشرة، قال تعالى {وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ} [مريم: 55].وأما القحطانيون القاطنون بالحجاز مثل الأوس والخزرج وطيء فإنهم قد تغيرت فرقهم ومواطنهم بعد سيل العرم وانقسموا أقواما جددا ولم يأتهم نذير منذ ذلك الزمن وإن كان المنذرون قد جاءوا أسلافهم مثل هود وصالح وتبع، فذلك كان قبل تقوم قوميتهم الجديدة.

“Qabilah ‘Adnan adalah anak-anak ‘Adnan, mereka para keturunan Nabi Ismail. Tidak ada rasul yang mendatangi mereka mula bedirinya kaum mereka. Nenek moyang mereka(yaitu) Ismail bin Ibrahim walaupun sebagai rasul dan nabi sebagaimana penyampaian Allah dalam surah Maryam, risalah Ismail dikhususkan untuk keluarga dan kerabatnya dan tidak untuk orang-orang setelahnya sebab risalah Ismail tidak untuk selamanya dan tidak menyebar luas. Allah berfirman “Dan Ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat” (Q.S.Maryam: 55). Qabilah Qahthan ialah mereka yang tinggal di tanah Hijaz seperti kaum Aus, Khazraj dan Thai’, mereka berpisah-pisah serta pecah menjadi beberapa kaum baru setelah ditimpa banjir dan tidak ada sosok yang memberikan peringatan mulai waktu (perpecahan) tersebut walaupun sebelumnya telah hadir seperti nabi Hud, Shalih.”.

Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

  1. […] Allāhullażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā fī sittati ayyāmin ṡummastawā ‘alal-‘arsy, mā lakum min dụnihī miw waliyyiw wa lā syafī’, a fa lā tatażakkarụn. Yudabbirul-amra minas-samā`i ilal-arḍi ṡumma ya’ruju ilaihi fī yauming kāna miqdāruhū alfa sanatim mimmā ta’uddụn. żālika ‘ālimul-gaibi wasy-syahādatil-‘azīzur-raḥīm (Baca: Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 1-3; Risalah Nabi Muhammad) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here