Tafsir Surah al-Rahman Ayat 24-25; Ragam Istilah Perahu dalam Al-Qur’an

0
1401

BincangSyariah.Com – Setelah menyampaikan kekayaan alam yang tersimpan dalam lautan, Allah SWT. berfirman:

وَلَهُ الْجَوَارِي الْمُنْشَآتُ فِي الْبَحْرِ كَالأعْلام

“kepunyaan-Nyalah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung“ (Q.S. al-Rahman: 24)

Sebagai awal pembahasan perlu diketahui arti kata al-Jawari (al-jariyah) pada ayat di atas. Para ahli tafsir memaknainya dengan ‘perahu’. Al-Razi dalam Mafatihul Ghaib menguraikannya sebagai berikut:

أن الله تعالى لما أمر نوحاً عليه السلام باتخاذ السفينة قال وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا ( هود 37 ) ففي أول الأمر قال لها الفلك لأنها بعد لم تكن جرت ثم سماها بعدما عملها سفينة كما قال تعالى فأَنْجَيْناهُ وأَصْحَابَ السَّفِينَة ( العنكبوت 15 ) وسماها جارية كما قال تعالى إِنَّا لَمَّا طَغَا الْمَاء حَمَلْنَاكُمْ فِى الْجَارِيَة ( الحاقة 11 ) – إلى أن قال – فالفلك قبل الكل ثم السفينة ثم الجارية

Sesungguhnya di saat Allah memerintahkan Nabi Nuh membuat perahu, Dia berkata “Buatlah perahu itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami“ (Q.S. Hud: 3).  Penyebutan perahu dengan kata al-Fulki sebab belum tercipta. Kemudian Dia menyebut perahu dengan kata Safinah setelah perahu itu terbentuk sempurna, seperti dalam firman-Nya “Maka Kami menyelamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu“ (Q.S. al-Ankabut: 15). Dia menyebutnya dengan kata al-Jariyah seperti dalam firman-Nya  “Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu, ke dalam bahtera“ (Q.S. al-Haqqah: 11). Maka dari itu al-Fulki ilalah penyebutan (perahu) sebelum tercipta, lalu disebut (setelah tercipta) dengan al-Safinah kemudian al-Jariyah.

Dengan demikian arti kata al-Jariyah pada ayat di atas adalah perahu atau kapal. Ibnu Katsir menyebutkan al-jariyah adalah:

وقوله: { وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَآتُ } يعني: السفن التي تجري في البحر

Baca Juga :  Hamzah bin Abdul Muthallib: Paman Nabi Bergelar Penghulu Orang-Orang Syahid

“Artinya kapal-kapal yang berlayar di lautan“ 

Sementara itu, tafsir al-Siraj al-Munir menyebutkan pengertian al-jariyah sebagai berikut:

{الجواري} أي : السفن الكبار والصغار الفارغة والمشحونة

“ Artinya kapal-kapal besar dan kecil yang tidak bermuatan dan bermuatan“ 

Kemudian dari ayat di atas para ulama tafsir memberikan pemahaman sebagai berikut:

Pertama, keberadaan laut diperuntukkan untuk kapal, yang artinya tidak akan bisa berjalan di atasnya kecuali kapal. Muhammad al-Thahir bin Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir berkata:

السفن الجواري إذ لا يجري في البحر غير السفن

“Kapal-kapal yang berjalan (di atas laut), dikarenakan tidak akan bisa berjalan di atasnya kecuali kapal.“

Kemudian dia kembali menyampaikan:

للتنبيه على أن إنشاء البحر للسفن لا يخرجها عن ملك الله

“(Ayat tersebut) untuk mengingatkan bahwa keberadaan laut untuk kapal adalah milik dan atas kekuasaan Tuhan.“

Imam al-Razi dalam Mafatihul Ghaib menyampaikan:

أن الفلك في البحر لا يملكه في الحقيقة أحد إذ لا تصرف لأحد في هذا الفلك وإنما كلهم منتظرون رحمة الله تعالى معترفون بأن أموالهم وأرواحهم في قبضة قدرة الله تعالى وهم في ذلك يقولون لك الفلك ولك الملك وينسبون البحر والفلك إليه ثم إذا خرجوا ونظروا إلى بيوتهم المبنية بالحجارة والكلس وخفي عليهم وجوه الهلاك يدعون مالك الفلك وينسبون ما كانوا ينسبون البحر والفلك إليه وإليه الإشارة بقوله فَإِذَا رَكِبُواْ فِى الْفُلْكِ ( العنكبوت 65 ) الآية

Kapal di lautan pada hakikatnya tidak ada yang memilikinya sebab tidak ada yang dapat menjalankannya. Mereka menanti rahmat-Nya dan mengakui bahwa harta benda mereka ada pada kekuasaan Tuhan. Dan berkata “Kapal dan semuanya adalah milik-Mu.“ Dan di saat kembali ke rumah, mereka lupa akan kehancuran dan mengaku merekalah pemilik kapal dan lautan. Sebagaimana termaktub dalam ayat “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) ”(Q.S. al-Ankabut: 65).

Kedua, kapal merupakan salah satu benda yang memiliki kemanfaatan besar dalam kehidupan manusia. Dengan adanya kapal mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya seperti mempercepat perjalanan, membawa barang dagangan dan agar mereka dapat bekerja pada daerah lain serta lain sebagainya.  Dan semua kemanfaatan tersebut dari Tuhan. Oleh karenanya Muhammad bin Yusuf yang dikenal dengan sebutan Abi Hayan al-Andalusi dalam karyanya al-Bahru al-Muhith berkata:

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Rahman Ayat 22-23; Tempat Asal Mutiara

إذ كان تمام منفعتها إنما هو منه تعالى ، فهو في الحقيقة مالكها

“Berbagai kemanfaatan kapal adalah dari Tuhan dan pada hakikatnya adalah Milik Tuhan.“
Umairah bin Sa’d berkata:

قال: كنت مع علي بن أبي طالب، رضي الله عنه، على شاطئ الفرات إذ أقبلت سفينة مرفوع شراعها، فبسط على يديه ثم قال: يقول الله عز وجل: { وَلَهُ الْجَوَارِي الْمُنْشَآتُ فِي الْبَحْرِ كَالأعْلامِ }

Aku bersama Ali bin Abi Thalib berada di tepi sungai, tiba-tiba datang kapal yang tinggi layarnya. Kemudian Ali mengulurkan kedua tangannya lalu berkata “Allah berfirman: “Dan kepunyaan-Nyalah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung“ (Q.S. al-Rahman: 24).

Berikutnya Allah berfirman:

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?“ (Q.S. al-Rahman: 25)

Dari ayat di atas Tafsir al-Siraj al-Munir kembali menegaskan:

أبتلك النعم من خلق موادّ السفن والإرشاد إلى أخذها وكيفية تركيبها وإجرائها في البحر وأسباب لا يقدر على خلقها

“ Apakah dengan berbagai nikmat, mulai dari terciptanya bahan pembuatan perahu, petunjuk pembuatan dan cara mengendarainya di lautan serta adanya sebab ( dapat mengapung di atas lautan ) yang tidak dapat diciptakan manusia (akan mendustakannya)?“

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here