Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 4-7: Cara Nabi Dakwah kepada Musyrik Makkah

0
43

BincangSyariah.Com – Surah Al-Muddatstsir merupakan surah peratama yang berisi perintah kepada Nabi Muhammad untuk berdakwah. Karena merupakan perintah berdakwah pertama dalam Al-Qur’an, sehingga Allah memberikan serangkaian cara dalam berdakwah kepada Nabi Muhammad. Juga apa saja yang perlu dipersiapkan ketika mengajak orang musyrik untuk beriman, khususnya kaum musyrik Makkah.

Diksi “cara” dalam tulisan ini bukan berarti langkah demi langkah ketika Nabi berdakwah. Melainkan hanya ungkapan dalam mengambil pelajaran dari surah Al-Muddatstsir 1-7, yang berisi perintah-perintah Allah kepada Nabi Muhammad ketika didustakan kaum musyrik Makkah.

Setelah menyapa Nabi Muhammad dengan sebutan “al-muddatstsir” (orang yang berkemul), Allah merintahkan beliau untuk bangun dari tempatnya berbaring, supaya kemudian memberi peringatan kepada orang-orang musyrik. Allah juga mengajarkan cara untuk memperingatkan mereka, yakni mula-mula dengan mengagungkan Tuhannya sebagai Dzat Yang Maha Esa, serta tiada satu pun sekutu baginya.

Selanjutnya, Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Muddatstsir ayat 4-7;

وَثِیَابَكَ فَطَهِّرۡ ۝  وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ ۝  وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ ۝  وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ ۝

Wa tsiyabaka fathahhir (4) Warrujza fahjur (5) Wa la tamnun tastaktsir (6) Wa lirabbika fashbir (7)

Artinya:

“Dan bersihkanlah pakaianmu! (4) Dan tinggalkanlah berhala! (5) Dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak! (6) Dan karena Tuhanmu, bersabarlah! (7)” [Q.S. Al-Muddatstsir (74): 4-7]

Melalui surah Al-Muddatstsir ayat keempat, “wa tsiyabaka fathahhir”, Nabi Muhammad diimbau untuk menyucikan pakaiannya dari najis. Kemudian apabila ditafsirkan untuk menghindarkan pakaiannya supaya tidak terkena najis, maka cara yang dikemukakan Imam Jalaluddin Al-Mahalli ialah dengan memendekkan pakaian yang beliau kenakan.

Memendekkan pakaian ini bertujuan untuk membedakan diri dari perilaku orang Arab dalam berpakaian pada masa itu. Mereka selalu menjulurkan pakaiannya hingga melewati mata kaki dan disertai dengan perasaan sombong. Padahal terlalu memanjangkan pakaian itu dikhawatirkan lebih mudah terkena najis.

Baca Juga :  Tiga Tipologi Pengetahuan dalam Epistemologi Ibnu Khaldun

Merujuk penelusuran Imam Ibnu ‘Asyur, tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an yang menjelaskan perintah untuk menyucikan pakaian, selain dalam ayat ini. Beliau juga mengemukakan bahwa ayat ini bisa diarahkan kepada makna batin, bukan hanya makna zahirnya.

Jika secara zahir, ayat ini ditafsirkan dengan perintah untuk menyucikan dan menghindarkan pakaian dari najis. Tetapi jika dianggap sebuah majaz, maka makna batinnya ialah perintah untuk menyucikan diri dari sifat-sifat tercela. Selain Imam Ibnu ‘Asyur, penafsiran ini juga dikemukakan oleh Imam Ahmad Ash-Shawi. Penafsiran di atas, didasarkan pada surah Al-Ahzab ayat 33;

إِنَّمَا یُرِیدُ ٱللَّهُ لِیُذۡهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجۡسَ أَهۡلَ ٱلۡبَیۡتِ وَیُطَهِّرَكُمۡ تَطۡهِیرࣰا

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” [Surat Al-Ahzab (33): 33]

Surah Al-Muddatstsir ayat kelima, “warrujza fahjur”, secara khusus memang menjelaskan perintah untuk menjauhkan diri dari berhala yang dijadikan sesembahan oleh orang musyrik. Penafsiran tersebut adalah penafsiran yang dikemukakan oleh Imam Jalaluddin Al-Mahalli, dengan merujuk penafsiran Ibnu Abbas. Tetapi secara umum juga bisa memuat isyarat untuk meninggalkan segala bentuk kemaksiatan. Sebagaimana disebutkan oleh Imam At-Thabari, yang menukil penafsiran Ad-Dhahak.

Melalui redaksi “wa la tamnun tastaktsir”, Nabi Muhammad diimbau agar tidak memberikan sesuatu kepada orang lain, tetapi dengan tujuan supaya mendapatkan balasan yang berlipat ganda. Dalam Hasyiyah Ash-Shawi, disebutkan bahwa Nabi tidak diperkenankan untuk berharap mendapatkan balasan dari orang lain secara mutlak. Baik dengan jumlah yang lebih sedikit dari pemberiannya, setara dengan yang diberikan, apalagi dengan jumlah berlipat ganda.

Dalam Tafsir Jalalain disebutkan bahwa perintah tersebut merupakan kekhususan bagi Nabi. Karena sejatinya beliau diutus untuk berdakwah dengan baiknya etika dan mulianya tata krama. Dalam Tafsir At-Tahrir wat Tanwir juga disebutkan bahwa mengharap ganti atas sebuah pemberian merupakan kebiasaan para penyembah berhala (ahluz zujri), juga mereka yang menyekutukan Allah dengan harta dunia.

Baca Juga :  Cinta Menaklukkannya

Terdapat hikmah di balik pengkhususan ini, sebagimana dijelaskan oleh Imam Ash-Shawi. Nabi Muhammad merupakan khalifah Allah yang paling agung di antara seluruh makhluk-Nya, di dunia maupun di akhirat. Allah telah memberi beliau segala nikmat dan rahasia-Nya, maka segala sesuatu yang beliau persembahkan kepada Allah harus dipandang sedikit. Meski sejatinya banyak. Karena Nabi Muhammad merupakan khalifah Allah Yang Maha Kaya, maka tidak patut bagi beliau untuk mengharap ganti dari orang lain, yang jelas-jelas tidak ada yang lebih kaya dari-Nya.

Setelah mendapat berbagai perintah dari Allah sebagaimana yang disebutkan di atas, Nabi Muhammad kemudian diperintahkan untuk senantiasa bersabar dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan dalam Tafsir Al-Kassyaf, Imam Az-Zamakhsyari menyebutkan bahwa maksud dari sabar di sini ialah sabar atas perilaku buruk orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad Saw.

Belajar dari tafsir surah Al-Muddattsir, dapat diketahui beberapa cara yang dilakukan Nabi Muhammad ketika berdakwah kepada penduduk Makkah pada masa awal turunnya wahyu. Pertama, memperingatkan penduduk Makkah supaya beriman kepada Allah Swt. Kedua, senantiasa mengagungkan Allah Swt. Ketiga, menyucikan jiwa dari sifat-sifat tercela. Keempat, menghindarkan diri dari sesembahan kaum musyrik. Kelima, menjauhkan diri dari sikap terlalu berharap. Keenam, bersabar atas segala cobaan. Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here