Suluk Al-Ghazali: Tempuh Jalan Tasawuf, Al-Ghazali Rela Tinggalkan Jabatan dan Popularitas

0
39

BincangSyariah.Com – Setelah al-Ghazali menguasai ajaran tasawuf dengan cara belajar dan riwayat, ia kemudian meleburkan dirinya sebagai seorang salik. Menurutnya, menjadi seorang salik dalam rangka untuk mencapai kebahagian akhirat haruslah dengan takwa dan menahan diri dari hawa nafsu. Prinsip utamanya adalah memutus keterikatan hati dari dunia dengan menjauhkan diri dari kepentingan duniawi menuju kepentingan ukhrawi dan memfokuskan diri menuju Tuhan. Semua itu tidak akan tercapai kecuali dengan meninggalkan status sosial, harta, kesibukan duniawi dan relasi sosial. (Baca: Suluk Al-Ghazali: Tasawuf Adalah Amal, Bukan Sekadar Ilmu)

Untuk itu, mulailah al-Ghazali mengintropeksi keadaan dirinya. Ia mengakui bahwa dirinya masih tenggelam dalam keterikatan-keterikatan duniawi. Al-Ghazali juga merenungi niatnya dalam mengajar. Ternyata, niatnya dalam mengajar tidak murni karena Allah. Tetapi faktor utamanya adalah mencari kedudukan dan popularitas sehingga al-Ghazali berkeyakinan bahwa dirinya sungguh berada pada tepi jurang yang hampir runtuh. Hampir saja ia terjatuh kalau tidak segera menyibukkan diri dengan memperbaiki keadaan dirinya.

Di sinilah kemudian al-Ghazali mengalami skeptis sampai pada puncaknya. Ia menyadari akan keadaan dirinya yang masih terikat dengan ikatan-ikatan duniawi sehingga ia mempunyai keinginan untuk meninggalkan Baghdad, sebuah kota di mana al-Ghazali tinggal dan menjadi guru besar di Madrasah Nizhamiyah yang menjadi rujukan keilmuan Islam di kota Baghdad pada saat itu. Namun kemasyhuran dirinya, pangkat, popularitas yang dia capai, menjadikannya berat untuk meninggalkan Baghdad.

Pengalaman skpetis itu menyebabkan ia mengalami krisis psikis dan spiritual. Selama enam bulan al-Ghazali mengalami kebimbangan antara meninggalkan Baghdad yang penuh dengan kenyamanan dan tekadnya untuk menempuh jalan tasawuf yang harus meninggalkan pangkat sosial dan kemasyhurannya.

Dalam periode awal krisisnya, tepat pada Bulan Rajab tahun 488 H. di usianya yang ke 38, kebimbangannya sudah sampai pada taraf abnormal, di mana ia tidak dapat berbicara sehingga menjadi kendala ia tidak bisa mengajar. Pernah suatu ketika al-Ghazali berusaha untuk mengajar dalam rangka mengobati kegundahan hatinya. Ia berharap, dengan mengajar akan membuatnya bisa tenang. Tapi usahanya nihil, ia tetap tidak dapat berkata-kata pun sama sekali.

Keadaan demikian membuat kesedihan dalam hati al-Ghazali, sehingga membuatnya tidak mampu mengunyah makanan dan meneguk air. Kenikmatan merasakan makanan sudah hilang darinya. Sampai-sampai dokter pun tidak mampu mengobati penyakit batin yang dialami oleh al-Ghazali. Hal ini membuatnya menjadi gundah yang sangat mendalam.

Dalam keadaan seperti inilah al-Ghazali berpasrah diri kepada Allah. Ia mengadukan ketidakmampuan dirinya dalam menghadapi krisis intelektual dan spiritual yang dialaminya itu. Sehingga kemudian Allah melapangkan hati al-Ghazali untuk meninggalkan pangkat, harta dan koleganya di Baghdad.

Di sinilah al-Ghazali mulai yakin untuk meninggalkan Baghdad. Ia membagi-bagikan seluruh hartanya kecuali sedikit harta yang cukup sebagai bekalnya untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Dengan bekal sedikit harta itu, berangkatlah al-Ghazali menuju Syam. Ia tinggal di sana selama dua tahun. Aktivitasnya hanyalah digunakan untuk ber-’uzlah dan ber-khalwat (menyepi), riyadhah dan mujahadah an-nafs (melatih jiwa), tazkiyah an-nafs (menyucikan jiwa) dengan berdzikir kepada Allah, sebagaimana yang telah ia peroleh dalam kitab-kitab tasawuf yang dipelajarinya.

Ia banyak menghabiskan waktunya dengan beriktikaf di Masjid Damaskus. Sepanjang siang hari ia naik ke menara masjid dan mengunci diri dalam menara itu untuk menyepi. Perjalanannya pun berlanjut ke Baitul Maqdis. Setiap hari ia masuk ke shakhrah; “kubah batu” (sebuah bangunan persegi delapan berkubah emas yang terletak di tengah kompleks Masjid Al-Aqsa) dan mengunci diri di situ, lagi-lagi untuk menyepi. Ia juga menyempatkan diri berziarah ke makam Nabi Ibrahim. Lalu, al-Ghazali mempunyai keinginan untuk menunaikan ibadah haji dan ngalap berkah dari dua kota suci: Mekah dan Madinah, di samping untuk berziarah kepada Nabi Muhammad Saw.

Seusai menunaikan ibadah haji, al-Ghazali merasa rindu kepada keluarga dan kampung halamannya. Maka ia memutuskan pulang ke Thus, sebuah kota kuno di Provinsi Razavi Khorasan, Iran dekat Mashhad. Di sana al-Ghazali juga menjalani ‘uzlah dan khalwat dengan menyibukkan diri membersihkan hati dengan berdzikir kepada Allah. Tetapi di tanah airnya ini, ‘uzlah al-Ghazali tidak se intensif ‘uzlah-nya ketika di Damaskus. Al-Ghazali masih disibukkan dengan urusan keluarga. Tentu ini menggangu kemurnian ‘uzlah-nya. Al-Ghazali hanya bisa fokus dengan ‘uzlah-nya di waktu-waktu tertentu saja.

Keadaan seperti itu ia alami selama sekitar sepuluh tahun. Di masa-masa ‘uzlah inilah al-Ghazali mengalami sebuah pengalaman spiritual yang mengagumkan. Sehingga dengan itu, al-Ghazali meyakini bahwa kaum sufi adalah para penempuh jalan menuju Tuhan. Perjalanan yang mereka lakukan adalah sebaik-baik jalan dan akhlak mereka sesuci-suci akhlak.

Menurut pengalaman yang dialami al-Ghazali, di awal perjalanan, seorang salik akan mengalami keadaan mukasyafah dan musyahadah. Yaitu sebuah keadaan di mana dalam kondisi sadar, seorang salik akan dapat menyaksikan secara langsung malaikat dan arwah para nabi. Ia dapat mendengar suara mereka dan dapat mengambil faidah ilmu dari mereka.

Setelah itu, ia akan naik tingkat ke derajat di atasnya, yaitu ittihad (menyatu) dan hulul (lebur) di hadapan Tuhannya. Pada tingkatan derajat ini, al-Ghazali mengatakan bahwa pengalaman ini bukan lagi menjadi wilayah pembicaraan. Pengalaman seperti ini tidak dapat diungkapakan dengan kata-kata.

Al-Ghazali melantunkan sebuah syair:

فَكَانَ مَا كاَنَ مِمَّا لَسْتُ أَذْكُرُهُ # فَظُنَّ خَيْراً وَلَا تَسْأَلْ عَنِ الخَبَرِ

“pengalaman spiritual yang tidak aku ceritakan ini hendaklah engkau duga bahwa itu adalah baik dan engkau tidak perlu menanyakannya”

Demikianlah perjalanan al-Ghazali dalam menempuh jalan tasawuf. Ia rela meninggalkan jabatan dan popularitas yang itu dianggap sebagai keterikatan dengan duniawi. Hal ini menunjukkan keseriusannya dalam menempuh jalan akhirat sehingga ia dapat sampai kepada kebenaran hakiki yang dicarinya.

Wallahu a’lam.

Note: data tulisan ini diambilkan dari kitab autobiografi al-Ghazali yang ia tulis sendiri, yaitu berjudul al-Munqidz Min adh-Dhalal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here