Suku Kayi: Cikal Bakal Berdirinya Turki Usmani

1
395

BincangSyariah.com – Pasca runtuhnya Daulah Abbasyiah tahun 656 H, Turki Usmani mulai muncul kepermukaan bersama dua kerajaan besar Islam lainnya yaitu Dinasti Safawi di Persia dan Dinasti Mughal di India. Keberhasilan Turki Usamani dalam mengembangkan peradaban dunia cukup menarik perhatian publik internasional kala itu. Padahal, kerajaan ini awalnya hanyalah rombongan keluarga kecil asal suku Kayi yang keluar dari pemukimannya untuk menyelamatkan diri dari serangan bangsa Mongol.

Dalam Tarikh Utsmaniyyin karya Muhammad Suhail Taqush, beberapa tahun sebelum kemunculan Turki Usmani, kawasan Asia Tengah tengah bergemuruh akibat dua peristiwa besar. Pertama, invasi Mongol ke Asia. Mereka berhasil menguasai deretan kawasan di Asia Tengah sehingga memudahkan mereka untuk memengaruhi politik Dinasti Seljuk di timur Anatolia. Kedua, Byzantium tengah membangun kembali kekuatannya setelah Michael VIII Palaliologos sukses merebut kembali Konstantinopel dari kuasa kekaisaran Latin.

Tahun 1220 M, dua bawahan Jengis Khan sang penguasa Mongol tidak hanya menduduki utara China, tapi telah sampai di Turkistan. Kala itu Mongol menganut ajaran Symanisme, sehingga menimbulkan kekhawatiran besar umat Islam di Turkistan. Di sisi lain, di utara Khurasan ada 70.000 pemukiman yang ditinggali sekitar setengah juta muslim Turki. Diantara mereka inilah sebuah keluarga kecil asal suku Kayi menjalani kehidupan.

Mengingat serdadu Mongol telah mendekati pemukiman, para warga muslim ini kemudian mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sebagian mereka menuju utara Irak, barat Iran dan Kaukakus. Sebagian lainnya menyebrangi Iran mendekat ke Anatolia. Sementara suku Kayi sampai di Anatolia. Menurut Muhammad Harb dalam bukunya Al-Ustmaniyyun Fi At-Tarikh wa Al-Hadharah, suku Kayi menghabiskan waktu 10 tahun berkelana dari barat daya Turkistan menuju timur Anatolia dipimpin oleh Gündüz Alp. Sisa dari mereka yang berhasil sampai ke Anatolia berjumlah 4000 orang. Lalu mereka membangun 400 buah kemah di tanah baru itu.

Baca Juga :  Begini Cara Menjamu Tamu yang Baik Menurut Abu Hafshin Al-Hadad

Pada saat itu di kota Erzincan terjadi duel sengit antara Dinasti Seljuk dengan Dinasti Khawarizmi. Awalnya, Khawarizmi adalah bagian dari Seljuk namun melakukan revolusi lalu memerdekan diri. Seljuk hampir menderita kekalahan jika saja suku Kayi tidak membantu mereka. Suku Kayi sendiri tidak tahu menahu soal pertikaian diantara keduanya, mereka hanya membantu pihak paling lemah, kebetulan Seljuk hanya membawa sedikit pasukan.

Raja Seljuk yang berpusat di kota Konya mengetahui bahwa pasukannnya meraih kemenagan atas bantuan suku Kayi. Dan ia mengetahui bahwa suku ini terpisah dari tanah airnya dan tengah mencari sebuah tanah untuk ditempati. Oleh karena itu, sebagai tanda terimakasih ia memberikan sebuah tanah di perbatasan Seljuk dan Byzantium. Sekarang wilayah ini mencakup Elkishir, Bilecik dan Kutahya Turki.

Gündüz Alp meninggal di tahun 1253 M, kemudian digantikan oleh putranya Ertugrul. Ertugrul berhasil menjaga area perbatasan dari gempuran musuh. Sehingga ia diberi gelar si penjaga perbatasan. Menurut para sejarawan bidang Turki Usmani, gelar ini adalah sebuah tradisi kehormatan kesultanan Seljuk yang diberikan kepada seorang kepala suku yang telah menguasai beberapa keluarga dibawahnya.

Meski telah mendapat sebidang tanah dan gelar kehormatan, bagi Ertugrul itu belum cukup. Untuk memperluas area kekuasaanya, ia pun melakukan agresi militer dan berhasil menaklukan sejumlah kawasan Byzantium di Anatolia. Dengan begitu, sekarang ia didaulat sebagai amir, mengepalai sederet wilayah di perbatasan Seljuk Byzantium. Luas wilayahnya melebar drastis, dari awal pemberian Seljuk sekitar 2000 km hingga mencapai 4800 km.  Ertugrul wafat tahun  1281 M atau 1288 M diusia 90 tahun, wilayahnya diwariskan kepada putranya yang masih berusia 23 tahun, Usman sang pendiri Dinasti Turki Usmani.

Baca Juga :  Shalawat Samara (Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah)

Tahun 1304 M, Dinasti Seljuk runtuh. Wilayahnya terbelah dan terbagai kedalam kerajaan – kerajaan kecil. Satu yang paling menonjol diantaranya adalah keluarga Usman. Keluarga ini memiliki segudang pengalaman dalam pertempuran menghadapi Byzantium dan juga memiliki kedekatan khusus dengan Dinasti Seljuk. Melihat Seljuk yang sudah mengundurkan diri, Usman pun memproklamirkan berdirinya Dinasti Turki Usmani. Dan ia sendiri dilantik sebagai Padishah Al Usmaniyah (Raja Keluarga Usman). Adapun kota Iskisiyar dijadikan sebagai ibu kota awal kerajaan ini.

Perlahan tapi pasti kekuatan Usmani mengalami lonjakan drastis. Perluasan ke luar wilayah dan pembangunan dalam negeri terus digenjot. Saat Usman meninggal dunia, luas wilayah Turki Usmani telah mencapai 16.000 km. Jalur menuju laut Marmara pun telah dijajaki. Bahkan tidak tanggung – tanggung dua wilayah penting Byzantium yaitu Iznik dan Bursa juga ikut digempur. Dalam perjalanan berikutnya, Turki Usmani yang dipimpin keluarga Kayi ini mampu terus beradaptasi dan bertahan selama lebih dari enam abad lamanya. Dari fakta ini, tak heran jika sejumlah ahli menyebut bahwa Turki Usmani adalah dinasti Islam yang paling lama berkuasa.

 

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here